Mata Faizzatus Shoimah terlihat sangat fokus. Tangannya dengan lentur terus memantulkan bola basket ke lantai. Setelah menunggu beberapa detik, dia melakukan gerakan cepat untuk melewati satu lawannya. Usai mampu menerobos, dia langsung melakukan lay up shoot untuk memasukkan bola basket ke ring. Usai mencetak angka, dia langsung kembali ke daerahnya untuk menggalang pertahanan.
Begitulah gaya dara yang acap kali disapa Ais itu ketika jalani pertandingan. Dia selalu fokus dan juga serius. Menurutnya, seorang atlet memang wajib untuk konsentrasi sepanjang pertandingan. Apalagi cabang olahraga itu menuntut para atlet untuk terus berpikir cepat.
”Makanya sebelum pertandingan biasanya saya itu melupakan dulu segala masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan basket,” jelas mahasiswi Universitas Airlangga itu. Dia menyebut, fokus bisa untuk menguatkan mental bertanding.
Untuk bisa lebih tenang lagi, Ais mengaku kalau juga acap kali melantunkan surat-surat dalam Alquran sebelum bertanding. ”Sebelum ke lapangan salah satu yang biasa dibaca Al-Fatihah,” papar alumnus SMPN 3 Malang itu.
Aktivis itu disebut membuat lebih percaya diri dan juga bisa fokus. Menguatkan mental disebut jadi hal yang penting biasa dilakukan sebelum pertandingan. Kebiasaan lain yang juga kerap dilakukan adalah dengan memetakan bagaimana kekuatan lawan.
Jadi, dia mencari data-data pebasket yang akan dihadapi. Menurut Ais, dengan hal tersebut saat bermain bisa lebih enak lagi. Sebab, bisa mengetahui bagaimana kekuatan lawan dihadapi. Alhasil, saat bertanding tidak kesulitan untuk melakukan antisipasi. Maklum, sebagai olahraga tim, basket terbilang sangat dinamis dalam setiap pertandingannya.
”Dengan membaca lawan kita tahu harus berbuat apa ketika menghadapi si A atau si B,” kata atlet bertinggi 175 sentimeter itu.
Sebagai seorang pebasket, Ais terbilang atlet yang jempolan. Ada banyak event telah dimenanginya. Seperti di antaranya adalah medali emas Popnas, medali Cyberjaya International, medali emas Youth Basketball Association (YBA) U-16 dan U-19, lalu medali emas Kejurnas U-16, runner-up LA Campus League East Java, dan peringkat satu Pre-Season Srikandi Cup Pekanbaru.
Sedangkan untuk prestasi individu, pebasket kelahiran 13 Desember 2000 itu punya prestasi cukup mentereng. Dia sempat dinobatkan sebagai MVP DBL East Java Series, lalu menjadi DBL All Star dua kali beruntun pada 2017 dan 2018. Berkat prestasinya itu, dia bisa menimba ilmu dari negeri asal basket, di Amerika Serikat.
Ais juga sempat jadi anggota timnas nasket yang bermain di International Basketball Federation (FIBA) U-18. Lalu, National Team Asean School Games, National Team Asian School Basketball Championship. Berkat capaian itu, dia kini juga jadi andalan Jawa Timur untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) 2021/2022. Puncaknya dari semua itu dia kini bisa membantu orang tua. Sebab, Ais sejak SMA sampai kuliah tidak pernah membayar alias mendapatkan beasiswa.
Meski punya prestasi mentereng, awal perkenalan Ais dengan bakset tidak disengaja atau di program khusus. Dia yang sejatinya getol bulu tangkis, pindah dari cabor itu sejak masuk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
”Dulu itu inginnya mencari aktivitas lain di luar sekolah (pelajaran). Terus akhirnya memutuskan masuk ekstrakurikuler basket,” kenang alumnus SMAN 8 Malang itu.
Disebut pilihan ke basket ketika itu sangatlah simpel. Dia melihat cabor itu sebagai olahraga yang seru. Sebab, dimainkan banyak orang. ”Namun saya sadar, mulai basket saat sudah masuk SMP itu terbilang telat. Sebab, teman-teman banyak yang sejak SD,” paparnya.
Hebatnya, dia juga mampu mengejar ketertinggalan pengetahuan, skill, dan teknik basket dari teman-temannya. ”Dulu itu ada pengalaman lucu. Karena kakak tingkat banyak absen kejuaraan, saya dimasukkan untuk jadi pelengkap meski saat itu untuk dribble atau shooting belum sempurna,” paparnya.
Walaupun kewalahan, dia mengaku mendapatkan pengalaman yang bagus. Dia mengetahui bagaimana dunia basket. Dari situ, Ais mengaku kalau dia semakin getol latihan. Tidak jarang menambah latihan sendiri baik itu shooting atau dribble.
”Ketika itu kalau lagi menunggu tim kumpul biasanya latihan dribble. Lalu, ketika usai latihan mengasah shooting,” tuturnya.
Namun, menurutnya, saat itu karena masih duduk SMP, Ais tidak ngeh kalau hal tersebut merupakan latihan tambahan. Baginya, hal itu dilakukan hanya mengusir jenuh menunggu teman-temanya kumpul.
”Sedangkan kenapa sering pulang terakhir, ya karena saya dulu naik angkot, pulangnya bebas. Tapi, juga nunggu ring sepi untuk mengasah shooting,” kata dia.
Dua tahun menekuni basket, bakat Ais tercium pelatih basket tim Porprov Kota Malang. Usai lolos seleksi, pada 2015 dia menjadi bagian tim basket porprov yang berlaga di Banyuwangi. Usai event itu, dia sempat mendapatkan panggilan untuk seleksi PON 2016, namun tidak lolos.
”Walaupun gagal tembus skuad PON, namun saya mendapatkan banyak hal,” terang mahasiswi Administrasi Publik Universitas Airlangga itu.
Dari seleksi PON, Ais mengaku kalau semakin terpacu mengasah kemampuan basketnya. Apalagi saat itu teman seangkatannya mampu terlebih dahulu tembus timnas. ”Jujur, prestasi teman memacu untuk bisa lebih baik,” paparnya.
Terus berlatih dan semakin menyukai basket, membuat dia yang awalnya nol di olahraga tersebut menjadi expert. Bakatnya tidak hanya di lirik tim Provinsi, namun juga nasional. Beberapa event basket luar negeri juga diikutinya. Kini di usia 21 tahun, dara asal Malang itu menjadi salah satu bagian penting tim PON Jawa Timur dan Timnas Indonesia. (gp/c1/abm/rmc)
Editor : Shuvia Rahma