alexametrics
22.6 C
Malang
Wednesday, 23 September 2020

Catatan Corona Update (1): Vaksin Rp 133 T dan “Vaksin McD”

- Advertisement -
- Advertisement -

Sebuah artikel yang dimuat di rubrik kesehatan The Washington Post dan dirilis 27 Agustus lalu, menulis tentang vaksin. Judulnya: These Are the Top Coronavirus Vaccines to Watch. Para penulis artikel itu, telah menelusuri 200 jenis vaksin dalam tahap percobaan, yang ditujukan untuk mengakhiri pandemi virus korona. Dan ini menurut mereka, merupakan sebuah pencarian ilmiah dalam waktu yang singkat.

Bagaimana tidak. Jika merujuk pada pengalaman sebelumnya, vaksin-vaksin diciptakan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Vaksin untuk gondok butuh 4 tahun (1963-1967). Vaksin polio, butuh waktu 7 tahun (1948 – 1955). Dan vaksin campak, butuh waktu 9 tahun (1954-1963).

Tapi, para peneliti di Amerika mengambil langkah berani, yakni sejak Januari lalu berupaya mengembangkan vaksin virus korona yang hanya membutuhkan waktu 12-18 bulan. Dan ini bisa mencetak rekor dunia. Karena merupakan tingkatan akselerasi dalam hal penciptaan vaksin yang belum pernah terjadi sebelumnya. Untuk biayanya, pemerintah Amerika pun tak tanggung-tanggung. Digelontorkan anggaran hingga 9,5 miliar USD (sekitar Rp 133 Triliun).

Bagaimana tahapan-tahapan dalam pembuatan vaksin di Amerika? Secara garis besar bisa dijelaskan sebagai berikut: Pertama, adalah tahap pra klinis. Untuk tahapan ini, terdapat lebih dari 170 vaksin yang diujikan kepada hewan, dan diuji di laboratorium.

Kedua, tahap 1, yakni sebanyak 7 vaksin diujikan kepada orang-orang dalam kondisi sehat. Ini untuk mengetahui tingkat keamanan dan dosis yang tepat. Ketiga, tahap 2, yakni sebanyak 12 vaksin diperluas. Meliputi uji coba terhadap mereka yang terpapar risiko tinggi penyakit. Keempat, tahap 3, yakni sebanyak 7 vaksin diujicobakan kepada ribuan orang untuk mengetahui keefektifan vaksin serta tingkat keamanannya. Kelima, lolos uji. Pada tahapan ini, belum ada vaksin yang benar-benar bisa dibuktikan memberikan keuntungan lebih banyak daripada potensi risiko yang diketahui.

Pejabat di pemerintahan Amerika memastikan, bahwa semua tahapan ini telah dilalui. Dan di Amerika sangat lah ketat. Sebuah vaksin tidak akan diizinkan beredar, jika tak melalui semua tahapan tersebut.

Di bagian lain, Food and Drug Administrattion (FDA), semacam BPOM-nya Amerika, membuat pernyataan resmi untuk menanggapi berbagai spekulasi soal efektifitas dan keamanan dari vaksin korona. Disebutkan, bahwa sebuah vaksin korona dapat mencegah atau mengurangi gejala pada setidaknya 50 persen dari mereka yang diberikan vaksin. Jadi, belum benar-benar ampuh.

Lantas, bagaimana jika ada vaksin korona dari negara lain yang bisa diproduksi dalam waktu singkat? Salah satunya Rusia yang mengklaim tahun ini sudah berhasil menciptakan vaksin korona yang diberi nama “Sputnik V”. Terlepas dari berbagai kontroversi yang menganggap proses pembuatan vaksin itu tidak melalui tahapan uji klinis yang lengkap, yang jelas, para pejabat di Rusia sangat percaya diri dengan vaksin tersebut. Dan mengklaim sudah ada 20 negara yang memesan vaksin itu.

Memang, dengan semakin maju dan canggihnya ilmu pengetahuan dan teknologi, telah memberikan peluang baru bagi para peneliti dalam menciptakan vaksin virus korona. Para ilmuwan dapat memasukkan zat genetik ke dalam sel tubuh, dan mengubahnya menjadi “pabrik vaksin”.

Sehingga, dengan cara ini, tidak memerlukan tahapan-tahapan yang memakan banyak waktu. Apakah ini berarti, bahwa dalam proses menciptakan vaksin corona, tak perlu membutuhkan waktu bertahun-tahun? Belum pasti juga seperti ini.

Seperti diketahui, bahwa inti dari virus korona adalah garis tunggal Ribonucleic Acid (RNA) yang dikelilingi oleh cangkang protein. Mengapa disebut korona? Karena ada bentuk paku (spike) yang kepalanya menyerupai mahkota (crown). Dalam bahasa latin disebut korona.

Bentuk paku ini disebut dengan protein spike yang mencuat dari intinya. Protein-protein yang berbentuk paku ini bukan hanya sekadar dekorasi tanpa fungsi. Tapi, ini lah bagian paling berbahaya yang memungkinkan virus bisa masuk ke dalam sel-sel dan menggandakan diri.

Ketika vaksin corona dimasukkan ke dalam tubuh, maka cara kerjanya, vaksin tersebut melatih sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan menghadang virus. Vaksin dapat mengaktifkan sel-sel T-helper (T-pembantu) dalam sistem kekebalan, yang berfungsi mendeteksi kehadiran virus. Selanjutnya, sel-sel tersebut memerintahkan Sel B (B-cells) untuk menciptakan antibodi yang menghadang virus, sehingga virus tidak dapat menggandakan diri. Lalu memerintahkan sel pembunuh-T (T-killer cells) untuk merusak sel-sel yang terinfeksi.

Seperti ini lah seharusnya cara kerja vaksin. Tapi, sejauh ini belum ada vaksin yang punya cara kerja sebaik itu. Beberapa vaksin mungkin mengaktifkan hanya sebagian respon kekebalan tubuh tersebut.

Dengan membaca tulisan ini, berharap bisa dijadikan bahan bercermin, untuk membandingkan seperti apa nantinya vaksin made in Indonesia yang saat ini sedang dalam proses pembuatan. Vaksin made in Indonesia ini disebut Vaksin Merah Putih. Hingga tulisan ini dibuat, tahap pengembangannya baru mencapai 40 persen (baca: JP 2 September 2020). Saat ini diklaim sudah memasuki uji klinis fase ketiga.

Pemerintah menargetkan, akan memproduksi massal pada 2022. Berarti masih kurang dua tahun lagi? Berarti, selama dua tahun itu, kita masih harus “bergaul” dengan virus korona?

Makanya, sebelum vaksin benar-benar ada, dan sebelum vaksin benar-benar ampuh terbukti, maka “vaksin” yang paling bagus adalah berubah dan disiplin. Berubah dalam berperilaku sehat. Dan disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan. Dokter Sugiharta Tandya SpPK, salah seorang dokter senior yang terkena covid 19, sempat kritis dan dirawat di ICU, dan akhirnya bisa sembuh dan negative dari covid, menyebut korona adalah penyakit seribu wajah.

Disebut seribu wajah, karena sulit mengidentifikasi obat atau penangkalnya. Maka, dia pun berpesan untuk selalu menerapkan “McD” sebagai “vaksin”. M adalah Masker. Yakni disiplin menggunakan masker. C adalah cuci tangan. Dan D adalah distancing alias selalu menjaga jarak. Jadi, sebelum ditemukan vaksin yang benar-benar ampuh, “vaksin” yang bisa dijadikan pelindung dari tertularnya korona adalah “McD”.

(bersambung/kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp

- Advertisement -

Latest news

PKKMB Uniga, Ajak Maba Tetap Semangat di Tengah Pandemi Covid-19

MALANG – Universitas Gajayana Malang menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun akademik 2020 -2021. Dalam kegiatan yang digelar secara daring dan luring selama tiga hari tersebut, Uniga mengangkat tema Tetap Semangat di Era Pandemi Covid-19, Bersama Uniga Menjadi yang Terdepan dan Berkarakter.
- Advertisement -

PLN UP3 Malang Salurkan 50 Tong Sampah di Pantai Selatan

MALANG - Sebanyak 50 tong sampah dibagikan di daerah wilayah pantai selatan yakni, Pantai Balekambang dan Sendang Biru, kabupaten Malang dalam rangka “Word Clean Up Day 2020”, Selasa (22/9). Sebagai wujud kepedulian PLN terhadap lingkungan sekitar, karena saat ini sampah menjadi masalah serius terutama di daerah wisata terbuka seperti pantai.

Besok Pengundian Nomor Urut, KPU Batasi Tiap Paslon Bawa 12 Pendukung

Ketua KPU Kabupaten Malang Anis Suhartini menambahkan, semua yang hadir dalam kegiatan pengundian nomor urut paslon juga harus mengenakan protap kesehatan. Hal ini juga sudah diatur dalam aturan Pilkada serentak.

Arema FC Kembali Genjot Fisik dan Bangun Chemistry di Pantai

”Kami ingin ada suasana baru pada latihan. Selain juga, ingin semakin meningkatkan fisik dan kebersamaan para pemain,” jelas pelatih kepala Arema Carlos Oliveira kemarin (22/9).

Related news

Malik Fadjar Duluan Milenial

Milenial rekat dengan dunia serba kekinian. Yang muda, modern, teknologi, dan serba kebaruan. Namun apakah orang sepuh juga bisa masuk ranah itu? Bagi saya kenapa tidak. Nyatanya mantan Rektor Universitas Muhammadiyah, (alm) Prof A. Malik Fadjar MSc adalah salah satu sosok yang memiliki karakter kuat diterima oleh semua kalangan.

Move On

ADA tipe manusia yang gampang move on, tapi ada juga tipe manusia yang susah move on. Makna bebas dari move on di sini adalah cepat melupakan masa lalu.

Obat Covid Itu Danazol hingga Vitamin D?

Obat-obatan itu diduga dapat mengobati Covid-19. Di antaranya disebutkan: danazol, stanozolol, dan ecallantide. Obat-obatan ini, kata Jacobson, dapat mengurangi produksi bradikinin dan dapat menghentikan badai bradikinin yang mematikan.

Kematian Covid Rendah pada Perempuan, Why?

Tulisan kali ini masih menyinggung soal bradikinin. Jacobson menyebut bradikinin adalah tingkat kimia pada tubuh yang mengatur tekanan darah. Disebut tingkat kimia, karena bradikinin adalah semacam peptida yang merupakan molekul yang terbentuk dari dua atau lebih asam amino.
- Advertisement -