
Oleh:
M. Zainuddin
Guru Besar Sosiologi Agama UIN Malang, Chairman of Yasmine Foundation
KRISIS keteladanan (role model) di kalangan elite agama merupakan fenomena yang marak di ruang siber. Banyak elite agama yang mengalami penurunan integritas sehingga nilai-nilai yang mereka ajarkan tidak lagi tercermin dalam tindakan nyata. Kondisi ini memicu erosi kepercayaan publik terhadap otoritas keagamaan.
Misalnya, fenomena tokoh agama yang mengaku dapat berkomunikasi dengan malaikat dan Tuhan melalui handphone merupakan klaim yang berlebihan sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat. Demikian pula, ceramah agama di kalangan para dai yang bias (gender, status sosial, dan agama) juga menambah kegaduhan di negeri ini.
Krisis role model di kalangan elite agama tersebut tidak lepas dari dampak gelombang digitalisasi. Sebagaimana dijelaskan oleh Højsgaard dan Warburg dalam Religion and Cyberspace (2005), ruang siber telah mendesentralisasi otoritas keagamaan. Internet meruntuhkan batas-batas hierarki dan membuat umat kini memiliki posisi tawar untuk menilai dan mengkritik, yang pada gilirannya membuat mereka berpaling dari elite agama yang dianggap tidak lagi mencerminkan nilai-nilai luhur di dunia nyata.
Banyak elite agama yang terseret ke dalam kepentingan pragmatis, pertarungan kekuasaan, dan upaya mencari popularitas di media sosial. Sementara itu, mekanisme etik dan kontrol internal oleh lembaga keagamaan masih sangat lemah. Di era media sosial, batas antara figur yang mumpuni secara keilmuan dan yang sungguh-sungguh kompeten (alim) semakin kabur sehingga masyarakat sering terjebak memilih tokoh yang hanya pandai mengemas pencitraan publik ketimbang yang berintegritas.
Munculnya sejumlah kasus pelanggaran etika, hukum, hingga penyimpangan moral yang dilakukan oleh oknum tokoh agama telah mencederai kesucian institusi agama. Mereka juga terjebak dalam produksi narasi provokatif dan politik identitas di ruang publik.
Kesenjangan antara pesan kesederhanaan dan kezuhudan yang dikhotbahkan dengan gaya hidup mewah dan konsumtif juga terlihat nyata di ruang digital. Terjadi kontradiksi antara ortodoksi dan ortopraksis. Masyarakat, terutama Generasi Z, mulai bersikap sinis dan apatis terhadap nasihat keagamaan karena merasa figur panutannya justru tidak lagi dapat menjadi teladan.
Ketika tokoh kehilangan arah dan tidak lagi menjadi panutan, masyarakat awam kebingungan mencari rujukan nilai di tengah kompleksitas zaman. Sebagian orang lantas menarik diri dari lembaga agama formal karena merasa agama sekadar dijadikan alat retorika.


