
Oleh M. Zainuddin
Guru Besar UIN Malang, Chairman of Yasmine Foundation
FENOMENA menarik yang terjadi di kalangan kiai adalah menyangkut keterlibatan mereka di dunia politik praktis. Banyak para kiai yang melibatkan diri terjun ke dunia politik. Oleh sebab itu ketika Gus Dur terpilih menjadi Presiden, pertama kali yang beliau ingatkan kepada para kiai adalah “supaya mereka tidak berebut menduduki jabatan di pemerintahan”. Peringatan Gur Dur itu disampaikan setelah muncul dari banyak kalangan kiai yang telah mendaftarkan diri sebagai calon bupati di beberapa daerah.
Keterlibatan Kiai dalam Politik
Bagaimana mencermati keterlibatan kiai dalam berpolitik? Persoalan keterlibatan kiai dalam berpolitik harus dilihat dalam perspektif “relasi antara Islam dan politik sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, dan secara konseptual bersifat polyinterpretable”. Bahwa pilihan kiai untuk ikut atau tidak terjun ke dunia politik tergantung kepada persoalan konsep tersebut.
Dalam konteks ini, saya lebih suka menggunakan istilah kiai dari pada ulama, karena untuk menghindari kerancuan istilah selama ini. Kiai adalah term sosiologis yang lebih tepat diberikan kepada seseorang yang memiliki pengaruh spiritual di masyarakat atau pesantren dan pada umumnya di pedesaan, tetapi tidak seorang intelektual yang berada di kota. Sementara term ulama adalah khas al-Quran (Fathir:28) yang kadang tidak tepat untuk disandangkan kepada seseorang yang dijuluki kiai.
Dengan begitu, kiai belum tentu seorang ulama atau ‘alim-‘allamah, seperti yang digambarkan dalam al-Qur’an, termasuk perilaku kiai yang selama ini terjun ke dunia politik hanya karena persoalan kepentingan pribadi dan demi legitimasi status quo.
Masalahnya sekarang, bagaimana seharusnya kiai bersikap dalam politik? Lepas dari perdebatan konseptual soal poliinterpretasi terhadap relasi antara Islam dan politik, seharusnya kiai tetap mengemban misi amar ma’ruf nahi munkar. Tentu dengan caranya sendiri sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Inilah tugas yang paling utama seorang kiai dalam melakukan transformasi sosial. Di dalamnya menyangkut persoalan penegakan terhadap keadilan, hak-hak asasi manusia dan demokratisasi serta perlawanan terhadap hegemoni kekuasaan dan segala macam bentuk tirani dan kezaliman.
Memainkan Peran Kiai
Dalam konteks berbangsa dan bernegara, kiai harus berani memainkan peran sebagai civil society yang dapat menjadi kekuatan penyeimbang pemerintah dan kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat, bukan sebaliknya malah menjadi pembela elit penguasa sebagaimana yang telah terjadi selama ini.


