Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pembangunan untuk Kemerdekaan

A
Penulis: Aditya Novrian❯
Kolom Pak Mbois Wahyu Hidayat
Kolom Pak Mbois Wahyu Hidayat

Advertisement

Oleh: Wahyu Hidayat

Kemerdekaan untuk pembangunan. Pembangunan untuk kemerdekaan. Begitu pemahaman saya terhadap apa yang ditulis Amartya Sen, peraih Nobel ekonomi 1998, dalam bukunya Development as Freedom. 

Kemerdekaan yang diupayakan para pendiri bangsa ini, tidak lain dan tidak bukan adalah agar kita bisa berdiri di atas kaki sendiri. Agar kita bisa menentukan nasib sendiri. Tidak diatur bangsa lain yang bahkan hanya ingin mengeksploitasi kekayaan negeri ini untuk memakmurkan negeri mereka. 

Advertisement

Tidak! Tentu tidak bisa demikian. Begitulah yang dipikirkan oleh Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, atau para pendahulu mereka seperti Tjokroaminoto, Dr Sutomo, Tan Malaka, dan yang lain-lain. Pembangunan yang dilakukan oleh penjajah adalah untuk kepentingan mereka sendiri. Kepentingan kolonialisme. Bukan kepentingan bangsa ini. 

Maka, untuk bisa membangun berdasar kepentingan sendiri, bangsa ini harus merdeka. Dengan kemerdekaan, bangsa ini bisa melakukan pembangunan yang tujuannya adalah membebaskan diri dari kemiskinan dan kebodohan. Tanpa kemerdekaan, orang seperti Ir Sutami tidak mungkin membuat karya-karya monumental untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa. 

Itulah yang disebut Sen sebagai development as freedom. Bahwa pembangunan harus mampu memerdekakan manusia. Mampu mewujudkan kebebasan substantif warganya. Bebas dari hambatan hidup seperti kemiskinan, kebodohan, kelaparan, maupun penyakit. Juga bebas untuk menentukan pilihan-pilihan hidup. 

Advertisement

Dengan kebebasan atau kemerdekaan yang diwujudkan oleh pembangunan itu, diharapkan akan muncul partisipasi warga. Sehingga, kemerdekaan itu kembali menjadi daya dorong terhadap pembangunan agar bangsa ini bisa terus dan lebih maju lagi. 

Development as freedom. Freedom as development. Jadi, kata Sen, kemerdekaan adalah tujuan utama sekaligus sarana utama untuk kemajuan. 

Sudah 81 tahun bangsa ini merdeka sejak diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Agustus 1945. Tahun ini, slogan peringatan kemerdekaan yang ditetapkan pemerintah adalah “Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Slogan yang rasanya akan terus relevan sampai kapan pun karena memang begitulah cita-cita kemerdekaan. 

Cita-cita itu harus terus diupayakan perwujudannya oleh pemerintah. Tidak hanya di pusat tapi juga daerah. Tentu saja melalui pembangunan. 

Kembali kepada Amartya Sen, ada lima pilar kebebasan yang menurutnya saling mendukung dan memperkuat proses pembangunan. Yaitu, kebebasan politik, fasilitas ekonomi, kesempatan sosial, jaminan transparansi, dan keamanan protektif. 

Advertisement
Editor : Aditya Novrian

Artikel Terkait

Krisis Role Model Elite Agama di Ruang Siber

Krisis Role Model Elite Agama di Ruang Siber

KRISIS keteladanan (role model) di kalangan elite agama merupakan fenomena yang marak di ruang siber. Banyak elite agama yang mengalami penurunan integritas sehingga nilai-nilai yang mereka ajarkan tidak lagi tercermin d

Ngalam Emas 2045: Ketika Budaya, Perjuangan, dan Teknologi Menemukan Jalan Bersama

Ngalam Emas 2045: Ketika Budaya, Perjuangan, dan Teknologi Menemukan Jalan Bersama

Membangun identitas Malang yang kuat menghadapi Indonesia Emas 2045. Tepatnya, jika dilokalkan, mempersiapkan generasi emas Ngalam 2045 menuju Indonesia Emas.

Ketika Siswa Tinggal Kelas, Apakah Kebijakan Ini Tepat untuk Pendidikan?

Ketika Siswa Tinggal Kelas, Apakah Kebijakan Ini Tepat untuk Pendidikan?

Ketika Siswa Tinggal Kelas

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer