
MALANG KOTA, RADAR MALANG –Tantangan santri pada era digital tak cukup dijawab dengan mempertahankan tradisi keilmuan pesantren. Penguasaan teknologi, peningkatan kompetensi, dan penguatan akhlak juga menjadi bekal penting agar santri mampu mengambil peran dalam pembangunan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Wakil Rektor III Universitas Islam Malang (Unisma) Dr. H. Muhammad Yunus, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa semangat perjuangan santri yang diwariskan melalui Resolusi Jihad harus terus dihidupkan dengan menyesuaikan kebutuhan zaman. Jika dahulu santri dan ulama berjuang mempertahankan kemerdekaan, kini perjuangan itu dapat diwujudkan melalui pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.
Yunus menjelaskan, Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk merefleksikan tiga hal, yakni perjuangan masa lalu, tanggung jawab pada masa kini, serta persiapan menghadapi masa depan.
Momentum masa lalu adalah mengingatkan kembali perjuangan para santri, para ulama, para kiai, dan para syuhada yang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia melalui Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober,” ujarnya.
Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945 menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Seruan tersebut menggerakkan umat Islam untuk melawan kembalinya kekuatan kolonial dan menjaga kedaulatan negara.



