PAUD Arema berada di Jalan Nakula Nomor 11, Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing. PAUD ini berdiri sejak 2010.
Bangunan sekolah memang tidak besar. Juga tidak ada fasilitas tempat bermain seperti perosotan. Namun, selama 10 tahun berdiri, PAUD Arema sudah sering 'menyelamatkan' anak-anak. Terutama yang berasal dari keluarga prasejahtera.
Ya, misi didirikan sekolah ini adalah untuk mengajarkan anak-anak bisa membaca dan berhitung. ”Dari awal kami ingin membuat anak-anak di sini (Polehan) mengenal huruf dan berhitung,” kata salah satu pengelola PAUD Arema, Titin Surhatini, kepada Jawa Pos Radar Malang.
Dia menjelaskan, pada awal berdiri memang tidak sedikit anak-anak, bahkan orang tua, di sekitar PAUD yang tidak bisa membaca. ”Malah dulu sampai ada ibu dari anak yang sekolah di sini juga ikut belajar,” jelas dia. Kondisi ekonomi yang sulit dan masih ada orang tua yang kurang peduli terhadap pendidikan anak-anak menjadi penyebab tingginya buta huruf ketika itu.
Lebih lanjut dia mengaku, Polehan ketika itu memang menjadi salah satu daerah di Kota Malang yang tingkat kemiskinannya cukup tinggi. Sehingga, untuk menyekolahkan anak-anak di tingkat PAUD banyak yang kesulitan. Hal itu diketahui Titin saat melakukan pendataan bersama Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) pada 2010 lalu.
”Dari total 72 RT di Polehan, baru sampai 23 RT yang kami data sudah terjaring 62 anak dari masyarakat prasejahtera yang tidak bisa masuk TK. Namun, usianya sudah masuk kategori sekolah dasar (SD),” tutur perempuan berusia 46 tahun itu. Karena itu, Titin tergerak hati untuk membuat PAUD yang bisa dimasuki anak-anak kurang mampu tersebut.
Awal mula berdiri, PAUD Arema hanya memanfaatkan garasi mobil salah satu warga. Sebanyak 62 anak itu dengan telaten dibimbing sampai mengenal huruf dan angka. ”Karena sempit, dulu harus membagi waktu belajar anak-anak menjadi tiga,” kisah perempuan yang juga Aremanita tersebut.
Mendidik anak-anak dari masyarakat prasejahtera, Titin mengakui, cukup banyak tantangan. Karena memang perserta didiknya bukanlah dari anak-anak ”rumahan”. ”Jadi aktif sekali siswa angkatan pertama PAUD Arema kala itu. Sampai-sampai gurunya sangat terbiasa mendengar umpatan-umpatan kotor dari mulut para murid,” ungkap dia.
Untuk menenangkan siswa itu, ada satu cara. Yakni mengajak anak-anak dengan menyanyi atau membawakan yel-yel Arema yang biasa dinyanyikan Aremania di dalam stadion. ”Biasanya untuk menumbuhkan semangat, sebelum mulai pembelajaran menyanyikan yel-yel Arema yang telah dimodifikasi,” papar Titin.
Selain yel-yel yang dihafal anak-anak, baju Arema juga menjadi solusi saat mereka susah membeli seragam. ”Saking susahnya membeli seragam, anak-anak kami suruh memakai baju Arema saat sekolah,” jelas Titin. Dipilihnya baju Arema itu, dia melanjutkan, karena hampir semua anak memilikinya.
Seiring berjalannya waktu, kondisi susah PAUD Arema ini banyak direspons masyarakat. Donasi juga sesekali diterima sehingga jika dulu anak-anak belajar di garasi, sekarang ini sudah di ruangan yang ada di halaman depan rumah salah satu pengelola PAUD Arema yang lain, Dewi Masita.
”Alhamdulillah kalau dulu di garasi mobil. Sekarang sudah di sini (Jalan Nakula Nomor 11, Polehan),” sambung Dewi. Titin dan Dewi pun akan terus melakukan aktivitas belajar mengajar untuk anak-anak ini sampai nanti tidak ada lagi yang mendaftar di sekolah. ”Kalau sudah tidak ada yang mendaftar, itu artinya masyarakat sudah sejahtera,” pungkas Dewi.
Pewarta: Galih Prasetyo Editor : Mufarendra