KEPANJEN – Sambil menunggu pembangunan gedung sekolah rakyat (SR) di Srigonco rampung, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang memetakan calon siswa. Harapannya, siswa tersedia begitu sekolah beroperasi. Jika tidak ada aral, SR di Srigonco, Kecamatan Bantur beroperasi pada Juli depan.
“Kami mengutamakan anak yang putus sekolah untuk bisa melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat,” ujar Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Malang Pantjaningsih Sri Redjeki di Pendapa Panji beberapa waktu lalu.
Dia mengatakan, sudah ada pembagian tugas antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Untuk pengisian tenaga pendidik dan kependidikan akan menjadi ranah Kementerian Sosial (Kemensos) RI. Sedangkan pengisian siswa-siswinya menjadi ranah masing-masing pemda. “Saat ini kami sedang melakukan pemetaan potensi siswa-siswinya,” katanya.
Berdasarkan hasil pemetaan, warga yang masuk desil 1-2 Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) tercatat 541.493 jiwa. 24 persen di antaranya merupakan anak berusia sekolah.
Sementara jumlah anak putus sekolah di Kabupaten Malang ada 19.355 orang. Sedangkan jumlah anak usia awal masuk sekolah ada 35.395 anak, baik yang aktif maupun tidak aktif. Mereka terdiri dari anak usia 6-7 tahun, 12-13 tahun, dan 15-16 tahun. Namun masih belum ada data pembanding untuk pemadanan.
“Data tersebut sebagai potensi. Selanjutnya, setelah tim melakukan ground check untuk PBI (Penerima Bantuan Iuran) untuk BPJS, akan lanjut pemetaan calon siswa SR,” lanjutnya.
Untuk diketahui, desil yakni pengelompokan rumah tangga berdasarkan tingkat kesejahteraan ekonomi yang dibagi menjadi 10 kelompok sama besar. Dengan urutan desil 1 merupakan 10 persen rumah tangga paling miskin dan seterusnya.
Penentuannya tidak hanya dari penghasilan, tetapi juga kondisi rumah, aset, pendidikan, pekerjaan, pengeluaran, dan indikator sosial-ekonomi lain.
Pada tahun pertama, SR tersebut akan menampung 225 anak dari SD, SMP, dan SMA. Per tingkat ada tiga rombongan belajar (rombel) atau 75 anak. Setiap tingkat dari masing-masing jenjang terdiri atas 25 siswa. Jika ditotal, akan ada 36 rombel. Terdiri atas 18 rombel SD serta masing-masing sembilan rombel untuk SMP dan SMA.
Terkait dengan dipindahkan siswa-siswi dari SR rintisan, pihaknya belum bisa memastikan. “Belum ada keputusan formal mereka akan dipindah, kami akan mengikuti kebijakan berikutnya,” imbuhnya.
Namun jika dipindah, dia menambahkan, siswa-siswi akan melanjutkan ke kelas yang lebih tinggi. Misalnya untuk jenjang SMA, mereka akan langsung masuk ke kelas sebelas. Sebab, saat ini mereka belajar di kelas awal untuk masing-masing jenjang.
Dengan dibangunnya SR, diharapkan rantai kemiskinan dapat terputus. Utamanya di wilayah Malang selatan. Sebab, sekolah tersebut bersifat gratis. Melalui pendidikan yang layak, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) diyakini dapat meningkat. Sehingga lebih mampu bersaing di dunia kerja. (yun/dan)
Editor : A. Nugroho