RADAR MALANG - Kota Malang dikenal sebagai kota di wilayah dataran tinggi yang sejuk dan nyaman.
Identitas ini melekat cukup kuat dan membuat banyak orang tidak menyangka bahwa beberapa kawasan kini justru sering dilanda banjir.
Fenomena ini terlihat semakin nyata dalam beberapa tahun terakhir saat hujan deras menyebabkan air meluap hingga menutup jalan dan masuk ke permukiman. Puncaknya adalah pada hari Kamis (4/12) lalu ketika banjir di beberapa kawasan bahkan mencapai lutut dan menghanyutkan kendaraan yang melintas.
Perubahan kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan. Kamu mungkin juga bertanya-tanya mengapa kota yang dulunya jarang banjir kini menjadi wilayah rawan banjir.
Untuk memahami masalah ini, kamu perlu melihat berbagai faktor yang memengaruhi hal tersebut. Lima penyebab berikut bisa membantu kamu membaca situasi yang sebenarnya dan mengungkap fakta di balik Malang yang semakin rawan banjir.
- Curah Hujan yang Tinggi
Curah hujan di Malang mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Hujan deras dalam durasi yang lama mampu menghasilkan volume air yang sangat besar.
Kondisi ini membuat aliran air menuju sungai atau drainase menjadi terhambat dan memicu luapan di titik tertentu.
Peningkatan curah hujan juga membuat waktu resapan menjadi lebih singkat. Air tidak sempat masuk ke tanah sebelum datang hujan berikutnya.
Situasi ini menyebabkan air tertahan di permukaan dan memperbesar risiko banjir di berbagai kawasan kota.
- Alih Fungsi Lahan
Alih fungsi lahan terjadi seiring berkembangnya permukiman dan aktivitas ekonomi di Malang.
Banyak area yang dulu berupa sawah, kebun, atau tanah kosong kini berubah menjadi bangunan. Kondisi ini menurunkan kemampuan daerah tersebut dalam menahan air hujan.
Ketiadaan ruang terbuka hijau membuat air tidak lagi memiliki tempat untuk meresap secara alami. Hasilnya, air mengalir menuju jalan dan kawasan padat penduduk.
Jika hujan turun dalam waktu lama, banjir pun akan sulit untuk dihindari.
- Berkurangnya Resapan Air
Perlu diketahui bahwa resapan air di Kota Malang mengalami penurunan akibat permukaan tanah yang semakin tertutup material keras.
Trotoar, bangunan, dan jalanan berlapis paving dapat menghalangi air untuk masuk ke dalam tanah.
Ketika resapan berkurang, air yang seharusnya tersimpan di dalam tanah berubah menjadi genangan di permukaan. Jika genangan ini berkumpul dalam jumlah besar dan semakin bertambah tinggi, maka banjir pun akan terjadi dan berpotensi surut dalam waktu yang lebih lama.
- Sistem Drainase yang Tidak Memadai
Selain kurangnya resapan air, saluran drainase yang tidak memadai di Kota Malang juga turut memperburuk kondisi.
Beberapa saluran tersebut tidak mampu untuk menampung debit air yang datang saat hujan lebat. Kapasitas terbatas inilah yang membuat air kemudian meluap ke jalanan hingga pemukiman warga.
Masalah ini juga kerap diperparah dengan adanya tumpukan sampah dan sedimentasi yang mengendap di saluran. Kondisi drainase yang tidak terawat inilah yang membuat aliran air menjadi terhambat.
- Pertumbuhan Penduduk yang Melesat
Pertumbuhan penduduk yang cepat di Kota Malang memicu peningkatan kebutuhan tempat tinggal.
Akibatnya, banyak kawasan baru yang dibangun tanpa perencanaan tata ruang yang matang. Dengan populasi yang terus bertambah, penggunaan lahan pun semakin padat.
Jika tidak diimbangi dengan pengelolaan ruang yang baik, air hujan akan sulit untuk mengalir dengan lancar. Situasi ini yang kemudian juga turut memperparah kondisi banjir yang terjadi di Kota Malang. (kdk)
Editor : A. Nugroho