PROBOLINGGO – Fakta demi fakta baru terus terungkap dalam kasus pembunuhan FAN, 21, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) asal Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo. Penyidik memastikan, pembunuhan tersebut bukan tindakan spontan. Melainkan sudah direncanakan sejak korban dijemput dari Terminal Bayuangga, Probolinggo pada 14 Desember lalu.
Berdasar rekaman CCTV dan keterangan saksi, FAN dijemput kakak iparnya sendiri, Bripka AS. Sebelumnya, korban berangkat dari Malang menggunakan ojek online menuju terminal. Setelah bertemu, korban diajak berkeliling menggunakan mobil sebelum akhirnya disekap.
”Dari hasil penyelidikan, korban masih dalam kondisi hidup saat dibawa berkeliling. Ini menguatkan dugaan adanya perencanaan sebelum pembunuhan dilakukan,” kata Kanit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKP M. Fauzi kepada Jawa Pos Radar Bromo.
Dalam perjalanan tersebut, Bripka AS tidak sendiri. Ia dibantu SY yang kemudian berperan dalam proses pembunuhan hingga pembuangan jasad korban. Polisi mengungkap, keduanya sempat berhenti untuk membeli karung dan helm.
”Awalnya ada rencana membungkus korban dengan karung. Namun rencana itu tidak jadi dilakukan,” jelas Fauzi.
Setelah korban tewas akibat dicekik di dalam mobil, jasad FAN dibuang di saluran air di wilayah Kabupaten Pasuruan. Tidak berhenti di situ, ponsel milik korban juga dikubur di lokasi terpisah untuk menghilangkan barang bukti.
Penyidik juga mengungkap adanya aliran uang setelah pembunuhan terjadi. Bripka AS diketahui memberikan uang sebesar Rp 600 ribu kepada SY. Uang itu disinyalir milik FAN karena pelaku sempat ke ATM untuk menggasak rekening korban.
”Uang itu diberikan setelah peristiwa pembunuhan. Kami masih mendalami motif pemberian uang tersebut,” ujar Fauzi. Hingga kini, penyidik masih mendalami motif di balik pembunuhan keji tersebut. Termasuk relasi keluarga dan konflik yang melatarbelakanginya. (zal/hn/adn)
Editor : Aditya Novrian