SURABAYA – Iklim investasi di Kota Pahlawan yang kondusif membuat investor tak ragu untuk menyalurkan modalnya.
Khususnya bagi investor dari luar negeri.
Pada tahun lalu realisasi penanaman modal asing (PMA) di Surabaya Barat tembus hingga Rp 240 miliar.
Atas raihan tersebut, pemkot memprediksi ada perkembangan lebih pesat.
Bahkan pemkot berani memasang target realisasi PMA di angka Rp 550 miliar.
Untuk menarik pemodal dari luar negeri, pemkot bakal bekerja sama dengan badan koordinasi penanaman modal (BKPM).
Tim Kerja Pengembangan Potensi dan Pengendalian Penanaman Modal DPMPTSP Surabaya Taufiq Ervantri mengatakan, investasi asing di Surabaya Barat terus bertambah.
Capaian tertinggi pada tahun lalu diperoleh sektor perdagangan senilai Rp 130,7 miliar.
Diikuti sektor industri transportasi dan kendaraan bermotor sebesar Rp 62 miliar.
”Kalau total selama setahun PMA di Surabaya Barat mencapai Rp 700 miliar,” jelasnya.
Investor asal Tiongkok menem[1]pati urutan pertama penanam modal di Surabaya Barat.
Nilainya mencapai Rp 92,5 miliar.
Disusul Jepang Rp 80,8 miliar.
Singapura yang sempat mendominasi di triwulan sebelumnya berada di peringkat keenam dengan Rp 10,7 miliar.
”Pemodal Tiongkok ada 33 proyek investasi di barat,” papar Taufiq.
Untuk meningkatkan investasi asing, DPMPTSP akan bekerja sama dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Sebab, pemerintah pusat juga berperan dalam menarik pemodal luar negeri.
Selain itu, kata Taufiq, pihaknya akan menggelar pertemuan dengan perwakilan dagang dari Taiwan hingga Tiongkok untuk membahas potensi investasi di Surabaya.
Dari pertemuan tersebut, dia berharap mampu menarik pelaku usaha asing datang ke Surabaya.
”Kami juga berkoordinasi dengan kedubes dan konjen negara sahabat,” tuturnya.
Koordinator Penanaman Modal DPMPTSP Surabaya Hefli Syarifuddin menjelaskan, investasi di bidang perdagangan barang serta jasa terus berkembang di Surabaya Barat.
Lokasinya di Dukuh Pakis, Sukomanunggal, Wiyung, dan Tandes.
”Ditunjang kemudahan akses dan fasilitas transportasi publik,” ucapnya.
Penambahan PMA, kata Hefli, menunjukkan kepercayaan investor pada pengembangan Surabaya Barat.
Selain perdagangan dan jasa, investasi permukiman juga tumbuh. Lokasinya di Lakarsantri hingga Sambikerep.
Sedangkan di wilayah Benowo dan Pakal mulai bermunculan industri pergudangan baru. (ata/c6/aph/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana