KEPANJEN – Cuaca ekstrem kembali mengintai perairan selatan Kabupaten Malang. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda memperkirakan angin kencang disertai hujan sedang hingga lebat akan terjadi selama sepekan, mulai 10 hingga 17 September. Kondisi ini dipicu gangguan pada lapisan atmosfer.
Fenomena cuaca tersebut berdampak langsung pada potensi gelombang laut tinggi di kawasan selatan Jawa. Satpolairud Polres Malang mengingatkan, gelombang besar ini bisa membahayakan aktivitas nelayan maupun wisatawan. Peringatan diberikan menyusul sejumlah kecelakaan laut yang sempat terjadi.
Dari catatan koran ini, sepanjang Juli lalu setidaknya terjadi dua insiden di kawasan laut Malang Selatan. Salah satunya menimpa seorang pemancing bernama Naridi, 66, yang hilang saat memancing di Pantai Pulau Sempu pada 22 Juli lalu. Sebelumnya, 10 Juli, tiga pemancing remaja hanyut usai dihantam ombak. Satu orang selamat, satu ditemukan meninggal dunia, dan satu lagi hingga kini masih belum ditemukan.
Kasatpolairud Polres Malang AKP Yoyok Supandi mengatakan, pihaknya terus melakukan upaya pencegahan. Salah satunya dengan menyampaikan imbauan rutin kepada nelayan. ”Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah hal-hal yang diinginkan,” ujarnya, kemarin (14/9).
Meski perairan pantai selatan masih terpantau kondusif, Yoyok menegaskan kewaspadaan tetap harus dijaga. ”Aktivitas rutin nelayan tetap berjalan, namun dihimbau mengedepankan kehati-hatian,” tambahnya.
BMKG mencatat, angin dominan bertiup dari timur ke tenggara dengan kecepatan maksimum 11 knot atau 20 kilometer per jam. Ketinggian gelombang laut diperkirakan berada di kisaran 2,2 hingga 2,9 meter dalam beberapa hari ke depan. “Ketinggian gelombang laut berkisar antara 2,2 meter hingga 2,9 meter di beberapa hari ke depan,” jelas Yoyok.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, menyebut bulan ini tergolong kemarau basah. ”Hal itu diperkuat dengan data BMKG yang menyatakan bahwa Hari Tanpa Hujan bulan Agustus hingga September berada di bawah 30 hari,” kata Sadono.
Meskipun hujan terjadi secara sporadis, potensi bencana akibat cuaca ekstrem tetap terbuka. Berdasarkan data BMKG Jawa Timur, curah hujan di beberapa wilayah Kabupaten Malang menunjukkan angka yang cukup tinggi.
Menurut Sadono, potensi hujan deras terjadi jika curah hujan melebihi 200 milimeter. ”Dan itu terjadi di beberapa wilayah Kabupaten Malang, khususnya daerah Malang Selatan yang dekat pesisir,” ungkapnya.
Ia menambahkan, cuaca buruk sangat mungkin memicu kenaikan tinggi gelombang laut. “Gelombang laut juga berpengaruh pada perubahan cuaca yang ekstrem. Tentu hal tersebut perlu diwaspadai oleh nelayan yang pergi mencari ikan,” pungkas Sadono. (yad/adn)
Editor : A. Nugroho