KEPANJEN – Tren tanaman hias kembali mengangkat pamor anggrek asal Kabupaten Malang. Tingginya minat pecinta bunga membuat produksi komoditas ini terus meningkat dalam setahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang menunjukkan, produksi anggrek pada 2024 tercatat 32.191 pot. Angka itu melonjak hampir dua kali lipat pada 2025 menjadi 59.417 pot.
Sentra produksi anggrek tersebar di beberapa kecamatan. Kecamatan Singosari menjadi penyumbang terbesar dengan produksi 22.940 pot. Disusul Kecamatan Lawang sebanyak 16.297 pot dan Kecamatan Wajak 9.035 pot. Di wilayah Singosari, budidaya anggrek berkembang pesat, antara lain di Keenan Orchid Incubation Nursery (KOIN) Desa Ardimulyo dan greenhouse Taman Arjuno di Desa Gunungrejo.
Pemilik KOIN Sri Widarti menyebutkan, di greenhouse miliknya terdapat sekitar 15.000 tanaman anggrek dari berbagai jenis. Namun, produksi didominasi anggrek dendrobium dan anggrek bulan yang saat ini paling banyak diburu pasar.
Menurut dia, tanaman yang dibudidayakan terdiri atas beberapa fase pertumbuhan. Mulai seedling berusia 4–6 bulan, fase remaja 7–18 bulan, hingga tanaman dewasa di atas 18 bulan.
”Kami melihat perkembangan pasar anggrek. Saat ini yang paling diminati memang dendrobium dan bulan,” ujarnya.
Dari sisi harga, anggrek bulan dipasarkan beragam sesuai umur tanaman. Untuk seedling dibanderol sekitar Rp 10 ribu per tanaman, fase remaja Rp 15 ribu, dan tanaman dewasa sekitar Rp 50 ribu. Jika sudah berbunga, harganya bisa mencapai Rp 75 ribu per tanaman.
Sementara itu, dendrobium memiliki rentang harga lebih variatif. Penentunya adalah ID atau hasil persilangan. Semakin bagus ID dan semakin rimbun tanaman dewasa, nilainya bisa melonjak hingga jutaan rupiah per pot.
Dalam proses budi daya, pelaku usaha mulai memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT). Melalui sistem ini, kelembapan dan penyiraman di dalam greenhouse dapat dikontrol otomatis sehingga perawatan lebih presisi dan efisien.
Di sisi lain, Taman Arjuno juga mencatat geliat pasar yang serupa. Petugas Administrasi Taman Arjuno Puji Astutik menyebut, di greenhouse tersebut terdapat lebih dari 4.400 pot anggrek dari sekitar 20 jenis. Di antaranya dendrobium keriting, dendrobium bulat, cattleya, vanda, dan anggrek bulan.
Menurut Puji, preferensi pembeli cukup beragam. Untuk kolektor, dendrobium keriting menjadi primadona. Sedangkan untuk kebutuhan pajangan, anggrek bulan masih paling diminati.
”Kalau kebutuhan koleksi, kebanyakan memilih dendrobium keriting. Itu salah satu produk unggulan kami. Kalau kebutuhan pajangan biasanya anggrek bulan,” jelasnya.
Pemasaran anggrek dari Taman Arjuno kini telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia, baik melalui reseller maupun pembeli langsung. Dalam kondisi normal, penjualan harian mencapai 15–20 tanaman anggrek remaja dengan kisaran harga Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu per tanaman. Tren positif ini membuat pelaku usaha optimistis pasar anggrek Kabupaten Malang masih akan terus tumbuh. (yun/adn)
Editor : Aditya Novrian