Dinonaktifkan Masa Kependudukan Jepang, Kini Jadi Sekolah Islam
Trem pernah jadi nadi ekonomi di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang pada masa kolonial. Tapi semuanya berubah sejak Jepang mencabut relnya. Stasiun yang dulu sibuk, kini berubah jadi sekolah.
TAK banyak warga yang tahu bahwa Kepanjen, ibu kota Kabupaten Malang, pernah memiliki dua stasiun kereta api aktif. Tapi kini yang tersisa hanya Stasiun Kepanjen di Jalan Sultan Agung yang melayani perjalanan ke berbagai kota besar.
Padahal, satu abad silam, di kawasan yang tak jauh dari sana, pernah berdiri Stasiun Trem milik Malang Stoomtram Maatschappij (MS), perusahaan kereta uap swasta peninggalan kolonial Belanda. Stasiun ini memainkan peran penting dalam menghubungkan Kepanjen dengan wilayah agraris di selatan Malang seperti Gondanglegi dan sekitarnya.
Stasiun tersebut berdiri di tepi Saluran Irigasi Molek atau sekitar 400 meter di selatan Stasiun SS (Staatsspoorwegen) yang masih beroperasi hingga kini. Dalam peta Belanda tahun 1919 koleksi Universitas Leiden, terlihat empat jalur rel buntu yang mengarah ke selatan dari titik itu. Jalur ini kemudian mengarah ke Sengguruh, Bumiayu, Desa Kemiri, dan Balearjo, menghubungkan sentra-sentra hasil bumi ke pusat distribusi.
Pembangunan jalur trem ini dimulai pada 10 Juni 1900 oleh MS sebagaimana tercatat dalam buku De Tramwegen op Jawa. Jalur tersebut didesain bukan hanya untuk mengangkut penumpang, tetapi juga hasil-hasil pertanian seperti singkong, karet, tebu, beras, dan buah-buahan yang melimpah dari wilayah pedesaan Kepanjen.
Rel ini juga terhubung dengan jalur angkutan Pabrik Gula Panggungrejo yang sudah beroperasi sejak 1898. Perjalanan dari Kepanjen ke Gondanglegi dilayani tiga kali sehari dengan perhentian di beberapa halte kecil seperti Panggungrejo, Jenggolo, Sengguruh, Bumiayu, hingga Brongkal dan Banjarejo.
”Setidaknya dalam satu kali perjalanan, trem membawa dua gerbong penumpang dan satu gerbong barang, mengikuti standar MS waktu itu. Lokomotifnya menggunakan seri B17 berbentuk kotak dan D11 dengan tender uap tabung luar,” jelas Endiarto Wijaya, pegiat sejarah perkeretaapian di Malang.
Ia juga menyebut, lokomotif-lokomotif tersebut dikelola dari depo di Malang Jagalan dan Gondanglegi. Menurutnya, keberadaan jalur ini sangat penting untuk mendukung aktivitas ekonomi lokal.
”Dalam catatan warga tua yang pernah saya temui, seperti Mbah Satimo dari Sengguruh, trem ini sering kali mengangkut singkong dari ladang-ladang warga. Artinya, trem bukan sekadar alat transportasi, tapi juga bagian dari kehidupan agraris masyarakat Kepanjen waktu itu,” ungkapnya.
Sayangnya, masa operasional jalur ini tidak panjang. Pada 1943, saat Jepang menduduki Indonesia, seluruh rel dari jalur MS di Kepanjen dicabut untuk keperluan pembangunan jalur “Kereta Api Maut” di Sumatra dan Myanmar. Infrastruktur stasiun ditelantarkan. Setelah kemerdekaan, tidak ada upaya dari Djawatan Kereta Api (DKA), cikal bakal PT KAI untuk mengaktifkan kembali jalur tersebut.
Bahkan, bangunan stasiun yang sempat kosong kemudian disalahgunakan. ”Sekitar tahun 1950-an, lokasi itu jadi tempat mangkal PSK. Bangunannya terbengkalai karena tidak digunakan dan tidak dijaga,” kata Endiarto.
Kini, di bekas lokasi Stasiun Trem MS telah berdiri bangunan SMP Islam Kepanjen. Tak ada jejak rel, tiang sinyal, maupun pelat stasiun. Bekas trase rel menuju selatan berubah menjadi gang kecil bernama Gang Sumedang I, yang oleh warga masih dikenal sebagai Kampung Trem. Tidak ada plang kepemilikan PT KAI di sana, menandakan bahwa lahan ini memang sudah lepas dari sistem perkeretaapian nasional.
Menurut Haryo Prasodjo, dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus pemerhati sejarah kereta api, keputusan untuk tidak mengaktifkan kembali jalur ini cukup beralasan. ”Distribusi hasil bumi ke Eropa yang menjadi tujuan utama zaman Belanda sudah terputus setelah kemerdekaan. Jalur perdagangan internasional berubah total, sehingga pengoperasian kembali jalur itu dianggap tidak menguntungkan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa krisis SDM pascakemerdekaan menjadi kendala besar. ”Setelah para teknisi Belanda pergi, kita kekurangan orang yang menguasai teknik perkeretaapian. Sementara SDM lokal saat itu belum siap mengambil alih semua peran teknis,” imbuhnya.
Kini, stasiun yang pernah menjadi simpul penting distribusi hasil bumi di Kabupaten Malang itu hanya tersisa dalam ingatan, peta tua, dan nama jalan. Suara peluit lokomotif yang dulu menyambut pagi warga Kepanjen telah lama bisu, tergantikan hiruk pikuk jalan raya dan aktivitas sekolah. Namun, di balik hilangnya fisik stasiun, sejarahnya masih layak dikenang sebagai bagian dari narasi besar bagaimana transportasi membentuk wajah Kepanjen hari ini. (*/adn)
Editor : A. Nugroho