Ini setelah meraih medali 70 emas, 62 perak, dan 72 perunggu. Karenanya, atlet yang berhasil meraih medali telah disiapkan bonus khusus. Sayangnya sukses ini ternoda. Karena cabang olahraga sepak bola gagal menjadi juara.
Tak hanya itu, sepak bola yang sejak awal digadang-gadang membawa pulang emas, justru kena diskualifikasi. Penyebabnya karena dilaporkan menggunakan pemain yang tidak sah. Atas tindakan tak sportif ini, Pemkot Malang juga tidak tinggal diam. Melalui Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko, dirinya segera melakukan evaluasi khusus pada sepak bola. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada sanksi khusus yang menanti Askot PSSI Kota Malang.
”Tentu sudah menjadi reward, namun untuk kapan (pemberian bonus) ini masih kami bahas bersama KONI (Kota Malang),” terang Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko, kemarin.
Terkait berapa besaran bonus yang diberikan oleh pemkot, Edi masih merahasiakannya. Terpenting bonus tersebut bisa bermanfaat untuk pembinaan atlet. Maka dari itu, pemkot bakal menyiapkan terlenih dahulu penyambutan atlet porprov.
Meski ada bonus menanti, Edi juga memberikan catatan khusus untuk cabang olahraga (cabor) yang gagal mendulang medali. Parahnya, catatan hitam itu dia tujukan langsung ke cabor sepak bola. ”Jadi satu paket, nanti ada bonus plus evaluasi, tapi tentu yang membangun,” tuturnya.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Malang Edy Wahyono. Edy juga telah menyiapkan bonus untuk atlet yang menyumbangkan medali untuk Kota Malang. ”Sudah ada (bonus), tapi saya nggak mau nyebut dulu nominalnya,” kata Edy.
Meski sudah mencapai target, pihaknya tetap melakukan sejumlah evaluasi. Khususnya untuk cabor sepak bola yang tengah ramai dibahas. Evaluasi tersebut menurutnya bukan menyalahkan, namun untuk membangun karakter jujur.
Di tempat lain, Ketua Askot PSSI Kota Malang Haris Tofly sudah siap dengan segala risiko yang diterima ke depannya. Pasca kejadian di Porprov, dia sudah mengevaluasi di internal beberapa waktu lalu. ”Ke depan kami juga melakukan pembinaan lebih intens, serta memilih pemain yang benar-benar asli Kota Malang,” tegasnya.
Haris mengaku sudah melupakan hasil di Porprov. Baginya yang penting ke depan tidak mengulangi kejadian memalukan. Yang malu tidak hanya PSSI Kota Malang saja, melainkan juga nama Kota Malang. (adn/abm) Editor : Mardi Sampurno