Dia melanjutkan pendidikan S2 nya di Monash University, Australia di Program Studi Master of TESOL. Rencananya Hainona akan memulai studi di bulan Februari 2023. Saat pengumuman seleksi kelolosan, Hainona sapaannya masih tercengang dengan hasil yang diperoleh. Dia pun juga tak menyangka menjadi salah satu dari puluhan ribu pendaftar yang beruntung lolos seleksi LPDP. ”Ini pertama kali saya daftar LPDP, makanya sedikit nggak nyangka (bisa lolos). Saya sama sekali tidak punya ekspektasi besar untuk lolos. Padahal yang daftar banyak,” ujar perempuan asal Madura itu.
Hainona mengaku sempat tak percaya diri ketika mengetahui salah satu rekannya yang gagal dalam seleksi beasiswa. Terlebih, dia melakukan submit pendaftaran di hari terakhir pendaftaran. ”Dari situ saya pesimis. Kalau diterima ya Alhamdulillah, kalau nggak diterima ya nggak apa-apa. Tapi ternyata Alhamdulillah banget bisa diterima,” jelas dia.
Pencapaiannya Hainona ini berkat kegigihannya dalam menggapai keinginannya. Ketika menjadi mahasiswa S1 di Unisma beberapa organisasi pun telah Ia ikuti. Salah satunya menjadi Ketua Himpunan Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP, atau lebih dikenal dengan English Student Association (ESA) Unisma di tahun 2017. Ia pun juga pernah menjadi guru bahasa Inggris dalam program Second Language (ESL) Teacher di Orchids the International School, Mumbai, India, tahun 2019-2020. ”Waktu S1 dulu saya ikut organisasi banyak, ada 7 atau 8 organisasi yang saya ikuti. Jadi pengennya pas di kuliah (S2) di Australia tetap aktif ikut organisasi-organisasi yang ada di sana, kalau bisa dan kalau tugas kuliahnya nggak berat,” bebernya.
Lebih lanjut, perempuan yang bercita-cita menjadi dosen itu juga mengaku bersyukur atas capaiannya saat ini. Selain dukungan orang tua, dia juga menemukan tempat yang mengajarkan banyak pengalaman dan motivasi untuknya, yakni kampus Unisma. Dia bahkan menyebutkan banyak dosen Unisma yang telah memotivasinya untuk mengikuti jejak para dosen sebagai lulusan luar negeri. (rof/mas) Editor : Mardi Sampurno