MALANG KOTA – Selain karnaval, tradisi yang rutin digelar warga Kelurahan Dinoyo adalah bantengan. Kemarin (18/9), empat kelompok bantengan menyemarakkan bersih desa. Start di balai desa Dinoyo, kelompok bantengan menyusuri beberapa titik.
Empat kelompok bantengan yang tampil adalah Gempol Singo Menggolo dari Dinoyo, Banteng Pancasona dari Karangbesuki, dan Satrio Bumi Arema Selo Kerto dari Dau (Kabupaten Malang), dan Bantengan Joyo Aji dari Merjosari.
Sesepuh bantengan Joyo Aji, Pairi mengatakan, bantengan digelar sebagai pelengkap bersih desa. Tujuannya agar warga setempat senang dan semakin ramai. "Dalam kesenian bantengan dimulai dengan gerakan pencak silat baru bantengan. Lalu diiringi lagu-lagu seperti salawat nabi," kata dia.
Kegiatan ini, lanjut Paeri, sudah rutin digelar dengan mengundang kelompok komunitas bantengan lainnya. "Selain saat Agustusan, juga peringatan lain. Misalnya memperingati suroan," imbuh dia.
Terkait lokasi pelaksanaan, Paeri menjelaskan, memang digelar tidak jauh dari punden Mbah Aji Singo Menggolo. Dia merupakan tokoh yang babat alas di Dinoyo. "Di punden, warga juga melakukan ritual bersih desa. Mulai dari tumpengan hingga kirim doa," terangnya.
Pairi berharap, ke depan kesenian bantengan maupun ritual bersih desa terus dilakukan. Dengan demikian, kebudayaan lokal tidak tergerus oleh budaya-budaya luar. "Karena di Kelurahan Dinoyo sendiri cukup banyak kebudayaan lokal. Antara lain bantengan dan kuda lumping," bebernya.
Sementara itu, Tutut Indah Wahyuni dari kelompok bantengan Pancasona menambahkan, kali ini dia membawa 100 personel dalam satu tim. ”Kalau bantengan yang kami tampilkan karakternya beraneka macam. Seperti macan, sapi, dan banteng punuk," ucapnya. (mel/dan)
Editor : Mahmudan