MALANG KOTA - Perbaikan jalur rel kereta api di Jalan Halmahera (Jagalan) sempat terhenti selama beberapa saat kemarin (12/11).
Penyebabnya, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) menemukan sisa badug atau jalur darurat kereta.
Bentuknya seperti potongan rel kereta api yang tertanam di bawah tanah.
Ketua TACB Kota Malang Rakai Hino Galeswangi mengatakan, kemarin dirinya memang berkunjung ke Jagalan.
Saat berkeliling di sekitar rel yang kini digunakan untuk jalur kereta api BBM, dia melihat sisa badug.
Panjangnya sekitar 30 sentimeter.
”Memang tidak besar dan tampak seperti potongan, tapi kalau digali kemungkinan besar,” kata dia.
Rakai menjelaskan, jika ditelisik dari sejarahnya, sisa badug itu memiliki keterkaitan dengan jalur trem pada masa lampau jurusan JagalanStasiun Blimbing.
Jalur tersebut membentang mulai Jagalan, Kajoetangan Heritage, depan PLN, depan RSUD dr Saiful Anwar (RSSA), hingga Stasiun Blimbing.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa dulu memang ada jalur trem milik Malang Stoomtram Maatschappij (MSM).
Yakni perusahaan swasta yang menyediakan pelayanan pengoperasian trem.
Tujuannya untuk mengangkut gula menuju stasiun, lalu diangkut dengan kereta api ke Surabaya.
Tak hanya gula, trem itu juga mengangkut komoditas lain seperti kopi.
Jalur tersebut dibangun pada 1901 dan berhenti beroperasi memasuki tahun 1940.
”Atas temuan ini, kami berupaya agar bagian badug yang masih tersisa tidak ditutup,” terang Rakai.
Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang untuk bersurat ke PT KAI Daop 8 Surabaya.
TACB juga berencana melakukan kajian lebih lanjut dan memperjuangkan sisa badug itu memiliki SK sebagai struktur cagar budaya.
Sementara itu, salah seorang pekerja dari PT KAI Daop 8 Surabaya bernama Wahyu menjelaskan, pihaknya sedang melakukan pengerjaan pembuatan jalur kereta api di Jalan Halmahera (Jagalan).
Sebab, sebelumnya jalur tersebut tertutup oleh permukiman warga.
Saat melakukan penggalian tanah untuk tempat rel, pihaknya menemukan potongan badug yang diduga sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.
”Sementara ini kami biarkan sembari menunggu koordinasi dengan PT KAI Daop 8 Surabaya,” terangnya.
Ketika dikonfirmasi, Manager PT KAI Daop 8 Surabaya Luqman Arif mengaku baru mengetahui temuan badug lama di Jagalan.
”Untuk sementara masih kami teliti dulu,” ucapnya. (mel/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana