MALANG KOTA – Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUB-RSSA bekerja sama dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Malang.
Menggelar program pengabdian masyarakat dengan pelatihan Basic Life Support (BLS) dan kebencanaan di aula SMA 1 Muhammadiyah Kota Malang, Minggu (24/11).
Kegiatan yang diikuti oleh guru dan siswa di sekolah Muhammadiyah se-Kota Malang ini.
Merupakan rangkaian kegiatan Malang Critical Care Meeting 2024 bersama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Malang dan Himpunan Perawat Critical Care Indonesia (HIPERCCI) Jawa Timur.
Yang berkolaborasi dan dalam rangka HUT ke-14 Program studi Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUB-RSSA yang lahir pada tanggal 05 Oktober 2010.
Selain itu, kegiatan ini memperingati World Anesthesia Day yang ke-178 (16 Oktober 1846) dan Milad ke-112 Muhammadiyah (18 November 1912).
Tujuan kegiatan ini adalah bentuk pengabdian masyarakat (pengmas) untuk meningkatkan pemahaman serta kesiapan guru dan siswa khususnya dalam situasi darurat medis yang melibatkan henti jantung dan henti napas, tersedak, serta bencana alam gempa bumi.
Dengan kegiatan ini diharapkan peserta memiliki keterampilan yang diperlukan dalam merespon situasi kritis.
Selagi menunggu bantuan medis datang atau sebelum persiapan menuju ke rumah sakit, sesuai dengan prinsip time saving is a life saving.
Seluruh peserta mendapatkan pelatihan teori serta keterampilan praktis saat menghadapi keadaan darurat, baik kondisi gawat darurat medik berupa henti jantung, sumbatan jalan nafas, misalnya tersedak, serta kondisi bencana alam gempa bumi.
Pelatihan BLS ini, mengacu pada American Heart Association (AHA) Guideline 2020.
Yang merupakan pedoman pelaksanaan kegawat daruratan henti jantung yang telah diaplikasikan secara universal, baik untuk kalangan masyarakat umum maupun tenaga kesehatan terlatih.
DR dr Aswoco Andyk Asmoro SpAn-TI FIP berharap agar masyarakat bisa menjaga kesehatan dengan menerapkan pola hidup sehat, dan tetap bersiap menghadapi kemungkinan situasi gawat darurat.
"Jika berada dalam situasi gawat darurat, guru dan siswa yang sudah mengikuti pelatihan bisa mengaplikasikan ilmunya dengan cepat, tepat, dan cermat. Sehingga dapat meningkatkan angka harapan hidup”, tutupnya. (bes/)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana