Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mendesak, 10 Pasar Rakyat di Kota Malang Butuh Perbaikan

Mahmudan • Selasa, 7 Oktober 2025 | 17:55 WIB
BELUM DIPERBAIKI: Beberapa pedagang di Pasar Besar Malang masih buka, meskipun kios di sekitarnya sudah rusak parah. Untuk perbaikan, pemkot mengandalkan pemerintah pusat.
BELUM DIPERBAIKI: Beberapa pedagang di Pasar Besar Malang masih buka, meskipun kios di sekitarnya sudah rusak parah. Untuk perbaikan, pemkot mengandalkan pemerintah pusat.

MALANG KOTA – Banyak pasar rakyat yang membutuhkan perbaikan, tapi Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tak punya biaya. Tahun ini hanya dijatah Rp 150 juta, padahal Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang mengungkap ada 10 pasar tradisional yang mendesak untuk diperbaiki.

Tahun depan juga tidak memungkinkan menggelontor dana besar. Sebab, dana transfer dari pemerintah pusat juga dipangkas. Berdasar Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBDN 2026, pemkot mengalokasikan Rp 1,5 miliar untuk memperbaiki pasar rakyat.

Meskipun tahun depan ada peningkatan, namun merosot drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada 2021 lalu, pemkot menggelontor dana hingga Rp 7,6 miliar untuk perbaikan empat pasar. Rinciannya, perbaikan Pasar Madyopuro menghabiskan Rp 3,7 miliar, Pasar Gadang Lama Rp 1,7 miliar, dan Pasar Bunulrejo Rp 990 juta. Selain itu, perbaikan Pasar Lesanpuro dijatah Rp 1,3 miliar, dan Pasar Wilis menelan Rp 1,5 miliar.

Kondisi pasar rakyat.
Kondisi pasar rakyat.

Ketua Komisi B DPRD Kota Malang Bayu Rekso Aji menyampaikan, penyusutan dana transfer tahun depan berimbas pada anggaran perbaikan pasar yang terbatas. Dengan mempertimbangkan program lainnya, dana perbaikan yang disetujui hanya Rp 1,5 miliar.

Dengan minimnya dana tersebut, Bayu mengatakan, tahun depan tidak akan dilakukan revitalisasi besar. Dana Rp 1,5 miliar itu akan dibagi ke beberapa pasar. ”Melihat anggaran tahun depan sepertinya belum bisa revitalisasi total. Hanya pelaksanaan perbaikan,” ujar Bayu kemarin (6/10). Perbaikan yang bisa dilakukan meliputi tiga hal. Yaitu perbaikan talang, saluran drainase, dan jalan pasar.

Disinggung mengenai pasar mana saja yang akan diperbaiki, dia belum memastikan. Menurut dia, ada tiga pasar yang mendesak butuh perbaikan, yakni Pasar Besar, Pasar Tawangmangu, dan Pasar Blimbing. Untuk revitalisasi Pasar Blimbing sudah dikerjasamakan dengan investor, sehingga tidak merepotkan APBD. Problemnya, hingga kini belum direvitalisasi lantaran belum ada kesepakatan antara investor dengan pedagang. Pedagang menolak direlokasi dengan dalih tidak sepakat dengan siteplan yang didesain oleh investor.

Pemkot sudah mengonsultasikan persoalan tersebut ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. "Kami masih menunggu surat balasan dari BPK apakah ada diskresi perbaikan Pasar Blimbing. Karena pasar tersebut sangat membutuhkan perbaikan," jelas Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Sedangkan untuk Pasar Besar, pemkot sempat mengajukan bantuan revitalisasi. Sempat mencuat kabar bahwa revitalisasi ditanggung Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen-PU) menggunakan APBN, namun tak ada kepastian hingga kini. Tahun depan pemkot akan melakukan perbaikan kecil di Pasar Besar. ”Untuk Pasar Besar ya sama seperti lainnya, direncanakan hanya perbaikan kecil. Untuk revitalisasi total membutuhkan dana dari pemerintah pusat," tandas Bayu.

Pantauan Jawa Pos Radar Malang kemarin (6/10), kondisi Pasar Blimbing semakin memprihatinkan. Pasar yang berdiri pada 1970 itu membutuhkan perbaikan di beberapa bagian seperti jalan hingga atap. Pada bagian jalan, kondisi aspal banyak yang mengelupas dan tidak rata, sementara atap berlubang lebar.

Tiga tahun lalu, pedagang memperbaiki jalan yang berada di sebelah timur. Panjang jalan yang diperbaiki sekitar 50 meter. Selain jalan, juga ada perbaikan atap. "Kalau ditotal, untuk dua perbaikan itu, kami menghabiskan dana hampir Rp 130 juta," ungkap Ketua Paguyuban Pasar Blimbing Achmad Ali, kemarin (6/10).

Padahal, dia melanjutkan, para pedagang juga tertib dalam membayar retribusi. Nilai retribusi yang dikenakan ke setiap pedagang berbeda. "Paling rendah Rp 3 ribu. Retribusi disetorkan oleh sekitar 1.300 pedagang kepada pemkot setiap hari," imbuh lelaki yang sehari-hari berjualan tempe tersebut.

Kondisi serupa juga berlangsung di Pasar Induk Gadang (PIG). Ketua Paguyuban PIG Jauhari mengatakan, pemkot masih berfokus untuk menata pedagang di sisi timur. Pedagang di sisi timur rencananya akan direlokasi. Padahal pasar yang berada di sisi utara atau pasar sayur juga membutuhkan perhatian. Terutama pada bagian tengah pasar sayur. "Di sana, banyak atap yang bocor," terang Jauhari.

Jauhari menyebut, selama ini perbaikan yang dilakukan pemkot cenderung pada infrastruktur. Misalnya jalan dan drainase. Ada pula beberapa bagian pasar yang diperbaiki secara swadaya oleh para pedagang.

Selain dua pasar itu, Pasar Besar Malang (PBM) juga membutuhkan perbaikan. Perbaikan yang diharapkan pedagang antara lain di lantai 2 yang dulu digunakan oleh Matahari Department Store. Sehingga ke depan bisa dioptimalkan untuk tempat usaha. Juga pengecatan pada bagian luar pasar.

Humas Himpunan Pedagang Pasar Besar Malang (Hippama) Agus Priambodo memaparkan, pihaknya sempat akan mendapat bantuan pengecatan dari salah satu perusahaan cat. Namun batal karena terkendala perizinan dari pemkot. Karena belum ada pemeliharaan, para pedagang sempat berinisiatif memperbaiki secara swadaya. ”Swadaya kami lakukan untuk memperbaiki sebagian tekel di lantai satu dan talang," sebutnya. (adk/mel/dan)

Editor : A. Nugroho
#pasar #Diskopindag #malang #Pemkot #hippama