Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pembunuh Mahasiswa Unitri Masih Buron, Kampus Dijaga Aparat untuk Cegah Sweeping

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Selasa, 27 Juni 2023 | 19:00 WIB

Petugas gabungan dari unsur Polri, TNI, dan Satpol PP berjaga di depan kampus Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri), kemarin siang.
Petugas gabungan dari unsur Polri, TNI, dan Satpol PP berjaga di depan kampus Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri), kemarin siang.
MALANG KABUPATEN - Penyelidikan kasus pembunuhan terhadap Krisnael Murri, 24, mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri), terus berjalan. Sampai kemarin (26/6), polisi belum mengamankan terduga pelakunya. ”Kami masih melakukan pengejaran,” kata Kasat Reskrim Polres Malang Iptu Wahyu Risky Saputro.

Sayangnya, dia tidak merinci berapa terduga pelaku yang masih dikejar. Yang jelas, seperti keterangan sebelumnya, pelakunya diduga berasal dari daerah yang sama dengan korban. Yakni dari Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Seperti diketahui, kasus pembunuhan itu terjadi Minggu dini hari (25/6). Berawal dari pesta kelulusan yang dilakukan di sebuah kafe di Jalan Karyawiguna, Dusun Babatan, Desa Tegalgondo, Kecamatan Karangploso. Pembunuhan itu pun berbuntut panjang.

Sekelompok orang yang diduga rekan-rekan korban tak terima. Mereka melakukan pembakaran terhadap kafe, penyisiran rumah kos, dan perusakan terhadap beberapa kendaraan. ”Kami sudah kami periksa lebih dari 20 orang. Seperti pemilik kafe, teman korban, dan panitia acara (pesta kelulusan),” tambah Kasi Humas Polres Malang Iptu Ahmad Taufik.

Berdasar informasi yang diterima koran ini, Tim Inafis Polres Malang mendapati empat luka robekan di beberapa bagian tubuh korban. Antara lain di bagian punggung, hidung, pelipis, dan mulut.

Sementara itu, dari pantauan wartawan Jawa Pos Radar Malang di kampus Unitri, tampak petugas gabungan masih berjaga. Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Budi Hermanto menyebut bila itu dilakukan untuk mengantisipasi aksi sweeping susulan yang dilakukan oleh teman-teman korban. ”Kami lakukan penjagaan untuk mencegah aksi-aksi susulan yang berpotensi mengganggu kondusivitas,” ucapnya.

Buher-sapaan karibnya juga menyebut bila penjagaan itu bertujuan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat. Seperti banyak diketahui, kasus pembunuhan itu sempat membuat sejumlah warga di Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru waswas.

Rektor Unitri Prof Dr Ir Eko Handayanto mengaku terpukul dengan kabar tersebut. Sebab, tak lama dari kabar itu, salah seorang mahasiswanya juga tewas bunuh diri. Sejauh informasi yang berhasil dihimpun pihak kampus, Eko memastikan tak ada konflik antar-suku dalam kasus tersebut.

Dia menyebut bila pertikaian itu murni karena konflik pribadi antara korban dengan pelaku. Meski begitu, Eko mengaku masih terus mengumpulkan informasi terkait kronologi detailnya. ”Pihak kampus juga akan memanggil teman-teman dekat korban untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap. Ini juga komitmen kami dalam membantu pihak kepolisian dalam melakukan penyelidikan,” kata dia.

Sejauh ini Eko juga belum mendapat identitas pasti siapa pelaku pembunuhan tersebut. Meski begitu, dia memastikan bakal menjatuhkan sanksi tegas apabila pelaku pembunuhan Krisnael merupakan mahasiswa Unitri.

Dia menambahkan, Krisnael merupakan mahasiswa tingkat akhir dari Program Studi (Prodi) Agribisnis angkatan 2018. Mahasiswa yang berasal dari Desa Tema Tana, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya itu tengah berjuang menyelesaikan tugas akhir.

Korban seharusnya lulus tahun lalu. Namun, karena Krisnael tak kunjung mengajukan penelitian skripsi, studinya menjadi molor. Meski begitu, Eko menyebut Krisnael tak punya masalah berarti dalam studinya.

Secara kehadiran, Krisnael termasuk mahasiswa yang aktif. Relasi dengan teman-temannya juga baik-baik saja. Eko menyampaikan, dari informasi terakhir yang disampaikan pihak jurusan, korban sudah mengajukan penelitian untuk skripsinya.

Ke depan, untuk mengantisipasi kejadian serupa terulang lagi, Eko berencana mengaktifkan bimbingan konseling untuk mahasiswanya. Dia memastikan bila pihak kampus juga sudah mengurus segala keperluan untuk pemulangan jenazah korban.

Lima Rumah Warga Landungsari Terdampak

Wartawan Jawa Pos Radar Malang juga memantau kompleks kedai Kampung Kopi di Jalan Karyawiguna, Dusun Babatan, Desa Tegalgondo, Kecamatan Karangploso. Di sana lah awal mula keributan terjadi hingga berujung pembunuhan. Tampak, dua mobil polisi masih disiagakan. Sementara barang-barang seperti serpihan kaca, satu motor, televisi, bangku, hingga meja yang tersisa pasca kerusakan belum dibersihkan oleh pihak berwenang.

Ditemui di kompleks kedai Kampung Kopi, Kepala Dusun Gondang dan Babatan Hermastur mengatakan, kerusakan terjadi di beberapa bagian. Dari tujuh stan yang mengalami kerusakan paling parah. Seperti bangunan utama Kampung Kopi dan stan Komend Coffee. Tak hanya itu, satu motor Honda CBR milik pegawai bernama Muhammad Anas dan mobil Honda Jazz anak kos yang biasa parkir di kafe juga turut menjadi sasaran.

Hermastur melanjutkan, pemilik kedai sempat diberi informasi oleh pemilik stan Komend Coffee bahwa dua minggu sebelumnya ada seorang mahasiswa yang izin untuk mengadakan syukuran dalam rangka wisuda di kedai tersebut. Jumlah yang akan mengikuti syukuran sekitar 100 orang. ”Tapi para pemilik maupun kami selaku perangkat setempat juga tidak menyangka akan begini akhirnya,” kata dia.

Pasca kerusuhan, pemilik kedai belum menghitung nominal kerugian. Namun, kerugian ditaksir mencapai lebih dari Rp 100 juta. Itu belum termasuk motor milik pegawai yang dibakar. ”Padahal kondisi kedai juga belum sepenuhnya pulih pasca pandemi, tapi ada musibah begini,” kata Hermastur.

Pemilik kedai juga belum tahu akan mengambil langkah apa terhadap kompleks kedai yang berdiri tahun 2019 di lahan seluas 870 meter persegi tersebut. Di tempat lain, Sekretaris Desa Landungsari, Kecamatan Dau Sugiyono menyebut bila kerusakan juga terjadi di wilayahnya.

Ada lima rumah warga yang terdampak kerusuhan. Terdiri dari dua rumah di Jalan Tirto Utomo RT 1 RW 4 milik Guntoro dan Ngatemi. Lalu, tiga rumah di Jalan Tirto Rahayu RT 2 RW 5. ”Yang paling parah rumah kos. Kalau tidak salah milik Pak Guntoro. Selain kaca yang pecah, ada lima motor milik anak kos yang juga rusak,” terang Sugiyono.

Kemarin, dia menyebut bila penghuni kos itu sedang menjalani pemeriksaan di kantor polisi. Sementara empat rumah lainnya kebanyakan mengalami kerusakan pada bagian kaca. ”Khusus untuk dua rumah di Jalan Tirto Rahayu milik Pak Sutiyono dan Pak Nur Alim itu atapnya hancur. Sebab, saat kejadian katanya dibuat lari oleh orang-orang yang melakukan sweeping,” terangnya.

Atas kejadian hari Minggu lalu itu, Sugiyono merasa prihatin. Terlebih, kejadian seperti itu bukan yang pertama kali terjadi di Desa Landungsari. Jika dihitung, dalam lima bulan terakhir, dia menyebut sudah ada lebih dari lima kerusuhan antar-warga. Pemicu kerusuhan yang paling sering adalah oknum yang menenggak minuman beralkohol.

”Kami pun juga sudah melakukan sosialisasi kepada para pemilik kos. Namun, mereka juga sulit mengendalikan (penghuninya),” tuturnya. Pihak kantor desa pun juga sudah berkali-kali mengadu ke kampus apabila ada oknum mahasiswa yang melakukan kerusuhan. Namun, menurut dia, respons dari pihak kampus selalu sama. Yakni meneruskan ke bagian kemahasiswaan. Hingga kini, dia menyebut belum ada tindak lanjut yang signifikan. (dre/mel/pri/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#unitri malang #Pembunuhan