Gagap Gempita Penanganan Bencana

Galih R Prasetyo • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 09:36 WIB
Galih R Prasetyo, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang
Galih R Prasetyo, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang

TEPUNG. Bahan baku untuk membuat roti, cakue, sampai bahan adonan pisang goreng itu mendadak jadi buah bibir belakang ini. Pemicunya bukan lagi satire Indonesia Republik Tepung atau harganya tengah melambung tinggi di pasaran. Adalah peryataan dari Kapolri Listyo Sigit yang menyebut zat dari bahan baku tepung sebagai salah satu solusi memadamkan api.

Ide tersebut dia sampaikan saat rakor penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di VVIP Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang Senin lalu (24/8). Menurutnya, zat tersebut bisa mencegah dan memadamkan api. Karena bisa memisahkan 02 dan Co2.

 Baca Juga: Perspektif: Murah Berujung Mahal

Belakang pernyataan jenderal bintang empat itu diamini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dalam rilis lembaga pemerintah itu, Periset Kimia Molekuler BRIN Julinton menjelaskan, penggunaan pati singkong dalam teknologi pemadam memiliki dasar ilmiah. Dapat dikembangkan lebih lanjut. 

Saya pikir inovasi atau ide jadi sesuatu yang sah-sah saja. Apalagi di era sekarang, para penjabat dituntut untuk menunjukkan kinerja. Tapi, apa jadi solusi yang tepat saat karhutla sudah sangat luas, dampak kesehatan dan ekonomi sudah dirasakan masyarakat. Pilihan seperti itu merupakan langkah 'medioker'.

Logika sederhananya, saat roda sepeda motor bocor, pilihan penanganan pertama yang pasti dilakukan orang normal adalah pergi ke tambal ban. Baru setelah itu menggantinya saat sudah tipis atau tak layak pakai supaya tak terjadi bocor lagi. Artinya action menyelesaikan persoalan yang terjadi.

 Baca Juga: Perspektif: Berkelas

Berinovasi dan menciptakan roda yang anti bocor tentunya bukan jadi opsi saat dalam kondisi dalam kondisi itu. Pilihan-pilihan kurang tepat seperti itu tak terjadi sekali dalam penanganan bencana di Indonesia. Sebelumnya Presiden juga menyatakan memilih tak segera datang ke NTT pasca terdampak gempa bumi, karena ingin pejabat-pejabat di daerah bekerja.

”Memang sengaja saya di awal-awal tidak mau datang karena saya mau beri kesempatan semua instansi untuk melayani rakyat langsung,” kata Prabowo yang menyimpan sebuah ironi. Karena dia bisa meluangkan waktu untuk jadi sanksi pernikahan dalam akad nikah Kepala Sekretaris Pribadi. 

Perlu diketahui, korban gempa di NTT tak sedikit. Bahkan, ada balita yang harus kehilangan nyawa di tempat pengungsian. Beberapa daerah di sana ada yang belum tersentuh bantuan saat itu.

Saat di sana, ada beberapa pernyataannya yang lagi-lagi juga tidak tepat. Dalam kondisi pasca gempa, menanyakan kepada sejumlah masyarakat NTT apakah program MBG masih ingin dilanjutkan. Langkah-langkah yang diambil para pemangku kebijakan di negeri ini tak bisa dimungkiri menunjukkan kegagapan dalam menangani bencana. 

Situasi ini menunjukkan penyakit dalam tata kelola bencana. Kecenderungan mencari langkah retoris ketimbang mengeksekusi tindakan terstruktur berbasis data. Padahal kebakaran hutan bukan hal baru, begitu juga gempa bumi. Tinggal di wilayah ring of fire membuat fenomena alam itu sering terjadi.

Lantas, apakah ini jadi bukti mereka tidak pernah belajar? Atau menunjukkan keselamatan warga negara jadi nomor kesekian. Tentunya banyak pertanyaan dan juga jawaban, tapi yang pasti situasi tersebut terus berulang.

Berdasar Teori Manajemen Risiko Bencana dan Mitigasi Bencana. Secara ilmiah, manusia tidak memiliki kuasa penuh untuk menghentikan fenomena alam seperti gempa bumi atau letusan gunung berapi, tetapi manusia bisa memperkecil dampak kerugian dan korban jiwa. Salah satunya melalui persiapan yang matang dan mitigasi.

Assistant Professor of Engineering University of Nottingham Prof Bagus Muljadi dalam satu kesempatan mengatakan, riset mengenai potensi bencana semestinya tidak berhenti sebagai kajian akademik. Menurutnya, sejumlah bencana dapat diprediksi sehingga langkah mitigasi bisa dilakukan lebih awal.

Dia mencontohkan bagaimana pemerintah Inggris menggunakan hasil riset untuk melakukan mitigasi. Pemerintah di sana akan mengirim pesan peringatan ke headphone masyarakat saat ada cuaca panas ekstrem. Diminta tidak melakukan aktivitas memicu api.

Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik menyebut pemerintah sejatinya sudah mengetahui kapan akan terjadi kebakaran hutan. BMKG sudah memprediksi terkait potensi badai El Nino Godzilla tiga bulan sebelum terjadi kebakaran hutan. 

Jepang memberi pelajaran berharga melalui integrasi teknologi earthquake-early warning, standar konstruksi bangunan yang ketat, serta simulasi bencana rutin bagi seluruh lapisan masyarakat. Saat gempa hebat melanda, selalu langsung bergerak otomatis dalam hitungan detik tanpa menunggu drama-drama politik.

Begitu pula dengan Chile yang berhasil mereduksi jumlah korban jiwa dalam Gempa Illapel 2015 berkat kesiapan mitigasi struktural dan sistem evakuasi pesisir. Negara-negara ini membuktikan, keselamatan warga dijamin desain sistem, bukan oleh slogan atau ide dadakan.

​Teori penanganan bencana dari pakar tata kelola krisis David Alexander, penanganan bencana harus mengacu pada tiga pilar utama. Kesiapsiagaan, mitigasi berbasis ilmiah, dan akuntabilitas. Karena itu, perlu rasanya terus mendorong adanya langkah-langkah penguatan dalam penanganan bencana. Bencana di Indonesia adalah kepastian matematis, bukan kejutan tahunan. Mengatasi krisis ini menuntut penghentian segala bentuk kebijakan asbun yang meremehkan inteligensi publik. 

Indonesia memerlukan penguatan kapasitas kelembagaan, pemenuhan anggaran mitigasi yang memadai. Integrasi sains modern dalam setiap rantai pengambilan keputusan. Keselamatan nyawa warga negara terlalu mahal untuk dipertaruhkan. (/*)

Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang
Gagap Gempita SMB karhutla Penanganan bencana