Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Digitalisasi Majalah di MMI Butuh Sabar dan Telaten, Seperti Apa?

Editor : Hendarmono Al S. • Jumat, 14 Agustus 2020 | 06:10 WIB
QUALITY CONTROL: Ketua MMI Hengki Herwanto (menunjuk) dan Ari Yusuf Prasetyo ST, bidang quality control sedang berada di ruang pengarsipan saat melakukan pegecekan kualitas foto hasil scan Majalah Aktuil di MMI, Jl Nusakambangan 19 Malang.  (MMI for Radar
QUALITY CONTROL: Ketua MMI Hengki Herwanto (menunjuk) dan Ari Yusuf Prasetyo ST, bidang quality control sedang berada di ruang pengarsipan saat melakukan pegecekan kualitas foto hasil scan Majalah Aktuil di MMI, Jl Nusakambangan 19 Malang. (MMI for Radar
Melakukan pengarsipan secara digital terhadap ratusan eksemplar arsip majalah aktuil lawas di Museum Musik Indonesia (MMI) Malang bukanlah pekerjaan mudah. Butuh ketelatenan serta kesabaran ekstra dalam melakukannya. Seperti apa kesibukannya?
***

Berkunjung ke Museum Musik Indonesia (MMI) di Jalan Nusakambangan No 19, Kasin, Kecamatan Klojen siang kemarin terlihat berbeda dibanding biasanya. Tampak ruangan berukuran 3x4 meter sangat sepi.

Ruangan itu berisi seperangkat komputer beserta alat scaner, ada juga laptop di atas meja kerja. Tampak dua orang yang sedang sibuk bekerja di ruangan tersebut.

Satu orang bertugas sebagai penyeken dan satu orang sebagai pengontrol. Ya, mereka adalah tim yang telibat dalam project pengerjaan pengarsipan secara digitalisasi sebanyak 200 eksemplar majalah aktuil pada periode 1967-1978 yang didanai oleh Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) melalui anak organisasinya yang di antaranya membidangi kebudayaan atau UNESCO.

“Tim yang terdiri dari 8 orang itu, dalam satu hari bisa menghasilkan sebanyak 2 edisi majalah,” ujar Hengki Herwanto yang juga Ketua MMI saat ditemui Radar Malang kemarin siang.

Sehingga, lanjut Hengki, untuk bisa menyelesaikan sebanyak 200 edisi majalah aktuil, membutuhkan waktu sekitar 100 hari lamanya. Proses pendigitalisasian majalah aktuil ini murni dari inisiatif Tim MMI.

“Sebelumnya, rencana kerjanya kita susun, setelah itu kita kirimkan proposal kepada UNESCO,” tambahnya.

Digitalisasi majalah aktuil dimulai sejak awal bulan Juni 2020 lalu, satu bulan setelah uang dari UNESCO turun. Hingga saat ini, pengerjaannya sudah mencapai 50 persen.

“Karena perlu ketelatenan, kadang harus mengulang lagi scan karena kadang ada yang burem dan kurang terang,” jelasnya.

Batas waktu yang diberikan UNESCO sampai akhir bulan November 2020 nanti.

Hengki mengatakan bahwa pendigitalisasian majalah tersebut dilakukan atas tiga hal. Pertama, dari sisi konten yang ada di majalah aktuil adalah sejarah musik di Indonesia tahun 1967 sampai 1978.

Kedua, dari sisi subsatansi, majalah aktuil pada musim itu adalah majalah musik terbesar. “Sehingga, jika tidak kita dokumentasikan, khawatir akan bercacaran dimana-mana dan sulit untuk dilacak,” jelasnya.

Ketiga, dari sisi fisiknya, majalah merupakan barang yang mudah rusak. Seperti jika terkena air akan hancur. Selain itu, karena terbuat dari kertas, bahan yang mudah robek dan mempunyai potensi untuk dimakan rayap.

Photo
Photo
Aktivitas pekerjaan pendokumenan secara digital arsip majalah aktuil di MMI, Jl Nusakambangan 19 Malang. (Foto: Darmono/Radar Malang)

“Sehingga dengan digital itu, meskipun barang fisiknya rusak, isinya masih terselamatkan,” imbuh Hengki.

Proses pendigitalisasian majalah aktuil tersebut memang tidak mudah. Harus melalui beberapa tahap, di antaranya dilakukan scan halaman per halaman, dari bentuk JPG diconvert ke Pdf.

“Diurutkan halamannya, kemudian membuat daftar isi dan desain grafis,” katanya. Hasil akhirnya, diuploud di website museummusikindonesia.id.

“Susahnya, majalah itu sudah dijilid, jadi harus dilepas dulu supaya hasilnya bagus,” jelasnya.

Karena menurut Hengky, kadang harus mengulang kembali jika jepretannya tidak dilepas, sehingga mempunyai bayangan hitam.

Menurut Hengki, pendigitalisasian sejarah musik di Indonesia mungkin pernah dilakukan. Tetapi tidak untuk dipublish dan sifatnya perorangan.

“Setahu saya, baru pertama ini majalah dengan jumlah cukup banyak meliputi kurun waktu lebih 10 tahun,” jelasnya. Untuk melakukan digitalisasi majalah aktuil tersebut, MMI mengerahkan 8 orang sebagai tenaga kerja.

Dia menuturkan, program berikutnya yang MMI usulkan adalah digitalisasi pada kaset, CD, dan piringan hitam. “Karena total kita punya 25 ribu, yang kita pilih adalah 100 hingga 200 lagu-lagu daerah,” imbuhnya. Lagu etnik yang berasal dari Sabang sampai Merauke.

Dengan dilakukan digitalisa, harapan Hengky adalah terjadi transparansi atau keterbukaan informasi yang mempunyai nilai dalam masyarakat. “Dan bisa dengan mudah diakses oleh masyarakat,” jelasnya.

Pewarta: Ilmi Ariyanti Editor : Editor : Hendarmono Al S.
#UNESCO #Sabar dan Telaten #Digitalisasi #Majalah Aktuil #Kota Malang #museum musik indonesia #mmi malang