Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Hujan Lebat Bonus Puting Beliung Bayangi Malang Raya

Shuvia Rahma • Senin, 28 September 2020 | 19:50 WIB
Kontur pegunungan membuat awan cumulonimus relatif cepat terbentuk di kawasan Malang Raya. Awan ini membawa hujan lebat dan tak jarang disertai   angin kencang. (Inifia / Radar Malang)
Kontur pegunungan membuat awan cumulonimus relatif cepat terbentuk di kawasan Malang Raya. Awan ini membawa hujan lebat dan tak jarang disertai angin kencang. (Inifia / Radar Malang)
MALANG KOTA - Anomali cuaca di Malang Raya rupanya memiliki dampak yang mengkhawatirkan. Sebab, akan ada hujan lebat yang berpotensi angin kencang hingga puting beliung karena pergerakan awan-awan cumulonimbus.

“Dari pemantauan kami, dari citra satelit atau radar cuaca bahwa ada awan kumulunimbus yang berpotensi menyebabkan hujan lebat yang disertai angin kencang atau puting beliung,” ujar Retno Wulandari selaku Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG Karangploso, Kabupaten Malang.

Retno mengungkapkan jika wilayah Malang Utara dan Malang Barat memiliki potensi paling membahayakan.“Memang dari citra arahnya dari Karangploso kemudian ke arah barat lagi,” terangnya.

Dari pantauan pengamatan cuaca di Kantor Stasiun Klimatologi Malang bahwa terpantau kecepatan angin mencapai 59,4 Km per jam. Sehingga ini memang sudah masuk kategori angin kencang.

“Kalau angin puting beliung itu tracknya memutar dan durasinya singkat hanya hitungan menit saja. Kalau angin kencang durasinya bisa lebih lama,” paparnya.

“Tetapi secara dampak sama-sama membuat kerusakan, dan sama-sama disebabkan awan kumulonimbus,” sambungnya. Selain itu, dua angin tersebut juga sulit diprediksi kapan bakal terjadi.

“Lalu untuk memprediksi apakah akan terjadi angin kencang atau puting beliung itu sulit. Karena kejadiannya lokal dan pertumbuhan awan kumulu nimbus ini cepat,” bebernya.

Ditambah kondisi georografi atau topografi di Malang Raya yang bergunung-gunung juga berpengaruh pada terbentuknya awan kumulonimbus karena kelembapan udara yang cukup tinggi.

“Kemudian adanya pemanasan dari radiasi matahari yang cukup tinggi, ditambah kondisi topografi membuat awan ini bisa cepat berkembang,” jelasnya.

Retno mengungkapkan jika ketika awan mencapai tingkat kematangan tertentu akan menyebabkan angin kencang atau angin kumulonimbus yang disertai hujan lebat.

“Angin puting beliung ini memang sudah untuk diprediksi, paling kita hanya bisa memantau satu jam atau setengah jam sebelum kejadian itu. Itupun tidak semua awan kumulonimbus menyebabkan puting beliung atau angin kencang,” ucapnya.

Ia mengatakan, angin kencang atau puting beliung ini sebenarnya tejadi di peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, di pertengahan musim hujan atau dari musim hujan ke kemarau.



Pewarta: Sandra DC Editor : Shuvia Rahma
#puting beliung #bmkg karangploso #Hujan #angin kencang #cuaca malang raya #RMOC #San #FIA #cuaca buruk #awan cumulonimbus