"Selain dampak dari fenomena la nina, memang normalnya puncak musim hujan terjadi di bulan-bulan ini. Apalagi di wilayah dengan topografi tinggi," ujar Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Malang, Retno Wulandari hari ini (15/1). Dengan curah hujan tinggi, potensi terjadinya bencana pun turut meningkat. Mulai dari hujan lebat disertai petir, banjir hingga tanah longsor. "Kami himbau seluruh masyarakat untuk selalu siap siaga. Tetap memantau update terbaru dari BMKG agar mengetahui situasi yang sedang dan akan terjadi," ucapnya.
Sementara itu, adanya awan di musim hujan yang menghalangi radiasi dari luar angkasa ke bumi menjadi pemicu udara dingin yang terjadi belakangan ini. Rata-rata suhu yang ada di Malang raya berkisar dari 20 sampai 21 derajat celcius. "Ini bukan yang terdingin, suhu malam hari pada musim kemarau lebih dingin. Karena tidak adanya awan yang menutupi bumi menyebabkan radiasi terjadi dengan maksimal," jelasnya. Hal tersebut normalnya terjadi pada bulan Juli dan Agustus.
Lebih lanjut ia mengatakan, untuk mengetahui kapan beralihnya musim hujan ke kemarau, pihaknya baru bisa menyampaikan akhir Februari atau awal Maret. "Untuk para petani yang kesusahan karena hujan mengganggu pertanian, bisa terus memantau update dari kami. Karena kami punya perkiraan jam turun hujan berbasis per-kecamatan di seluruh Malang Raya," tutupnya.
Pewarta : Wildan Agta Affirdausy
Editor : Ahmad Yani