Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Fatamorgana Kompetisi Naik Level

A. Nugroho • Minggu, 25 Mei 2025 | 15:59 WIB
Jurnalis Jawa Pos Radar Malang
Jurnalis Jawa Pos Radar Malang

 

BRI Liga 1 2024/2025 resmi berakhir kemarin. Siapa tim yang turun kasta akhirnya diketahui. Persib Bandung sukses back to back juara. Musim ini kompetisi kasta tertinggi Indonesia itu juga mencatatkan sejumlah torehan positif.

Salah satunya, naik peringkat di level ASEAN dan Asia secara kompetisi. Di antara kompetisi tertinggi negara-negara Asia Tenggara, Liga 1 menempati urutan ke-5 dari sebelumnya di nomor 6. Sedangkan di level Asia, BRI Liga 1 berada di urutan 25 atau naik tiga peringkat dari sebelumnya.

Selain itu, regulasi setiap klub harus memiliki dan memainkan pemain U-22 juga terus memberi efek baik. Sejumlah young guns anyar yang punya potensi bermunculan.

Gelandang Borneo FC Rivaldo Enero Pakpahan misalnya. Sedangkan untuk prestasi lainnya, saya tidak perlu jelaskan. Karena, yang berhubungan dengan hal-hal positif tidak sulit untuk dicari. 

Tapi di balik cerita-cerita manis tersebut, kompetisi sepak bola tanah air masih mempunyai segudang pekerjaan rumah. Ibaratnya, kaki dan tangannya belum benar-benar bersih dari tinta hitam.

Contohnya, terkait keamanan dan kenyamanan yang diungkapkan Ketua Umum PSSI Erick Thohir saat pembukaan BRI Liga 1 pada 6 Agustus 2024 lalu, belum sepenuhnya terwujud. Setelah tragedi Kanjuruhan yang merenggut 135 nyawa masih terjadi hal-hal yang mengancam. Baik itu untuk aktor lapangan hijau atau pemain ke-12.

Sedikit contohnya, pelemparan bus Persik Kediri dengan batu selepas laga menghadapi Arema FC pada 11 Mei. Lima hari berselang setelah insiden itu, terjadi kericuhan suporter di laga Persita Tangerang melawan Persib Bandung. Tragedi itu seperti menunjukkan tidak ada yang belajar atau berubah dari insiden sebelumnya.

Pelemparan bus pemain atau gesekan antar pemain ke-12 yang berdampak negatif juga terjadi di kompetisi musim-musim sebelumnya. Pada musim 2022/2023, bus Singo Edan jadi korban perusakan setelah menjalani laga tandang lawan PSS Sleman.

Catatan negatif kompetisi tertinggi tanah air musim ini tidak sekadar berhenti di situ. Masih ada kontestan BRI Liga 1 yang dikabarkan menunggak gaji pemainnya. Sebagai kompetisi yang dilabeli profesional, insiden semacam itu sulit dinalar.

Karena seharusnya cerita ’zaman purba’ tersebut sudah tidak terjadi di kompetisi yang disebut-disebut naik peringkat di level Asia dan Asia Tenggara itu. Apalagi, sejatinya klub Liga 1 saat ini lebih modern. Punya peluang besar menciptakan fundamental financial yang kuat.

Apakah terulangnya kejadian tersebut akibat sanksi Komdis PSSI kurang berat? Seperti diketahui, hukuman klub seusai insiden pelemparan atau perusakan bus tim tamu terasa ringan. Lebih mahal sanksi yang diterima center back PSM Yuran Fernandes atau saat enam pemain tim dapat kartu kuning di satu laga. Padahal, taruhannya adalah nyawa.

Pada 2018 lalu, Liverpool didenda UEFA Rp 350 juta akibat dinilai tidak bisa mengendalikan suporter dan melanggar aturan keamanan. Saat itu terjadi insiden penyerangan bus Manchester City pada leg pertama Liga Champions.

Sedangkan sanksi untuk penunggak gaji selama ini belum sepenuhnya diterapkan di kompetisi Indonesia. Pada 6 Mei lalu, baru muncul wacana akan ada hukuman khusus untuk klub tidak memenuhi hak pemain. Di antaranya, denda serta pengurangan poin.

Padahal di kompetisi Eropa hal tersebut menjadi hal sangat diperhatikan. Satu contohnya, pada tahun 2013 UEFA menjatuhkan denda Rp 4,5 Miliar ke Malaga FC karena terbukti menunggak gaji pemainnya. Mereka juga dilarang tampil di kompetisi Eropa, meski lolos Liga Champions.

Tidak berhenti di situ FIFA juga akan melakukan tindakan tegas ke klub yang menunggak gaji pemainnya. Mereka memberi sanksi larangan transfer untuk klub yang terbukti melakukan hal tersebut. Beberapa klub tanah air sudah merasakannya.

Filsuf Yunani Plato dalam bukunya The Republik mengatakan, memberi hukuman bukan untuk balas dendam. Tapi, agar pelaku menjadi lebih baik. Sedangkan Scorates melihat hukuman seperti obat yang bisa menyembuhkan.

Berangkat dari itu, PSSI dan PT Liga Indonesia baru tidak boleh puas untuk saat ini. Mereka harus terus bekerja lebih keras untuk membuat kompetisi menjadi lebih baik. Sedangkan klub harus menunjang usaha itu.

Karena apa yang saya sebutkan tadi merupakan sedikit gambarannya saja. Saat ditelusuri lebih jauh, kita bisa menemukan kekurangan-kekurangan lainnya.

Masukan dan kritik di tulisan ini bukan untuk menjatuhkan, tapi bentuk dorongan motivasi. Konon katanya, saat kita lebih buruk dari hari kemarin merupakan tanda bahaya atau celaka. Sedangkan saat masih seperti sebelumnya, merupakan kerugian.

Editor : A. Nugroho
#Jawa Pos #BRI Liga 1 2024 2025 #radar malang #persektif