Antara Emas, Cemas, dan Gemas

Bayu Mulya Putra • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 11:17 WIB
Bayu Mulya Putra, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang
Bayu Mulya Putra, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang

KOTA MALANG, RADAR MALANG - Perasaan lega terpancar dari raut mukanya. ”Insya Allah Agustus tahun ini aman Mas,” begitu kata dia setelah satu tarikan napas yang cukup panjang. Kalimat itu keluar dari salah satu pengurus partai politik di tingkat provinsi. 

Sejak awal Agustus, dia ikut memantau perkembangan di Jakarta. Awalnya dia mendapat kabar bahwa kericuhan pada 2025 lalu berpotensi terulang tahun ini. Setelah beberapa hari memantau, hasilnya membuat dia lega.

 Baca Juga: Perspektif: Murah Berujung Mahal

Sebab, salah satu informannya menyebut bahwa situasi pada Agustus tahun ini bakal lebih kondusif. Bagi yang samar-samar lupa, kericuhan sempat mewarnai pemberitaan di banyak media massa pada 25 hingga 31 Agustus 2025 lalu. 

Saat itu gelombang unjuk rasa besar terjadi karena akumulasi kabar kurang mengenakkan di tingkat pusat. Mulai dari rencana kenaikan tunjangan anggota DPR hingga beragam kontroversi terkait kebijakan ekonomi. 

Kemarahan publik saat itu memuncak setelah ada tragedi driver ojek online yang tertabrak kendaraan taktis milik polisi. Jejak kelam itu sepertinya membuat cemas para pemangku kepentingan. Bila ditelaah, setidaknya ada dua alasan mereka bisa cemas.

 Baca Juga: Perspektif: Berkelas

Yang pertama, kalau memang terjadi kericuhan, agendanya bisa terganggu. Yang kedua, kecemasan bisa muncul karena adanya simpati atau bahkan empati kepada rakyat. Beruntung, tanda-tanda kecemasan itu tak ditunjukkan para pejabat dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Jumat lalu (14/8).

Narasi utama yang diangkat masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Yakni Program Indonesia Emas 2045. Dalam sambutannya, Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyebut program MBG sebagai terobosan penting untuk mewujudkan Generasi Emas 2045.

Tidak terlihat tanda-tanda kecemasan terhadap beragam kritik untuk program itu. Keyakinan di lingkaran pejabat pusat sepertinya memang dibuat sama. Setidaknya harus tampak sama. 

Materi pidato hampir dua jam dari Presiden Prabowo Subianto lebih luas lagi. Data capaian investasi dia sampaikan. Begitu juga dengan program perbaikan sekolah. Klaim terhadap kinerja pemerintahan di bawah komandonya tak lupa disampaikan.

Kata Presiden, dalam 663 hari kepemimpinannya, pemerintah telah memutuskan dan menjalankan 121 kebijakan-kebijakan transformatif untuk menyelesaikan masalah-masalah negara. Klaim itu patut diverifikasi lagi. Pemerintah tampaknya juga perlu menjabarkan beberapa contohnya ke publik. 

Keterangan Prabowo yang menyebut salah satu tukang kupas bawang digaji Rp 700 ribu untuk satu kilogram tak perlu dianggap serius. Sebelumnya kan juga ada keterangan bahwa 10 ditambah 6 hasilnya 17. Gemas sih awalnya, namun percayalah, lama-lama akan terbiasa. Toh sekarang juga mulai banyak yang menunggu kalimat-kalimat seperti itu.

Kalau tidak terlalu dimasukkan ke hati, kalimat-kalimat itu bisa menjadi hiburan tersendiri lho. Karena itu, saya tidak merasa tersinggung sama sekali ketika Presiden Prabowo menyebut wartawan dan LSM sebagai londo ireng

Pada era kekinian, itu bisa disebut dengan slip of the tongue. Dalam psikoanalisis yang dijabarkan Sigmund Freud, itu disebut dengan Freudian Slip. Ahli saraf asal Austria itu menyebut bahwa kesalahan ucap bisa saja terjadi bukan karena kebetulan. Namun karena cerminan dari keinginan, konflik, atau pikiran yang tersembunyi dari seseorang. 

Freudian Slip juga bisa terjadi karena kebocoran emosi. Yakni dorongan dari alam bawah sadar untuk melewati sensor mental, yang berujung pada salah pengucapan. Victoria Fromkin, pakar linguistik asal Amerika Serikat membawa pendekatan psikolinguistik untuk fenomena slip of the tongue

Dia memandang bahwa kesalahan pengucapan murni terjadi karena gangguan mekanis atau pemrosesan informasi di dalam otak manusia. Usia seseorang turut membawa pengaruh di dalamnya. Namun bukan satu-satunya. 

Jadi, kalau ada fenomena slip of the tongue lagi dari siapa pun itu, khususnya Presiden, sebaiknya kita tak perlu terlalu cemas. Gemas sedikit masih boleh. Yang penting diperhatikan, untuk mencapai Program Indonesia Emas 2045, bakal terjadi perubahan kepemimpinan. Kita bisa dipimpin tiga sampai empat Presiden yang baru. (*) 

Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang
cemas Perspektif gemas Emas