Tahun ini bukan tahun yang mudah bagi siapa saja. Tidak yang di pemerintahan, tidak pula yang di luar pemerintahan. Tidak pejabat, tidak pula rakyat biasa serta pengusaha. In this economy, kata anak-anak muda sekarang, tidak ada yang terasa ringan.
Situasi ini tidak bisa dilepaskan dari geopolitik internasional yang sedang diwarnai ketegangan dalam beberapa tahun terakhir. Konflik Rusia-Ukraina, Amerika-China, serta Amerika-Israel-Iran telah menyebabkan efek domino ke hampir seluruh negara di dunia. Tidak terkecuali Indonesia.
Sementara, di dalam negeri, kebijakan efisiensi menuntut siapa saja untuk lebih kreatif dalam mengatur anggaran. Skala prioritas harus dibuat. Kreativitas dalam mencari sumber-sumber pendapatan baru harus digenjot.
Daya tahan terhadap situasi krisis adalah kuncinya. Dan, mereka yang terbiasa dengan situasi krisislah yang cenderung memiliki daya tahan lebih tinggi. Sehingga selalu ada jalan keluar untuk bertahan atau bahkan bangkit dari situasi tersebut.
Berbicara tentang hal ini, rasanya, santri adalah salah satu rujukan yang terbaik. Clifford Geertz ketika menulis The Religion of Java (1960), mendefinisikan santri secara antropologis. Yaitu, kelompok masyarakat yang memiliki orientasi keagamaan (Islam) lebih kuat dengan basis mata pencaharian pedagang, pengrajin, atau petani. Mereka juga terhubung dengan kiai, masjid, dan pesantren.
Dalam definisi umum, santri adalah mereka yang pernah mengenyam pendidikan dan kehidupan pesantren. Dan, pesantren adalah model pendidikan long life education. Pendidikan di pesantren bukan hanya sebatas dalam kelas. Tetapi, berlangsung penuh 24 jam dalam bimbingan langsung kiai sebagai figur sentral.
Gus Dur, KH Abdurrahman Wahid, menyebut pesantren sebagai subkultur. Ada norma, nilai, dan tradisi tersendiri yang hidup di dalam pesantren. Seperti kesederhanaan, kemandirian, serta kepatuhan terhadap kiai, di samping tentu saja kepatuhan dalam menjalankan ajaran-ajaran agama.
Pada nilai kesederhanaan, misalnya, itu relevan dengan keharusan efisiensi yang musti dilakukan saat-saat sekarang. Mereka yang tidak terbiasa hidup sederhana, efisiensi adalah tantangan tersendiri. Tidak mudah untuk dilakukan.
Santri, terbiasa hidup bersahaja. Dalam hal pangan, sandang, maupun papan. Dalam hal pangan, bukan hanya tidak terbiasa berlebihan dengan aneka lauk istimewa, mereka bahkan sudah terbiasa untuk berpuasa. Sehingga, makan sehari sekali bukanlah sesuatu yang aneh. Kalaupun bisa makan lebih dari sekali sehari, mengutip Cak Nun alias Emha Ainun Najib yang pernah menjadi santri Gontor, sekadar lauk tempe seringkali hanya cita-cita alias belum tentu kesampaian.
Dalam hal sandang, sama saja. Tidak ada kebiasaan untuk berlebihan. Apalagi bergelimang kemewahan. Pada pesantren salaf, sarung, kopiah, hem, dan sandal adalah pakaian sehari-hari yang sudah memenuhi standar kepantasan. Demikian pula pada pesantren modern yang memperbolehkan celana panjang, jas, dasi, kopiah, dan sepatu, tetap sebatas koridor kepantasan dan kesederhanaan. Bukan kemewahan.
Lalu, dalam hal papan, tidur di lantai dengan bantal kayu bersama puluhan teman lainnya adalah hal yang lumrah bagi seorang santri. Itu bukan hanya berlaku bagi santri pesantren, tapi juga santri mesjidan atau langgaran yang dulu sering saya jumpai waktu kecil di masjid Mbareng dan banyak masjid atau langgar lainnya di Kota Malang. Tidak ada tuntutan kamar atau rumah dengan fasilitas lengkap dan mewah agar bisa hidup.
Tentang nilai kemandirian, santri juga terbiasa hidup mandiri. Betapa tidak, mereka sudah dilepas oleh orang tuanya sejak kecil. Sehingga, segala urusan hidup mulai bangun tidur sampai tidur lagi harus bisa ditangani sendiri. Tidak ada tempat bergantung yang kuat. Mereka hidup secara komunal dengan santri lain yang memiliki problem serupa. Maka pilihannya adalah mengerjakan segalanya sendiri atau bekerja sama dengan teman.
Nilai kemandirian itu relevan dengan situasi global yang serba-tidak pasti seperti sekarang. Tidak ada satu pun negara yang bisa dijadikan tempat bergantung. Dan, memang, negara kita tidak boleh bergantung pada satu negara tertentu. Harus berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, kata Bung Karno.
Dengan kesederhanaan dan kemandirian itulah, santri lebih punya resiliensi alias daya tahan yang tinggi terhadap situasi-situasi krisis. Mereka tidak mudah mengeluh menghadapi tekanan, kegagalan, atau situasi hidup yang sangat sulit. Mereka bisa beradaptasi secara positif dalam menghadapi semua itu.
Apalagi santri juga punya religiusitas yang tinggi. Religiusitas selalu memberikan harapan bahwa setelah kesulitan pasti akan datang kemudahan. Ada optimisme untuk menghadapi masa depan.
Jadi, in this economy, nilai-nilai santri itu rasanya perlu kita adaptasi. Agar kita tidak pesimistis menghadapi tantangan zaman. Agar kita tetap punya optimisme menyongsong hari-hari ke depan. Seperti tema Hari Santri tahun ini: Santri Menguatkan Negeri menuju Indonesia Emas. Selamat Hari Santri!
Dr Ir Wahyu Hidayat MM
Arek Mbareng, Wali Kota Malang 2025-2030
Editor : Aditya Novrian