MALANG KOTA - Badan Pembinaan Ideologi dan Pancasila (BPIP) menggandeng 250 content creator se-Jawa Timur untuk menguatkan Pancasila kemarin (7/5).
Bertempat di UMM Dome, acara dikemas dalam bentuk workshop yang bertema FYP (For Your Pancasila).
Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo mengatakan, ideologi Pancasila perlu ditanamkan kepada anak muda.
Maka, dengan mengajak content creator jadi salah satu jalannya.
”Kami mencoba memaknai dan memanifestasi ideologi Pancasila yang disesuaikan dengan kondisi kekinian,” ujarnya.
Menurut Benny, hal itu sangat krusial.
Karena Pancasila sudah menyangkut karakter dan jati diri bangsa.
Pertanyaan yang paling sering muncul adalah keselarasan Pancasila dengan zaman.
Sehingga, memunculkan rasa untuk memperbarui cara implementasinya agar tidak tertinggal dan tidak usang.
”Kalau dicermati, Pancasila sebagai meja statis yang tidak bisa diganggu gugat kelima silanya,” lanjut Benny.
Dalam kesempatan tersebut, BPIP menyuguhkan pembahasan lebih santai.
Yakni dengan memberikan contoh-contoh konten yang tetap menghibur sekaligus bermuatan moral dan Pancasila.
Sementara itu, sutradara film, penulis, sekaligus YouYuber asal Malang Bayu Skak diundang menjadi pembicara.
Menurut Bayu, menyuarakan karya atau konten sebagai warga Indonesia itu termasuk hal yang keren.
Ia berkaca pada Jepang dan Korea Selatan yang dewasa ini budayanya mendunia.
”Kita tidak boleh malu show off tentang budaya sendiri dan cenderung mengagungkan budaya lain. Tidak apa-apa menikmati budaya luar, tapi harus ada timbal balik mereka juga ikut menikmati budaya kita,” ucap Bayu.
Bayu juga menyemangati para anak-anak muda yang hadir untuk tetap berkarya.
Ia mendorong mereka untuk berbangga hati dengan apa yang dan di Indonesia.
”Kalau bisa dijadikan karya untuk menjunjung tinggi nilai Pancasila,” lanjutnya.
Bagi Bayu, yang terpenting untuk mencapai semua itu adalah memperbaiki tiga pondasi utama.
Sebab kreatif berarti mencari solusi dengan kata lain mental bangsa Indonesia harus dibentuk agar tidak mudah menyerah. (aff/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana