Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Satpam Sekolah hingga Kuliah S2, Suhu 45 Derajat Celsius Hadirkan Tantangan Tersendiri

Bayu Mulya Putra • Kamis, 1 Agustus 2024 | 21:01 WIB

BUAH KEGIGIHAN: Muhammad Nur Khuzaini berfoto di kampusnya, Nalanda University, India, beberapa waktu lalu. Dia mendapat beasiswa untuk menempuh studi di sana.
BUAH KEGIGIHAN: Muhammad Nur Khuzaini berfoto di kampusnya, Nalanda University, India, beberapa waktu lalu. Dia mendapat beasiswa untuk menempuh studi di sana.

Transformasi Muhammad Nur Khuzaini dari Satpam Sekolah hingga Kuliah S2 di India

Musim panas menjadi tantangan bagi Muhammad Nur Khuzaini dalam menuntut ilmu di India.

Udara di sana sangat panas.

Suhunya bisa mencapai 45 derajat celsius.

Baca Juga: Kominfo Luncurkan Beasiswa S2 Luar Negeri, Simak Syarat dan Pilihan Bidang Studi yang Bisa Dipilih

Jika tanpa perlindungan, orang bisa mimisan, bahkan meregang nyawa.

Dengan kondisi seperti itu, dia harus tetap berangkat ke kampus untuk mengikuti pembelajaran.

Dia biasa mengenakan masker dan penutup kepala saat berangkat.

Meski menghadirkan tantangan tersendiri, motivasinya tak pernah surut.

Sejak remaja, Zain yang berasal dari keluarga sederhana memang biasa dengan suasana keras.

Itu ditunjukkan dengan kegigihannya mencari tambahan penghasilan saat masih duduk di kelas XI MA Al-Ma’arif, Kecamatan Singosari.

Saat itu dia bekerja sebagai satpam di sana.

”Jadi, kalau pagi sampai siang sekolah. Kemudian, malamnya berjaga sekaligus tidur di sekolah,” ucapnya saat ditemui di MA Al-Ma’arif.

Begitu pula saat dia menempuh pendidikan di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Islam Malang (Unisma).

Ayahnya yang bekerja sebagai tukang kebun di MA Al-Ma’arif hanya perlu membayar SPP.

Sementara, biaya untuk kebutuhan kuliahnya ditanggung sendiri dengan memanfaatkan honor menjaga sekolah.

Berhasil lulus dari Unisma, Zain ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Dia yakin dengan modal pendidikan bisa meningkatkan perekonomian dan status sosial keluarganya.

Dia pun bertekad melanjutkan pendidikan ke India.

Baca Juga: Mau Lanjut S2 di 5 Kampus Terbaik Luar Negeri, BRIMO Beri Kemudahan Buat Bayar Kuliah sampai Biaya Kehidupan

Menurutnya, India memiliki potensi besar untuk mencetak akademisi.

”Banyak orang hebat seperti CEO (Chief Executive Officer) perusahaan besar yang berasal dari India. Makanya, saya ingin belajar di sana,” kata pria berusia 26 tahun itu.

Misalnya CEO Microsoft asal India yakni Satya Nadella dan CEO Adobe dipegang oleh Shantanu Narayen.

Sebelumnya, orang India bernama Parag Agrawal juga pernah ditunjuk sebagai CEO Twitter sebelum platform tersebut berganti nama menjadi X.

Zain mendaftar ke jenjang magister melalui dua beasiswa.

Pertama, yakni The Indian Council for Cultural Relations (ICCR) Scholarships.

Saat itu, dia mendaftar ke Delhi University, dan telah mendapatkan Letter of Acceptance (LoA).

Akan tetapi, belum ada surat resmi dari pemberi beasiswa.Akhirnya, dia mendaftar melalui ASEAN-India Scholarship yang terafiliasi dengan Nalanda University.

Setelah seleksi administrasi dan interview, Zain pun diterima di Nalanda University.

Dia mengambil jurusan Sastra Dunia.

Seluruh biaya pendidikan hingga akomodasi difasilitasi ASEAN-India Fund.

Sehingga, mahasiswa hanya perlu mengeluarkan uang untuk mengurus visa selama menempuh studi di India.

Di sana, dia mempelajari karakteristik sastra dari berbagai negara.

Seperti dari India dan Yunani.

Dia juga mempelajari filosofi dan aspek-aspek lain yang berhubungan dengan sastra.

Baca Juga: Duwi Purnama Sidik, Mahasiswa Teknik Informatika UB Sudah Diterima S2 sebelum Lulus S1

”Salah satu karakteristik misalnya sastra India yang saat ini lebih menonjolkan lingkungan atau disebut eco poetry. Sedangkan, sastra Yunani lebih menonjolkan kisah dewa-dewa. Seperti Zeus dan Poseidon,” kata anak pertama dari dua bersaudara itu.

Meski mempelajari sastra dari berbagai negara, bahasa pengantarnya tetap Bahasa Inggris.

Sebab, kelas itu terbuka untuk mahasiswa internasional.

Hidup di negara orang dengan cuaca dan iklim yang berbeda tentu menjadi tantangan baginya.

Misalnya, saat musim dingin dengan suhu mencapai 5 derajat Celsius.

Itu membuatnya harus memakai pakaian tebal.

”Namun, lebih struggle kalau musim panas. Dengan suhu 45 derajat celsius, kami harus tetap kuliah. Beruntung, di asrama tersedia AC,” terangnya.

Setelah setahun delapan bulan, Zain berhasil menyelesaikan studi magisternya.

Dia pun kembali ke MA Al-Ma’arif.

Namun, bukan sebagai satpam lagi.

Melainkan sebagai guru bahasa Inggris.

Dengan demikian, impiannya untuk meningkatkan ekonomi dan derajat sosial keluarganya telah terwujud.

”Orang tua saya sudah banyak berjuang untuk saya. Saat ini, giliran saya yang membalas jasa mereka,” pungkasnya. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#satpam sekolah #tantangan #S2 #musim panas