Satpam Sekolah hingga Kuliah S2, Suhu 45 Derajat Celsius Hadirkan Tantangan Tersendiri
Bayu Mulya Putra• Kamis, 1 Agustus 2024 | 21:01 WIB
BUAH KEGIGIHAN: Muhammad Nur Khuzaini berfoto di kampusnya, Nalanda University, India, beberapa waktu lalu. Dia mendapat beasiswa untuk menempuh studi di sana.
Transformasi Muhammad Nur Khuzaini dari Satpam Sekolah hingga Kuliah S2 di India
Musim panas menjadi tantangan bagi Muhammad Nur Khuzaini dalam menuntut ilmu di India.
Menurutnya, India memiliki potensi besar untuk mencetak akademisi.
”Banyak orang hebat seperti CEO (Chief Executive Officer) perusahaan besar yang berasal dari India. Makanya, saya ingin belajar di sana,” kata pria berusia 26 tahun itu.
Misalnya CEO Microsoft asal India yakni Satya Nadella dan CEO Adobe dipegang oleh Shantanu Narayen.
Sebelumnya, orang India bernama Parag Agrawal juga pernah ditunjuk sebagai CEO Twitter sebelum platform tersebut berganti nama menjadi X.
Zain mendaftar ke jenjang magister melalui dua beasiswa.
Pertama, yakni The Indian Council for Cultural Relations (ICCR) Scholarships.
Saat itu, dia mendaftar ke Delhi University, dan telah mendapatkan Letter of Acceptance (LoA).
Akan tetapi, belum ada surat resmi dari pemberi beasiswa.Akhirnya, dia mendaftar melalui ASEAN-India Scholarship yang terafiliasi dengan Nalanda University.
Setelah seleksi administrasi dan interview, Zain pun diterima di Nalanda University.
Dia mengambil jurusan Sastra Dunia.
Seluruh biaya pendidikan hingga akomodasi difasilitasi ASEAN-India Fund.
Sehingga, mahasiswa hanya perlu mengeluarkan uang untuk mengurus visa selama menempuh studi di India.
Di sana, dia mempelajari karakteristik sastra dari berbagai negara.
Seperti dari India dan Yunani.
Dia juga mempelajari filosofi dan aspek-aspek lain yang berhubungan dengan sastra.
”Salah satu karakteristik misalnya sastra India yang saat ini lebih menonjolkan lingkungan atau disebut eco poetry. Sedangkan, sastra Yunani lebih menonjolkan kisah dewa-dewa. Seperti Zeus dan Poseidon,” kata anak pertama dari dua bersaudara itu.
Meski mempelajari sastra dari berbagai negara, bahasa pengantarnya tetap Bahasa Inggris.
Sebab, kelas itu terbuka untuk mahasiswa internasional.
Hidup di negara orang dengan cuaca dan iklim yang berbeda tentu menjadi tantangan baginya.
Misalnya, saat musim dingin dengan suhu mencapai 5 derajat Celsius.
Itu membuatnya harus memakai pakaian tebal.
”Namun, lebih struggle kalau musim panas. Dengan suhu 45 derajat celsius, kami harus tetap kuliah. Beruntung, di asrama tersedia AC,” terangnya.
Setelah setahun delapan bulan, Zain berhasil menyelesaikan studi magisternya.
Dia pun kembali ke MA Al-Ma’arif.
Namun, bukan sebagai satpam lagi.
Melainkan sebagai guru bahasa Inggris.
Dengan demikian, impiannya untuk meningkatkan ekonomi dan derajat sosial keluarganya telah terwujud.
”Orang tua saya sudah banyak berjuang untuk saya. Saat ini, giliran saya yang membalas jasa mereka,” pungkasnya. (*/by)