Ungkapan ini masih cukup sering disampaikan kepada mereka yang punya banyak anak.
Ndayak memiliki makna banyak.
”Biasanya merujuk kepada keluarga yang lebih dari empat anak,” terang Budayawan Malang Dwi Cahyono.
Ada yang mengaitkan istilah tersebut dengan kisah ekspansi kerajaan Majapahit ke wilayah Kerajaan Nan Sarunai di Kalimantan.
Ketika itu, pasukan dari Pulau Jawa melihat pasukan dari suku Dayak dalam jumlah besar.
Cerita itu turut dibenarkan Dwi.
Dia berpendapat bahwa kata sak ndayak merupakan penggambaran situasi tersebut.
”Orang sana (suku Dayak) digambarkan selalu berkelompok. Misalnya ketika mau perang,” ucap dia.
Pemilik Yayasan Inggil tersebut menjelaskan, pada masa kolonial, pengetahuan tentang etnis-etnis di tanah air cukup minim.
Baru setelah merdeka, penjabaran soal etnis di luar Jawa mulai berkembang.
Makin pesat lagi setelah orde baru.
Utamanya saat musim transmigrasi dari Jawa ke sejumlah wilayah di Kalimantan Timur dan Tengah.
Itu terjadi pada era 1960 sampai 1970-an.
”Akhirnya makin banyak orang yang melihat sendiri orang sana seperti apa. Bersamaan dengan itu, istilah sak ndayak itu makin banyak diucapkan warga di Jawa,” tandas dia. (biy/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana