MALANG, RADAR MALANG - Universitas Brawijaya (UB) kembali menancapkan taringnya di kancah global. Kali ini, kabar membanggakan datang dari Fakultas Ilmu Administrasi (FIA). Salah satu dosen terbaiknya, Brillyanes Sanawiri, Ph.D., yang juga merupakan Kepala Pusat Pengelolaan Inovasi Unggulan, Universitas Brawijaya, resmi didapuk sebagai Co-Chair Western Australia–East Java Universities Consortium (WAEJUC) for Research untuk masa bakti 2026–2028.
Penetapan posisi strategis ini diputuskan dalam Rapat Koordinasi WAEJUC for Research yang digelar di Universitas Airlangga, Surabaya, awal April lalu. Forum tersebut menjadi ajang berkumpulnya para petinggi perguruan tinggi lintas negara untuk membedah evaluasi program joint research antara Jawa Timur dan Australia Barat.
Bukan sekadar seremonial, kehadiran UB dalam forum tersebut membawa angin segar bagi tata kelola riset internasional. Salah satu poin krusial yang disepakati adalah efisiensi monitoring dan evaluasi (monev).
Kedepannya, setiap institusi akan melakukan monev secara mandiri namun tetap melalui satu pintu pelaporan yang terpusat. Skema ini dinilai jauh lebih efektif untuk menjaga standar mutu riset tanpa harus terbentur birokrasi yang berbelit di masing-masing anggota konsorsium.
"Penguatan koordinasi dan penyelarasan kebijakan menjadi kunci agar program ini berkelanjutan," ungkap salah satu poin pembahasan dalam forum tersebut.
Dipilihnya Brillyanes bukan tanpa alasan. Kapasitas akademis dosen Departemen Administrasi Bisnis, FIA UB yang mendapatkan gelar Ph.D (Doktoral) dari Curtin University, Australia ini, diharapkan mampu membawa perspektif baru dalam inovasi dan tata kelola jejaring kelembagaan. Tak hanya antar universitas, misi besarnya adalah membuka pintu lebar-lebar bagi kolaborasi dengan sektor industri.
Langkah strategis ini sekaligus menjadi bukti nyata komitmen UB dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Mulai dari pendidikan berkualitas (SDG 4), inovasi dan infrastruktur (SDG 9), hingga kemitraan global (SDG 17).
Sebagai agenda terdekat, anggota konsorsium dijadwalkan akan menggelar evaluasi akhir pada Oktober 2026 mendatang. Momen tersebut akan menjadi batu loncatan untuk merumuskan strategi baru agar kolaborasi Jawa Timur dan Australia Barat ini memberikan dampak nyata yang dirasakan dunia.
Kiprah ini semakin mempertegas posisi Malang khususnya Universitas Brawijaya sebagai salah satu poros utama pengembangan ilmu pengetahuan di level internasional.
Editor : A. Nugroho