Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Gubernur Jatim Punya Program Ketahanan Pangan, 57 SMA-SMK di Kabupaten Malang Sudah Menerapkannya  

Indah Mei Yunita • Rabu, 15 Juli 2026 | 13:03 WIB
INOVATIF: Siswa-siswi SMKN 2 Singosari menjalani program ketahanan pangan kemarin (14/7).
INOVATIF: Siswa-siswi SMKN 2 Singosari menjalani program ketahanan pangan kemarin (14/7).

 

KEPANJEN - Pembelajaran sekolah tidak melulu di kelas. Selain di ruang kelas, pembelajaran juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan. Salah satunya melalui program ketahanan pangan. Itulah yang diterapkan oleh 57 sekolah di Bumi Arema.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jatim Aries Agung Paewai mengatakan, sekitar 57 sekolah di Malang raya yang sudah menerapkan program tersebut meliputi SMA, SMK, hingga SLB negeri maupun swasta.

“Khusus Kabupaten Malang ada 7-8 sekolah yang sudah ada ketahanan pangan,” ujarnya ditemui di SMKN 2 Singosari beberapa waktu lalu.

Dia memaparkan, sekolah dengan ketahanan pangan merupakan program yang diinisiasi oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Penerapannya dengan memanfaatkan ruang publik di sekolah sebagai sarana interaksi antara guru dan siswa-siswinya.

“Banyak ruang publik sekolah yang tidak berfungsi maksimal. Padahal harus produktif, sehingga dimanfaatkan melalui ketahanan pangan,” imbuh pejabat eselon II A itu.

Salah satu sekolah yang menerapkan program tersebut adalah SMKN 2 Singosari. Di sekolah tersebut, siswa-siswi bisa belajar menanam berbagai jenis tanaman. Mulai jahe, tomat, cabai, hingga kangkung. Penebaran benih untuk jenis-jenis tanaman tersebut dilaksanakan awal tahun lalu.

Dalam ketahanan pangan, Aries melanjutkan, siswa tidak hanya mempelajari pertanian. Banyak disiplin ilmu lain yang dapat diintegrasikan dalam ketahanan pangan.

“Ada pembelajaran statistik, biologi, hingga fisika. Oleh karena itu, program ini harus dimaksimalkan sekolah sebagai ruang interaksi di lingkungan,” ungkap mantan Penjabat (Pj) Wali Kota Batu tersebut.

Sekolah yang lahannya terbatas juga masih bisa menerapkan program tersebut. Tentunya dengan memanfaatkan teknologi pertanian yang semakin berkembang.

“Misalnya dengan mengembangkan hidroponik,” kata dia.

Hidroponik merupakan metode budidaya yang memanfaatkan air sebagai media tumbuh utamanya. Sebagai ganti zat hara yang biasa didapatkan dari tanah, metode tersebut menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman yang dilarutkan ke dalam air. Melalui hidroponik, sekolah dapat memanfaatkan area dinding, atap (rooftop), maupun selasar kelas yang terbatas untuk menanam berbagai sayuran produktif.(yun/dan).

Editor : Mahmudan
Sekolah ketahanan pangan gubernur jatim ketahanan pangan