Aksi nekat pemuda bernama Tito itu sempat disaksikan beberapa pengendara yang sedang melintasi jembatan di depan kampus Universitas Brawijaya. Seketika lalu lintas menjadi macet. Para pengendara motor berhenti di atas jembatan sisi barat dan berusaha melihat ke arah sungai tempat Tito menjatuhkan diri.
Beberapa saksi mata mengatakan bahwa Tito melompat dari atas jembatan sekitar pukul 15.30. Ketinggian jembatan jika diukur dari permukaan air di bawahnya mencapai 30 meter. Tubuh Tito pun seperti menghilang setelah tercebur ke aliran sungai.
”Awalnya saya mendengar teriakan seorang perempuan. Saat saya tengok, ternyata ada pemuda yang melompat dari atas jembatan ke sungai,” kata salah seorang pengendara yang sedang berada di sekitar jembatan.
Dia menjelaskan, korban tampak mengenakan kaus merah dan celana pendek berwarna cokelat. Saksi yang merupakan pengemudi ojek online itu sempat melihat sebagian tubuh korban yang melayang meninggalkan jembatan sebelum menghilang dari pandangan.
Beberapa orang langsung mendekati titik jembatan tempat Tito melompat ke sungai. Mereka menemukan sebuah pisau cutter dan titik-titik darah di atas trotoar dan pagar jembatan. Barang bukti tersebut langsung diamankan kepolisian.
Sempat muncul dugaan bahwa Tito menyayat tangan kirinya sebelum melompat ke sungai. Tapi, Kapolsek Lowokwaru AKP Anton Widodo menyangsikan dugaan tersebut. ”Pisau cutter itu tidak ditemukan bercak darah sama sekali,” ucap dia.
Tim SAR yang datang langsung menuruni tebing menuju aliran sungai untuk mencari tubuh Tito. Sebagian langsung melakukan penyisiran dasar hingga ke dasar sungai. Jasad pemuda itu akhirnya ditemukan sekitar pukul 16.30. Jaraknya sekitar 500 ke arah timur dari titik awal korban jatuh ke sungai.
Didik, 43, warga setempat yang menyaksikan proses pencarian mengungkapkan bahwa jenazah korban sempat tenggelam ke dasar sungai. ”Tubuhnya sempat terlihat dari atas jembatan yang memiliki rangka besi (sisi timur) . Tapi kemudian tenggelam lagi,” ujarnya.
Menurut Didik, tim SAR melakukan pencarian secara manual dengan menginjak dasar sungai. Jenazah kemudian ditemukan di tengah aliran sungai yang memiliki kedalaman sepinggang orang dewasa.
Dengan metode menginjak-injak dasar sungai, salah seorang relawan akhirnya merasakan kaki korban. Akhirnya jenazah bisa diangkat dan dibawa ke tepi sungai. Berdasar pengamatan awal para relawan dan polisi, di tubuh korban tidak ditemukan luka-luka yang mencurigakan. Namun untuk lebih memastikannya, jenazah korban diperiksa di Unit Forensik RSSA. (biy/fat) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana