Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Per Hari Latihan Tiga Jam, Mampu Memanah 40 Meter

Mardi Sampurno • Senin, 22 Agustus 2022 | 22:45 WIB
Liling Riahelda for radar malang
Liling Riahelda for radar malang
Cerita perjalanan Liling Riahelda tergolong unik. Berawal dari mengantar sang suami di tahun 2018 yang memiliki hobi memanah dan berkuda, tak disangka dia mulai mengikuti jejak tersebut. Hampir setiap hari, Liling berlatih memanah selama 2 hingga 3 jam. Dengan segala keterbatasan lokasi latihan di Kota Batu, dia sering berpindah-pindah lapangan dari satu desa ke desa yang lain. 

“Ya, awalnya saya bisa memanah dengan jarak 8 meter. Ini pun latihannya harus mencari lapangan dengan tingkat keamanan yang tepat. Mulai dari di lapangan di daerah Sisir hingga berpindah ke area Desa Oro-Oro Ombo,” ujar perempuan berkacamata ini. 

Berkat konsistensinya belajar setiap hari itu, kemampuan memanahnya mulai meningkat. Yang semula anak panah melesat sejauh 8 meter akhirnya meningkat menjadi 25 hingga 40 meter. Akhirnya, Liling pun mulai percaya diri untuk berkompetisi. “Saya masih ingat, pertama kali ikut kompetisi itu di Sidoarjo. Saat memanah itu rasanya degdegan, tangan pun gemetar, apalagi saya mengajak anak yang berusia 1 tahun,” terang ibu dua anak ini. 

Salah satu kompetisi yang cukup berkesan bagi Liling yakni Askar Baluarti Somba dan Opu di Sulawesi Selatan pada September 2019. Pasalnya, seorang peserta harus memanah dan mengelilingi benteng. “Saya harus memanah lalu berlari mengelilingi Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa dengan terik panasnya Makassar. Apalagi urusan fisik harus diutamakan,” jelas juara 1 Putri Askar Baluarti Somba dan Opu Sulawesi Selatan ini. 

Tak disangka, seorang Ibu rumah tangga ini aktif mengikuti kompetisi panahan hingga ke berbagai daerah. Mulai dari Surabaya, Lamongan, Ponorogo, Magetan, dan sebagainya. Apalagi, dia telah mendirikan sebuah sekolah bernama “Seneng Manah”. Sekolah ini didirikan pada tahun 2021. Kini, sekolah miliknya telah memiliki 45 orang peserta didik. 

Sebagai informasi, jenis panahan yang digemari Liling adalah cabang olahraga baru. Tepatnya, Komisi Horseback Archery dibawah Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi). Selain itu, jenis busur dan anak panah yang digunakan Liling ini berbeda dengan panahan lainnya. Sebutan alat tersebut adalah horsebow. Yaitu, busur panah tradisional dengan anak panah dari bambu atau kayu. Jadi, seluruh kegiatan panahan ini bergantung penuh pada kemahiran atletnya. 

Bagi Liling, ketika sebuah anak panah melesat tepat sasaran itu mampu menciptakan sensasi tersendiri. “Setiap saya mampu melesatkan anak panah tepat sasaran itu rasanya ada kepuasan sekaligus rasa bangga. Badan yang semula lelah kembali menjadi fit,” ujar peraih juara 2 Kejurnas Pordasi Horseback Archery Championship 2022 ini. 

Pada Kejurnas yang berlangsung pada Februari 2022 di Lapangan Tembak Rindam Bedali Lawang, Liling berhasil menempuh seleksi yang sangat ketat. Dari ribuan orang yang mengikuti seleksi, hanya ada 8 perwakilan dari Jawa Timur. Liling-lah perwakilan dari Malang Raya. 

Saat Kejurnas, perempuan kelahiran Batu, 7 Februari 1992 ini sempat mengalami tantangan yang luar biasa saat memanah dengan jarak 40 meter. Dia mengaku, sejak pukul 12.30, tiba-tiba cuaca hujan disertai angin. Dengan kacamata yang mulai mengembun, dia harus melesatkan 7 anak panah. Dari 32 besar, dia melaju ke 16, 8, hingga babak final. “Sampai detik ini, saya tidak menyangka dapat melaju sejauh ini dalam dunia panahan. Untuk tahun sekarang ini arah fokusnya akan memanah dengan berkuda,” tutupnya. (abm) Editor : Mardi Sampurno
#Atlet Malang #Panahan #etlet panahan #Liling Riahelda