Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pemerintah Kabupaten Malang Target 393.303 Ton Padi

M
Penulis: Mahmudan❯
GENJOT PRODUKSI: Petani di Desa Sumberjaya, Kecamatan Gondanglegi memanen padi menggunakan alat berat.
GENJOT PRODUKSI: Petani di Desa Sumberjaya, Kecamatan Gondanglegi memanen padi menggunakan alat berat.

KEPANJEN - Selama dua tahun terakhir lalu, produksi padi di Kabupaten Malang terus menurun. Pada 2024 hanya mencapai sekitar 403 ribu ton. Padahal, pada 2023 lalu, produksinya mencapai sekitar 488 ribu ton. Sedangkan pada Januari-November 2025 lalu, realisasi produksi padi berkisar 362.048 ton.


Advertisement

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Avicenna Medisica Sani Putera menyebut, salah satu faktor yang menjadi penyebab rendahnya angka panen yakni cuaca ekstrem.

Selain itu, adanya persaingan dengan komoditas lain seperti hortikultura dan jagung. Banyaknya infrastruktur irigasi yang rusak dan belum ditangani juga menjadi kendala.“Tahun ini, target produksi mencapai 398.303 ton. Kami terus berupaya mencapai target tersebut,” ujarnya kemarin (6/1).

Strategi utamanya untuk mencapai target adalah intensifikasi produk dengan menggunakan bibit unggul. Salah satunya dengan mengembangkan varietas padi baru bernama Sukma yang memiliki produktivitas mencapai 14 ton per hektare.

Advertisement

“Saat ini, produktivitas rata-rata padi hanya 6-7 ton per hektare. Jika rata-rata produktivitas sekitar 10 ton per hektare saja, ada potensi peningkatan lebih dari 30 persen,” kata pejabat eselon II B Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang itu. Dengan demikian, dapat membantu meningkatkan produksi padi secara keseluruhan.

Dia melanjutkan, pengembangan padi Sukma sudah melalui uji multi lokasi dan ketahanan hama. Dia berharap, tahun ini dapat dilakukan pelepasan bibit unggul tersebut. Sehingga benihnya dapat disebarkan secara masif kepada seluruh petani.

Seperti diberitakan, terdapat Standar Operasional Prosedur (SOP) jika menginginkan hasil panen maksimal dengan menggunakan bibit Sukma. Terutama jarak tanam harus 30-30-40 atau dibalik 40-30-30. Artinya, antara padi yang ditanam pada baris pertama dan kedua diberi jarak 30 sentimeter.

Advertisement

Begitu pula dengan baris kedua dan ketiga. Sedangkan baris ketiga dan keempat diberi jarak 40 sentimeter. Dengan menerapkan jarak tanam tersebut, diyakini dapat meningkatkan produktivitas. Sebab, semakin banyak tanaman yang mendapat sinar matahari langsung.

Selain itu, dia melanjutkan, pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari kelompok tani (poktan) juga akan dimaksimalkan. Secara teknis, pengaturan irigasi perlu dilakukan,utamanya saat musim kemarau.

“Kalau musim hujan seperti ini, irigasinya tidak masalah. Sekitar Juni (kemarau) nanti harus mulai diantisipasi. Kami ajak kelompok tani untuk melakukan pemeliharaan irigasi,” pungkasnya. (yun/dan)

Advertisement
Editor : Aditya Novrian
Sumber : Radar Malang

Artikel Terkait

Penampungan Hewan Ganggu Akses Irigasi

Penampungan Hewan Ganggu Akses Irigasi

Bangunan penampungan anjing dan kucing milik Pak Dur alias Hadi Wiyono di Dusun Sukosari, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, menjadi sorotan setelah inspeksi Satpol PP Kabupaten Malang, Senin (5/10). Bangunan itu

Tekan Angka Stunting lewat Sembilan Kebun Benih Desa

Tekan Angka Stunting lewat Sembilan Kebun Benih Desa

Ada cara baru dalam menekan angka stunting (pertumbuhan terhambat) di Kabupaten Malang. Yakni membangun sembilan Kebun Benih Desa (KBD) di kantong-kantong stunting. Leading sektornya adalah Dinas Tanaman Pangan,

Pertanian Bawang Putih Terdampak Cuaca

Pertanian Bawang Putih Terdampak Cuaca

Bawang putih merupakan salah satu produksi pertanian yang terimbas kemarau panjang. Itu terlihat dari minimnya lahan yang panen. Dari total 20 hektare tanaman bawah putih, hasil panen dalam kurun delapan bulan ini,

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer