Ada ratusan perusahaan rintisan yang mampu berkembang dan menyerap tenaga kerja.
”Kami mencatat justru masih eksis karena daya juang tiap perusahaan pasti beda, apalagi kami ada komunitasnya,” ujar Ketua Komunitas Startup Singo Edan (Stasion) Kota Malang M. Ziaelfikar Albaba. Pria yang akrab disapa Fikar itu menjelaskan bila dinamika startup di Kota Malang cenderung tumbuh sehat. Khususnya dalam waktu lima tahun terakhir. Kondisi itu memberi sinyal bila di Kota Malang tidak ada persaingan yang menjatuhkan.
Justru antar pengusaha startup saling berkolaborasi hingga menjadi sebuah komunitas. Fikar juga menyebut bila minat pencari kerja milenial saat ini lebih banyak tertuju ke perusahaan startup. Khususnya yang bergerak di bidang teknologi informatika. Dia mendasarkannya pada jumlah lulusan bidang informasi teknologi (IT) di Kota Malang, yang berjumlah 4.800-an orang (selengkapnya baca grafis). ”Melihat kondisi ini kadang ada juga yang membuat perusahaan sendiri,” tambah dia.
Dari pengamatannya, ada beberapa cara ampuh yang dilakukan perusahaan startup di Kota Malang untuk bertahan. Salah satunya yakni menjalin program kerja sama dengan pihak lain. Tak jarang perusahaan mendapat efek positif dari kerja sama tersebut. Seperti terus kekurangan tenaga kerja baru. ”Ini jadi kebalikan yang ada di kota besar lain, di sini malah cari-cari (pekerja),” lanjut Fikar.
Di tempat lain, Dinas Tenaga Kerja - Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPTSP) Kota Malang turut memastikan bila di tahun ini pihaknya tidak mencatat adanya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) di perusahaan startup. Hingga pertengahan tahun, dominasi kasus PHK masih terjadi di sektor industrial. ”Hanya ada 26 kasus masalah hubungan industrial yang terlapor di kami, startup tidak ada,” beber Kepala Bidang (Kabid) Tenaga Kerja Disnaker-PMPTSP Kota Malang Titis Andayani.
Titis menambahkan, pekerja yang melaporkan kasus PHK dan perselisihan hak pekerja umumnya berasal dari perusahaan berupa pabrik. Serta usaha kelas menengah hingga kalangan yayasan di bidang pendidikan. Jika dirinci, ada 11 kasus perselisihan hak pekerja. Dari yang dilaporkan tersebut, ada empat kasus yang selesai dengan perjanjian bersama (PB). Sementara yang masih dilakukan mediasi berjumlah tujuh kasus.
Sementara untuk kasus PHK, Titis mencatat ada 15 kasus. Dari 15 kasus tersebut, ada enam kasus yang sudah selesai dan dilakukan PB. Sementara sisanya ada 9 kasus yang masih menjalani proses mediasi.
”Jika ada kasus yang melibatkan tenaga kerja, kami tetap tangani. Begitu juga dengan di startup,” tutur Titis
Di tempat lain, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang Erny Fatma Setyoharini menyebut bila jumlah angkatan kerja di Kota Malang sepanjang 2021 mengalami peningkatan 2,46 persen. ”Pada Agustus 2021 ada peningkatan 2,46 persen jika dibandingkan Agustus 2020, atau bertambah 11.562 orang,” kata dia. Lebih lanjut, Erny mengatakan bila jumlah penduduk pekerja di kegiatan formal hingga Agustus 2021 tercatat di angka 246.859 orang atau 56,67 persen. Selain itu, pihaknya juga mencatat ada 188.771 orang 43,33 persen penduduk yang bekerja di sektor informal.
Koran ini turut mengonfirmasi sejumlah perusahaan startup di Kota Malang. Hasilnya, mereka menyebut bila per tahun ada tren peningkatan jumlah karyawan. Misalnya Ngalup.co. Per tahunnya, mereka mencatat ada peningkatan jumlah pelamar kerja sebesar 10 persen. Andina Paramitha, CEO perusahaan co-working space dan collaborative network itu mengatakan bahwa kebutuhan lapangan pekerjaan digital pasca pandemi masih menjadi primadona bagi generasi milenial. ”Sehingga Ngalup menjadi salah satu referensi bagi mereka yang ingin terjun di dunia startup,” ujarnya.
Dia memastikan bila pandemi yang sudah berlangsung dua tahun tidak menyurutkan minat pelamar. ”Bisnis pun juga tidak terganggu meski ada pandemi,” tambah Andina. Saat ini Ngalup.co memiliki 15 karyawan. Terdiri dari divisi Program, Partnership, Operasional, dan Growth Hacker atau Social Media. Saat ini Andina juga mengatakan bila membuka program magang merdeka belajar yang bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.
Di tempat lain, startup Nakula Sadewa yang bergerak di bidang pembuatan mesin antrean juga mengakui bahwa pandemi tidak terlalu berimbas pada serapan kerja. ”Setiap tahun ada sekitar 10 persen peningkatan pelamar. Kami tidak hanya melihat dari pendidikan saja, tapi juga skill,” ujarnya. Saat ini, total ada 17 karyawan di Nakula Sadewa yang terdiri dari HRD, IT retail, IT development. Selama ini, perusahaan startup memang identik dengan produk-produk teknologi. Upaya pemasaran produknya cenderung banyak dilakukan secara online. (adn/mit/by)
Editor : Mardi Sampurno