“Jika terus menggunakan sistem manual, akan menghabiskan banyak waktu,” ujar Rahmat Hidayat, salah satu pendiri BSM. Selain Rahmat, mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang Wasto yang dikenal peduli lingkungan itu juga turut mendirikan BSM.
Dengan menggunakan sistem digital, Rahmat mengatakan, BSM dapat lebih mudah mencatat sampah, juga saldo yang keluar-masuk. Buku rekening yang dipegang oleh nasabah juga akan dicetak dengan menggunakan komputer. ”Nasabah juga akan mendapat pesan melalui SMS dan WA setiap melakukan transaksi di BSM,” imbuh pejabat eselon III B Pemkot Malang itu.
Rahmat menyampaikan, setiap harinya BSM menerima 1,5 ton hingga 2,5 ton sampah. “Masyarakat mulai sadar memilah sampah, dan mulai bijak menggunakan sampah,” kata Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berdinas di Satpol PP Kota Malang itu.
Ke depannya, kata Rahmat, BSM akan menggunakan aplikasi yang saat ini masih dalam pengembangan. Dengan dibantu program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari PLN Peduli, BSM menciptakan inovasi- inovasi baru seperti sistem digital. Ke depannya akan menggunakan aplikasi melalui play store. “Sudah sejak 2011 PLN Peduli terus mendampingi perkembangan BSM,” tutup Rahmat
Dengan berakhirnya pandemi Covid 19 ini, Rahmat berharap tahun depan nasabah BSM meningkat. Bank Sampah Unit (BSU) di masing-masing tingkat RT/RW yang selama ini kurang aktif, diharapkan segera aktif. Demikian juga masyarakat yang belum menjadi nasabah, diharapkan segera menjadi nasabah BSM. ”Dengan menggeliatnya ekonomi dan aktivitas sosial, mari kita manfaatkan bantuan TJSL PLN Peduli ini untuk memberdayakan masyarakat,” kata dia.
Sementara itu, kemudahan sistem digital ini sudah dirasakan oleh Luluk Sri Wilujeng, salah satu nasabah BSM. “Sekarang buku rekening lebih rapi. Jadi saya lebih mudah untuk mengeceknya,” kata Luluk yang sudah lima bulan menjadi nasabah BSM tersebut.
Selain itu, nasabah juga dapat meminta rekening koran untuk memeriksa transaksinya apabila nota yang didapatkannya hilang. BSM memiliki empat kategori nasabah yaitu, masyarakat, individu, tingkat pendidikan, dan komunitas atau instansi.
Luluk terdaftar di BSM sebagai nasabah untuk kategori masyarakat. Setiap bulannya, Luluk menyetor satu pick up sampah ke BSM. “Warga saya rajin bersih- bersih rumah. Semua barang yang tidak dipakai akan dijual,” ujar Luluk yang juga koordinator BSM di RW 05 Kelurahan Blimbing itu.
Hasil jual sampah tersebut akan dibagikan setiap lebaran dan sebagian akan dimasukkan ke kas RW. “Lumayan, sebulan bisa dapat Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu,” imbuhnya.(kr1/dan) Editor : Mahmudan