Dari salah satu rumah terdengar pertengkaran pasangan suami istri siri yang berlanjut pada penganiayaan. Hingga tadi malam masih dilakukan mediasi dengan bantuan pamong setempat.
Keributan itu terjadi antara AS, 34 (laki-laki), dan FS, 33 (perempuan). Ketika ditemui Jawa Pos Radar Malang sekitar pukul 09.50, FS mengaku masih trauma.
”Kejadiannya sekitar pukul 09.30. Kepala saya dipukul dengan adaptor charger ponsel,” kata FS dengan sedikit terbata-bata.
Kala itu AS dalam kondisi emosi yang meledak-ledak. Setelah memukulkan charger ke kepala istri sirinya, dia masih berupaya melakukan pemukulan dengan benda lain.
|Baca Juga :
Pembunuh Songgoriti Sering Berhalusinasi
Pertengkaran dengan suara keras itu pun mengundang para tetangga untuk berdatangan. FS akhirnya dievakuasi ke rumah salah seorang warga.
Sambil menunjukkan bagian kepala yang kena pukul, FS mengaku sempat merasa kesakitan. Kepalanya terasa pusing, sementara perutnya mual-mual. (Bersambung di halaman selanjutnya)
Sebab, pukulan dengan benda keras itu mengenai area jahitan operasi buka tengkorak yang pernah dia jalani pada 2012 silam. Operasi itu dilakukan akibat kecelakaan lalu lintas.
Permasalahan ekonomi tampaknya menjadi penyebab keributan itu. Menurut FS, suami sirinya marah-marah setelah dia meminta uang. ”Cuma Rp 200 ribu. Kaitannya sama nafkah harian,” ungkap dia.
Selama ini, AS dan FS bekerja sama dalam usaha pembangunan rumah. FS bertugas merancang keuangan usaha dan mencari pinjaman untuk modal.
Uangnya kemudian dipegang oleh AS. Dalam kerja sama itu, AS masih memasukkan istri lama dia ke dalam struktur. Sehingga uang hasil usaha dibagi bertiga. ”Tapi kalau saya minta uang, setengah mati keluarnya,” kata FS.
Rencananya, uang Rp 200 ribu itu akan digunakan untuk mengangsur utang dan biaya beli obat anak.
Namun, FS menduga suami sirinya itu cemburu karena orang yang memberi pinjaman adalah laki-laki. Tidak terima, AS marah dan berdebat, hingga akhirnya terjadi pemukulan.
|Baca Juga :
Bocah Korban Ledakan Petasan di Kasembon Masih Dirawat Intensif
Dalam kurun waktu satu tahun, FS menghitung setidaknya telah terjadi lima kali pemukulan. Hal itu berdampak pada kesehatan psikis korban.
Padahal keduanya sudah bersama dalam ikatan pernikahan secara agama selama sekitar tiga tahun. Bahkan sudah dikaruniai dua anak.
Hingga tadi malam, peristiwa penganiayaan itu juga belum dilaporkan ke polisi. Tapi, karena membuat geger satu lingkungan, pamong setempat memutuskan untuk turun tangan dalam bentuk bantuan mediasi. (biy/fat) Editor : Fathoni Prakarsa Nanda