Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

7 Kali Digigit Kobra, Sempat Koma di RSSA Malang

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 2 Agustus 2023 | 22:00 WIB
SANG PENAKLUK: Joe Javanese beratraksi dengan King Kobra di Predator Fun Park, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.
SANG PENAKLUK: Joe Javanese beratraksi dengan King Kobra di Predator Fun Park, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Suka dan Duka Menjadi Pawang Ular dan Buaya di Predator Fun Park

Terbiasa menangkap ular sejak kecil membuat Joe Javanese tumbuh menjadi pawang reptil, khususnya ular dan buaya. Pria 41 tahun itu berbagi pengalaman menjadi penakluk hewan melata. Bagaimana kisahnya?

AFIFAH RAHMATIKA FURZAEN

GERAKAN Joe gesit saat menghindari patokan ular Kobra, kemarin (1/8). Tangan kanannya tetap menggenggam ular, meski hewan melata itu berkali-kali berusaha mematok. Tak terlihat gusar atau takut di wajah pria 41 tahun itu. Atraksi Joe di kawasan Predator Fun Park, Kota Batu itu berhasil memikat para pengunjung.

Mereka tampak menikmati atraksi si pawang ular sekaligus pawang buaya tersebut. ”Saya terbiasa melihat ular. Tidak pernah takut, meski tidak ada ular yang jinak,” ujar Joe mengawali pembicaraannya dengan Jawa Pos Radar Malang, kemarin (1/8). Sejak 2017, Joe menjadi pawang ular dan pawang buaya di Predator Fun Park.

Tapi warga desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang itu terbiasa menangkap ular sejak berusia 16 tahun. Kala itu, Joe remaja kerap diajak sang ayah menyelamatkan ular. ”Dulu di Malang Selatan masih hutan belantara. Otomatis banyak ular. Saya sering diajak Ayah untuk menyelamatkan ular,” kata pria bernama asli Sujarno Abdul Rohim itu.

Selain ikut menangkap dan menyelamatkan reptil, Joe kecil berani memberi makan ular. Kebiasaan inilah yang membuat ia menjadi pribadi yang pemberani. Untuk diketahui, jarak rumah Joe dengan Pantai Bajulmati cukup dekat. Jika ditempuh dengan kendaraan bermotor dengan kecepatan sedang, hanya butuh waktu 15 menit.

Berbekal ilmu otodidak dan arahan ayahnya, Joe tumbuh menjadi pawang reptil. Mulai dari Pemadam Kebakaran (Damkar) hingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Malang Raya sering melibatkan keahlian Joe. Salah satu cerita pahit yang tak terlupakan bagi Joe adalah saat pertunjukan di Kota Malang, beberapa tahun silam.

Kala itu, Joe sedang edukasi penanganan ular kepada warga. Tiba-tiba King Kobra menyerang dan menyemburkan bisa ke tangan kanan Joe. “Akibatnya, saya sempat koma di RSSA Malang. Saya menghabiskan Rp 70 juta untuk biaya pengobatan,” tutur pria kelahiran Malang, 17 Juni 1982 ini.

Kini sudah 7 kali dia digigit ular berbisa dan puluhan kali diserang ular tak berbisa. ”Ular itu hewan yang tidak bisa ditebak. Kalau terancam sedikit saja pasti kesal. Misalnya, tubuh ular terinjak ya pasti menggigit,” kata ayah satu anak itu.

Keluarga Joe, termasuk istri dan anaknya juga tak takut pada reptil. Dia dipertemukan dengan sang istri gara-gara sesama pencinta reptil. “Anak saya kelas 1 SD. Sudah mulai kami kenalkan ular juga,” beber Joe yang mempunyai 30-an ekor ular di rumahnya.

Mulai dari ular sanca kembang, kobra, dan king kobra. Lantas kenapa dia menjadi pawang ular dan buaya? ”Saya hanya ingin menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Masyarakat harus paham, bahwa menabur garam ketika ada ular itu mitos. Ular takut sama wewangian tajam seperti pembersih lantai,” papar rekan Muhammad Panji atau Panji Petualang ini.

Ke depan, Joe akan terus memperjuangkan agar mendapatkan sertifikat. Sebab, selama ini Indonesia tidak mengenal sertifikat untuk pawang ular. Bagi dia sertifikat itu penting. Sebab dia menganggap pawang reptil adalah profesi, sehingga perlu sertifikat. “Walaupun sudah puluhan kali digigit ular, saya tidak trauma. Ular hanya perlu kita selamatkan habitatnya,” bebernya.

“Kalau ular habis, tikus semakin banyak,” tambahnya. Ketika berbagi ilmu kepada wisatawan di Predator Fun Park Kota Batu, Joe selalu berbagi tip agar aman dari gigitan ular. Dia menyarankan agar korban gigitan ular melakukan pertolongan pertama secara benar, kemudian mendapatkan perawatan medis.

”Kalau digigit ular, jangan diisap. Dilarang diikat, apalagi sampai ke dukun. Ambil sebilah bambu atau karton, lalu diikat di daerah yang terkena gigitan. Setelah itu, korban harus dibawa ke medis,” kata dia.

Sedangkan jika korban terlilit dan digigit ular piton, pastikan cek panjang ularnya terlebih dahulu. Jika panjang ular lebih dari 2 meter, sebaiknya yang membuka lilitan ada 2 orang. ”Kemudian untuk melepaskan gigitan ular, disiram air dan ekornya diberi panas (api),” papar dia. (*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#predator fun park batu malang #kobra