Taman Rekreasi Sengkaling UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) termasuk destinasi wisata yang merasakan dampak PPKM. "Jadi sepi sekali, adanya PPKM tentu memberatkan. Padahal biaya operasional tetap jalan," ujar Koordinator Taman Rekreasi Sengkaling UMM, Yeni Dwi Kurniawati hari ini (16/1).
Sebelum PPKM, pada hari biasa rata-rata kurang lebih ada 500 wisatawan yang datang ke Sengkaling. Sementara saat weekend, pelancong bisa mencapai 1.500-an orang. Sementara saat ini, jumlah kunjungan rata-rata tak sampai 25 persennya. "Kalaupun ada pembatasan kapasitas maksimal kami dari 18 ribu menjadi 50 persen saja, dari awal pandemi belum pernah tercapai. Apalagi sekarang," paparnya.
Yeni mengakui, pihaknya harus bersiasat agar Sengkaling tetap bisa menjadi jujukan wisatawan yang jumlahnya terus berkurang. ”Untuk meminimalisir pengeluaran, kami memperkerjakan karyawan secara bergantian,” terangnya.
Padahal menurutnya, dari segi prokol kesehatan (prokes) mereka sudah sangat siap. Di pintu masuk, pelancong diwajibkan melakukan pemeriksaan suhu badan dan cuci tangan. Jika suhu badan tidak normal, maka tidak diperbolehkan masuk ke Sengkaling.
Wisatawan juga diwajibkan memakai masker. Pemantauan melalui CCTV dilakukan untuk mengingatkan pengunjung yang lalai. ”Ada petugas yang rutin berkeliling ke seluruh penjuru lokasi wisata untuk mengawasi,” terangnya.
Banner berisi himbauan penjagaan prokes juga terpasang di beberapa sudut. “Kami sudah menyiapkan 35 tempat cuci tangan yang tersebar di seluruh penjuru. Itu merupakan upaya kami membuat para wisatawan nyaman,” tuturnya. Tak hanya itu, penyemprotan desinfektan secara rutin di tiap wahana juga dilakukan. “Apalagi di sini kan kolam renang menjadi yang paling difavoritkan. Jadi kami berikan klorine sesuai standar yang ditetapkan,” ucapnya.
Pewarta : Wildan Agta Affirdausy Editor : Ahmad Yani