KEPANJEN, RADAR MALANG – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Malang memang menunjukkan tren penurunan signifikan dalam dua tahun terakhir. Namun, ancaman penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti itu belum berakhir. Hingga 10 Juni 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang masih mencatat 374 kasus dengan delapan pasien meninggal dunia.
Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2024, kasus DBD sempat mencapai 4.175 kasus. Angka itu kemudian turun menjadi 1.823 kasus pada 2025 sebelum kembali menurun pada tahun ini.
Delapan Korban Jiwa Masih Jadi Perhatian
Meski jumlah kasus menurun, Dinkes Kabupaten Malang menegaskan bahwa kewaspadaan masyarakat tidak boleh berkurang karena korban meninggal masih ditemukan.
Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kabupaten Malang Chairiyah mengatakan, hingga pertengahan Juni tercatat delapan pasien meninggal dunia akibat DBD.
"Di antara pasien yang sedang dan pernah mengalami DBD tersebut, ada delapan orang yang meninggal dunia," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kanjuruhan.
Menurut Chairiyah, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penyebaran penyakit tersebut. Tingginya curah hujan pada awal tahun menyebabkan banyak genangan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
Baca Juga: Tak Hanya DBD, Nyamuk Aedes Aegypti Juga Sebabkan Penyakit Chikungunya Ini Penjelasan Medisnya!
Tidak hanya bak mandi atau tempat penampungan air, genangan pada barang-barang bekas seperti ban, botol plastik, pot tanaman, maupun wadah terbuka yang menampung air hujan juga berisiko menjadi sarang jentik nyamuk.
Kenali Gejala Awal DBD sejak Dini
Pengenalan gejala sejak awal menjadi kunci penting untuk menekan risiko komplikasi maupun kematian akibat DBD.
Chairiyah menjelaskan, gejala paling umum adalah demam tinggi yang muncul secara mendadak. Pada penderita DBD juga dikenal pola demam yang disebut fase pelana kuda.
"DBD biasanya ditandai dengan suhu tubuh yang naik secara mendadak dan tinggi. Terdapat fase yang dikenal dengan pelana kuda. Yakni demam tinggi pada awal, kemudian turun pada hari ketiga sampai kelima, lalu naik kembali," jelasnya.
Selain demam tinggi, penderita dapat mengalami nyeri tubuh, muncul bercak merah pada kulit, hingga mimisan. Jika gejala tersebut muncul, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapat penanganan lebih cepat.
Gerakan 3M Plus dan 1 Rumah 1 Jumantik
Untuk menekan penyebaran DBD, Dinkes Kabupaten Malang terus menggencarkan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus.
Program tersebut meliputi menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Baca Juga: Penderita DBD Wajib Tahu! Ini Makananan yang Bantu Menaikkan Trombosit
Selain itu, Dinkes juga menjalankan program Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) dengan melibatkan setiap keluarga sebagai pemantau jentik nyamuk di lingkungan rumah masing-masing.
"Kami juga menerapkan G1R1J yang melibatkan setiap keluarga untuk melaksanakan pemantauan jentik nyamuk secara rutin dan berkala di rumah masing-masing," kata Chairiyah.
Ia menambahkan, setiap kasus dugaan DBD yang ditemukan wajib segera dilaporkan kepada tenaga kesehatan. Laporan tersebut menjadi dasar pelaksanaan penyidikan epidemiologi dalam radius minimal 100 meter dari lokasi pasien untuk mendeteksi potensi penularan dan mencegah terjadinya kejadian luar biasa (KLB).
Editor : Aditya Novrian