Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ziath Bantah Rencanakan Pembunuhan

Mardi Sampurno • Jumat, 30 September 2022 | 03:06 WIB
Photo
Photo
Klaim Hanya Ingin Bikin Kapok Pacar Anak Tirinya 

KABUPATEN – Sidang kasus pembunuhan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) Bagus P. Lazuardy memasuki agenda pemeriksaan terdakwa. Kemarin (28/9), Ziath Ibrahim Bal Biyd selaku pelaku pembunuhan memanfaatkan momen itu untuk membela diri. Termasuk berusaha mengingkari upaya menguasai harta milik pacar anak tirinya itu. 

Sesuai agenda awal, sidang kemarin seharusnya dimulai dengan pemeriksaan saksi yang meringankan terdakwa. Namun saksi yang dimaksudkan untuk memberikan keterangan berbeda atau berlawanan dengan dakwaan jaksa itu tidak hadir di pengadilan. ”Kami tidak jadi menghadirkan saksi yang meringankan,” kata kuasa hukum Ziath, Eddy Waluyo SH, kepada majelis hakim. 

Majelis hakim yang dipimpin Guntur Nurjadi SH memutuskan untuk langsung melanjutkan sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa. Jaksa Sri Mulikah SH mendapat giliran pertama bertanya ke pria asal Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen tersebut. 

Jaksa mengawali dengan pertanyaan pembuka bagaimana Ziath bisa menjadi terdakwa kasus pembunuhan. Secara kronologis, pria berwajah Timur Tengah itu mengaku belum lama kenal dengan Bagus. Kalau dihitung sekitar satu bulan sebelum peristiwa pembunuhan. Yang mengenalkan adalah anak tirinya sendiri, Anastasia. 

Awal perkenalan, Ziath menyambut baik kehadiran Bagus sebagai kekasih Anastasia. ”Saya menitipkan Tasia supaya dijaga baik-baik,” kata terdakwa menjalani persidangan secara telekonferensi dari Lapas Lowokwaru tersebut. 

Namun, sikap Ziath terhadap Bagus lama-lama berubah. Kepada jaksa, Ziath mengaku tidak suka dengan perilaku Bagus yang kerap mencium anak tirinya itu. Terutama saat mengantar Tasia pulang ke rumah. 

Pria berusia 37 tahun juga mengaku sempat bersabar dan menasihati Bagus agar tidak melakukan hal semacam itu. Versi terdakwa, Bagus beralasan tidak bisa mengendalikan diri saat ingin mencium Tasia. Ziath semakin emosi karena dua sejoli tersebut kerap pulang terlalu larut malam. Sesuatu yang masuk ke dalam daftar larangan berpacaran menurut Ziath. 

Hingga akhirnya, pada 7 April 2022, sekitar pukul 15.00, Ziath mendengar kabar bahwa Bagus mengalami kecelakaan. Kemudian keduanya membuat janji untuk bertemu pada malam hari, setelah Bagus mengantar Tasia pulang. ”Saya tanya, lho, Gus, katanya kamu habis kecelakaan. Kok mau pulangkan anak saya? Hati-hati di jalan. Dia jawab, tidak apa-apa dan sudah enakan,” papar Ziath. Menurutnya, keterangan bahwa Bagus sempat mengalami kecelakaan itu ada dalam hasil visum dan chat Bagus ke Tasia. 

Malam itu, sekitar pukul 19.30, Ziath mengajak Bagus mencari tempat minum kopi. Keduanya lantas mengendarai mobil Toyota Innova milik Bagus menuju sebuah kafe di kawasan Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang. Awalnya Bagus yang mengemudikan mobil itu. Namun karena tubuhnya condong ke kanan dan dirasa kurang hati-hati, Ziath menggantikan posisi Bagus setiba di Alun-Alun Merdeka. 

Saat sampai di Sawojajar, ternyata kafe yang dituju tutup. Keduanya pun terus mencari tempat ngopi hingga menghentikan mobil di depan sebuah minimarket di Mondoroko, Kecamatan Singosari. Awalnya, Ziath dan Bagus berbincang santai di dalam mobil. Salah satu topik yang dibicarakan adalah hubungan Bagus dengan Tasia. 

Suasana menjadi panas saat Ziath meminta Bagus menunjukkan isi chat atau percakapan dengan Tasia yang masih tersimpan di ponsel. Pada saat yang sama, Ziath meletakkan pistol berbentuk korek api di dashboard mobil. 

”Saya membaca ada percakapan yang berbunyi ’mainkan alat vitalmu dengan jari’. Saat itu saya langsung marah,” beber pria keturunan Arab tersebut. Namun di bawahnya ada balasan dari Tasia yang menolak permintaan Bagus dengan alasan takut robek. 

Namun Ziath sudah terlanjur emosi. Dia menindih Bagus dan membekap kepalanya dengan kantong plastik yang sebelumnya berada di bangku tengah. ”Lima sampai tujuh menit saya bekap. Saya melakukan hal itu karena ingin memberi pelajaran supaya kapok saja,” aku Ziath ke majelis hakim. Dia juga menyangka perbuatan tersebut hanya akan membuat korban pingsan. 

Setelah dibekap, Bagus tampak tidak bergerak sama sekali. Seperti orang pingsan. Ziath berusaha membangunkan, namun tidak ada reaksi. Dalam kondisi panik, Ziath mengendarai mobil ke arah Kota Malang dan memarkirnya di Ruko Kolumbia Jalan Kyai H Tamin, Kecamatan Klojen. Di dalam mobil itu masih ada jenazah Bagus. 

Selanjutnya Ziath mengambil sepeda motor yang sebelumnya dititipkan di rumah saksi bernama Yopi, lanjut pulang ke rumah. Pada 8 April 2022, Ziath kembali ke ruko dan mengendarai mobil tersebut. ”Saya mau buang jenazah korban. Awalnya ke arah Tretes. Karena tidak ada lahan yang pas, saya kembali ke arah Malang. Baru ketika di Purwodadi, ada tanah yang pas dan saya buang di sana. Dekat Polsek Purwodadi,” ujar dia. 

Berkaitan dengan barang bukti korek api yang besarnya hampir menyerupai ukuran asli pistol, Ziath mengaku membawanya untuk diisi gas di rumah Yopi. Namun karena Yopi tidak memiliki isinya, Ziath membawanya sampai pada saat pembunuhan. 

Untuk dugaan pencurian harta Bagus, Ziath juga tidak mengaku. Dia malah menceritakan janji Bagus yang ingin membelikan mobil untuk Tasia. ”Saya minta perlihatkan berapa uangnya. Dia langsung menunjukkan,” kilah Ziath. 

Namun hakim anggota Nanang Dwi Kristanto tidak percaya dan menguji Ziath dengan sejumlah pertanyaan dan keterangan dalam berita acara pemeriksaan. Akhirnya Ziath mengaku sempat menanyakan PIN ATM Bagus, kemudian memindahkan saldonya ke deposit Gojek. (biy/fat) Editor : Mardi Sampurno
#pembunuhan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) #kabupateng malang #Pembunuhan #Kota Malang