Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 21 dan Kisah tentang Bisikan Murid Abdullah bin Mubarok yang Bikin Kuda Jinak

A. Nugroho • Kamis, 12 Maret 2026 | 04:00 WIB

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 21 dan Kisah tentang Bisikan Murid Abdullah bin Mubarok yang Bikin Kuda Jinak
Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 21 dan Kisah tentang Bisikan Murid Abdullah bin Mubarok yang Bikin Kuda Jinak

MALANG - Hadis ke-21 dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar didasarkan riwayat Ibnu Abbas. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:


“Barang siapa memberikan rasa bahagia dan senang pada hati saudaranya yang muslim di alam dunia maka Allah menjadikan satu malaikat dari rasa bahagia itu yang akan melindunginya dari bencana-bencana.


Ketika Hari Kiamat telah terjadi, malaikat itu akan menjadi teman baginya. Kemudian ketika ia mengalami kesulitan yang mengagetkannya, maka malaikat itu berkata: “Jangan takut!”
“Siapa kamu?,” tanyanya.


“Aku adalah rasa bahagia dan senang yang kamu berikan kepada saudaramu yang muslim di alam dunia,” jawab malaikat.


Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Memberikan rasa senang pada hati orang mukmin adalah lebih bagus daripada ibadah 60 tahun.”


Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 20 dan Kisah tentang Langit yang Dilipat jika Seorang Pendosa Besar Bertaubat


Atas hadis ini, Syekh Muhammad bin Abu Bakar menyertakan sebuah hikayat. Alkisah, disebutkan bahwa Abdullah bin Mubarok melihat seekor kuda di pasar yang dijual dengan harga 40 dirham.


Ia bertanya kepada penjualnya, “Apa yang membuat kuda ini menjadi begitu murah?”
“Kuda ini memiliki beberapa kekurangan,” jawab si penjual.


“Apa kekurangan-kekurangannya itu?,” tanya Abdullah bin Mubarok.


“Kuda ini berlari pelan dan tidak bisa mengejar musuh. Kuda ini juga mudah lelah jika berlari hingga nantinya musuh bisa mengejarnya.

Kuda ini juga akan meringkik dan bersuara keras di tempat yang seharusnya tenang,” jelas si penjual.


“Wah kalau 40 dirham terlalu mahal!,” kata Abdullah bin Mubarok. Kemudian ia pergi dan tidak membelinya.


Akan tetapi, muridnya justru membeli kuda itu. Pada saat tiba waktunya perang, si murid ikut berperang dengan naik kuda tersebut. Kuda itu ternyata dapat berperan sangat baik.


Abdullah pun bertanya kepada si murid, “Apakah kamu tahu kekurangan-kekurangan kudamu?”


Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 8 Kisah 1 tentang Malaikat yang Diperintahkan Membangun Kakbah di Bumi


“Iya! Kuda ini memiliki kekurangan-kekurangan seperti yang mereka katakan,” jawab si murid. “Tetapi ketika aku membelinya, aku berkata di telinganya ‘Hai kuda! Sesungguhnya aku telah meninggalkan dosa dan bertaubat kembali kepada Allah. Oleh karena itu tinggalkanlah kekurangan- kekurangan pada dirimu!’”


Kemudian, lanjut si murid, “Kuda ini menggerakkan kepalanya tiga kali. Sepertinya kuda ini menjawab dengan senang karena aku telah meninggalkan dosaku. Aku jadi mengerti kalau kekurangan-kekurangan itu berasal dari pemilik kudanya dulu, bukan dari kudanya, karena kuda-kuda orang kafir dan yang dzalim akan melaknati pemilik-pemiliknya.”


“Bahkan,” sambungnya lagi, “Kuda-kuda itu akan menjatuhkan mereka (tuannya yang zalim) dari punggungnya. Ini seperti firman Allah: ‘Ingatlah! Laknat Allah akan menimpa orang-orang zalim. Ketika Allah melaknati seseorang maka segala sesuatu pun juga akan melaknatinya.’”


“Begitu juga kuda ini dulu,” tutur si murid. “Ia melaknati pemiliknya dulu yang kafir, zalim, munafik, atau sombong. Kuda itu menjatuhkan tuannya dari punggung ketika ia menaikinya.”


“Oleh karena itu dapat diketahui bahwa semua makhluk hidup akan merasa bahagia dan jinak kepada pemiliknya karena rasa bahagia yang diberikan olehnya. Begitu juga rasa bahagia itu akan menjelma bentuk di Hari Kiamat.

Kemudian jelmaan itu akan datang. Pemiliknya akan mengendalikannya. Kemudian jelmaan rasa bahagia itu akan membawanya ke surga,” tandas si murid.


Hadis dan hikayat ini memberikan pelajaran kepada kita tentang pentingnya berbuat baik kepada sama. Menjadi rahmat, pembawa rasa damai, bagi lingkungan sekitar. Termasuk kepada hewan sekalipun. Karena hewan pun bisa merasakan kebaikan itu. Dan, memberikan kebaikan kepada pihak lain pada hakikatnya memberikan kebaikan untuk diri sendiri. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)

Editor : A. Nugroho
#ushfuriyah #hadis #kuda #rasulullah #kitab