Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Brazilian Super League

A. Nugroho • Minggu, 24 Agustus 2025 | 19:50 WIB
Andika Satria Perdana, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang
Andika Satria Perdana, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang

Pentasnya orang Brasil. Predikat itu sepertinya cukup pantas disematkan untuk kompetisi sepak bola tertinggi di Indonesia, yang dulu namanya BRI Liga Satu. Mulai musim 2025/2026, titelnya berubah menjadi BRI Super League.

 

Salah satu fun fact musim ini yakni banyaknya orang Brasil yang merumput di BRI Super League. Dengan diberlakukannya aturan pendaftaran 11 pemain asing, jumlah pesepak bola asal negeri Samba ikut bertambah. Mengacu data Transfermarkt per 22 Agustus 2025, total ada 63 pemain Brasil di BRI Super League.

 

Negara kedua yang paling banyak mengirim pemainnya adalah Portugal. Total ada 14 pemain yang musim ini bergabung dengan tim-tim asal Indonesia. Ketiga ada Belanda dengan 12 pemain. Perbandingan yang cukup jauh.

 

Persija Jakarta menjadi klub yang paling banyak mengontrak pemain Brasil. Total ada 10 pemain yang gabung Macan Kemayoran musim ini. Posisi kedua Arema FC dengan sembilan pemain asal pesepak bola Neymar itu.  

 

Kondisi tersebut membuat pendukung tim ibu kota memiliki julukan baru. Persija bukan Jakarta, tapi Rio de Jainero. Untuk Arema, mungkin bisa menggunakan istilah Arema Maracana. Merujuk pada stadion terbesar di Brasil.

 

Sedikitnya ada tiga faktor yang menjadi alasan pemain-pemain Brasil diminati klub-klub Indonesia. Pertama, dari segi prestasi atau rekam jejak. Berdasar hasil kompetisi tiga tahun terakhir, top skor selalu berasal dari Brasil. Musim kompetisi 2022-2023 ada nama Matheus Pato. Kemudian musim 2023-2024, pencetak gol terbanyaknya adalah David Da Silva. Musim lalu, top skor diraih Alex Martins.

 

Faktor kedua karena pemain Brazil dikenal lebih cepat beradaptasi. Iklim di negara mereka sama dengan Indonesia. Sama-sama tropis.

Sehingga suhu dan cuacanya tidak berbeda jauh dengan di Indonesia. Makanan juga tak menjadi masalah berarti bagi pesepak bola Brasil.

 

Semakin banyak pemain yang berasal dari satu negara juga mempercepat adaptasinya dengan tim. Mereka juga cukup mengerti dengan beragam skema sepak bola. Faktor terakhir bisa jadi karena gajinya relatif murah.

 

Mengutip pernyataan Stefano "Teco" Cugurra pada Kumparan, 20 April 2020 lalu, alasan pemain Brasil menjamur di Indonesia hampir sama dengan di atas. ”Saya pikir pemain Brasil memiliki adaptasi yang lebih cepat dibandingkan negara lain untuk bermain di Indonesia. Mereka juga bisa membantu tim berprestasi,” ujar Teco saat masih menjadi pelatih kepala Bali United.

 

Alasan pertama karena cuaca tentu tidak menjadi hambatan. Selanjutnya, ada kemiripan antara sistem sepak bola Brazil dan Indonesia. Yakni sama-sama menekankan kemampuan individu daripada taktikal.

 

”Ada pemain yang bagus tapi tidak bisa masuk atau bertahan lama di tim besar Brasil. Akhirnya mereka memilih bermain di luar negara Brasil, salah satunya Indonesia, karena suasana di Brasil mirip dengan Indonesia,” tambah Teco dalam pernyataannya 2020 lalu.

 

Pernyataan itu memperkuat faktor yang ketiga, yaitu pemain Brasil harganya relatif murah. Itu terjadi karena talenta dari negeri Samba sangat melimpah. Persaingan di sana sangat ketat. Mereka harus berani keluar dari negaranya untuk bisa berkarier di sepak bola.

 

Pemain yang kurang bersaing itu, jika dibandingkan dengan kualitas pemain dari negara-negara di Asia, tentunya memiliki kemampuan di atas rata-rata. Sesuai hukum ekonomi, sedikit barang yang tersedia, semakin mahal barangnya. Sebaliknya, semakin banyak stok yang tersedia, akan semakin murah.

 

Meski bukan hitungan pasti, perkiraan gaji pemain bisa dilihat dari nilai pasar atau market value (MV). Dari data Transfermrkt, dari 10 MV terbesar di BRI Super League, hanya ada satu dari pemain Brasil di posisi keempat. Yaitu Carlos Franca, yang merupakan pemain Persijap Jepara.

 

Dengan beberapa alasan itu, tak mengherankan bila pemain Brasil jadi primadona di Indonesia. Kabar baiknya, suguhan skill apik seperti dipertontonkan Paulinho maupun Valdeci bakal sering kita lihat. Suporter Persija pasti terkesima dengan kemampuan Allano Brendon dan striker baru mereka Maxwell.

 

Tetapi, di lubuk hati paling dalam, sebagai warga Indonesia tentu rindu ada pemain lokal yang menjadi top skor. Seperti era Boaz Solossa atau Bambang Pamungkas. Dibanding pemain Brasil, tentu kita lebih bangga jika ada pemain lokal yang bisa mencetak banyak gol. Semoga segera ada striker-striker tajam dari tanah air. (*)

Editor : A. Nugroho
#Arema FC #BRI Super League #BRI Liga 1 #Negeri Samba #brasil