DALAM dunia olahraga selalu ada cerita kegagalan di balik kesuksesan. Perjalanan atlet atau tim dengan nama besar sebelum mencapai prestasi tidak pernah mulus. Bintang Argentina Lionel Messi misalnya, sebelum merasakan juara World Cup 2022 pernah kalah di final.
Marc Marquez sebelum menjadi terbaik di MotoGP 2025 berkali-kali terjatuh. Pernah merasakan berbagai momen cedera yang berat. Begitu juga dengan tim basket Oklahoma City Thunder, perlu menanti 13 tahun sebelum menjadi juara NBA musim 2024/2025.
Sedangkan Tim Nasional Sepak Bola Jepang sebelum seperti sekarang, sempat merasakan kegagalan lolos ke Piala Dunia dengan tragis. Momen tersebut terjadi pada Kualifikasi Piala Dunia 1994. Pada waktu itu (28 Oktober 1993), peluang mereka tampil di World Cup sirna akibat kalah selisih gol dengan Timnas Korea Selatan.
Dalam laga penentuan melawan Irak, Kazuyoshi Miura dan kawan-kawan gagal menang. Bermain di Stadion Al Ahli (Stadion Hamad bin Khalifa, sekarang) skor akhir saat itu 2-2. Pada pertandingan tersebut Samurai Biru diperkuat pemain naturalisasi Guy Ramos.
Setelah kegagalan itu, Federasi Sepak Bola Jepang tidak menyerah. Mereka melakukan evaluasi besar dan belajar dari kegagalan. Mimpi untuk menjadi lebih baik setelah tragedi Doha no higeki-orang Jepang melabeli hasil laga saat itu-diperjuangkan.
Mereka memperbaiki kompetisi domestik. Merancang kompetisi profesional yang berjenjang. Menyusun program J.League 100 Year Plan. Tujuannya, sebagai stimulan klub amatir agar punya visi sebagai tim profesional. Lalu, jadi arah federasi mengembangkan sepak bola Negeri Sakura.
Empat tahun berselang, Timnas Jepang berhasil tampil di Piala Dunia 1998 dan setelahnya selalu jadi wakil Asia dalam ajang tersebut. Tahun ini, berhasil jadi negara pertama memastikan lolos ke World Cup setelah tuan rumah. Timnas Jepang juga mampu menang atas Jerman dan Brasil saat FIFA Matchday.
Melihat kisah-kisah itu, rasanya sudah tidak perlu lagi untuk terus meratapi kegagalan Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Apalagi sampai saling serang dan mencari kesalahan. Kita semua harus menyadari sepak bola Indonesia hanya perlu berbenah.
Ya, kalian tidak salah membaca, berbenah. Bukan sibuk memperdebatkan apakah pelatih yang dulu harus comeback atau menghadirkan nakhoda baru. Kata Michael Jordan, jika kau menemui tembok, jangan berbalik dan menyerah. Cari tahu cara memanjat dan melewatinya.
Federasi sepak bola Indonesia memang tidak bisa sekadar omon-omon terkait target lolos ke World Cup. Misi lolos ke Piala Dunia 2034 harus disusun dengan baik dan detail. Arah sepak bola nasional harus lebih jelas selama sembilan tahun ke depan.
Saya pikir, cara-cara instan melakukan naturalisasi pemain keturunan hanya membuat Tim Garuda lebih kompetitif. Sejak awal untuk mendapatkan tiket lolos ke Piala Dunia 2026 sangat sulit. Satu indikasinya, baik era Shin Tae-Yong dan Patrick Kluivert sulit menang melawan Australia, Jepang, dan Irak. Saat Tim Garuda benar-benar siap, harusnya mampu lolos sejak Kualifikasi Grup C zona Asia.
Perlunya arah sepak bola yang jelas supaya kondisi setelah kualifikasi Piala Dunia 1986 tidak terulang. Setelah Tim Garuda tampil menawan dalam fase tersebut, prestasi sepak bola nasional mengalami kemunduran. Kualifikasi tujuh Piala Dunia selanjutnya berakhir dengan cerita kelam. Sulit lolos dari penyisihan grup sampai didiskualifikasi pada Pra-Piala Dunia 2018.
Timnas Uzbekistan lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 tidak semudah membalik telapak tangan. Selain menghadapi babak kualifikasi yang tidak ringan, mereka juga melakukan transformasi sepak bola. Program menghadirkan Timnas yang tangguh dimulai sejak 2018 lalu.
Dimulai dari dukungan pemerintah ingin mengembangkan sepak bola dari akar rumput hingga level profesional. Setelah itu membangun infrastruktur penunjang besar-besaran dan menciptakan sistem. Mendirikan akademi usia dini di 14 wilayah, melatih anak-anak dan remaja berbakat dengan standar profesional.
Sejatinya, program-program sepak bola nasional saat ini sudah cukup baik. Kompetisi kelompok usia seperti Elite Pro Academy dan Piala Soeratin jadi wadah untuk mengasah kemampuan. Operator sepak bola usia dini juga lumayan jumlahnya. PSSI juga punya Direktur Teknik Alexander Zwiers, yang merupakan sosok di balik kebangkitan sepak bola Jordania.
Tapi, yang membuatnya terasa kurang maksimal adalah tidak ada muara yang jelas. Artinya, setelah berlaga di kompetisi kelompok usia, pesepak bola muda kerap kesulitan mencapai level tertinggi. Baik itu karena sistem kompetisi kurang mendukung, atau kondisi pemain tersebut. Kita semua tentu tahu, banyak pemain tanah air berlabel wonderkid gagal bersinar.
Berangkat dari itu, federasi harus berani menyusun blue print pengembangan sepak bola. Mulai dari tingkat grassroot sampai level tertinggi untuk beberapa puluh tahun ke depan. Lalu menghadirkan lebih banyak fasilitas pendukung. Prosesnya meraih prestasi memang akan panjang, berliku, dan butuh kesabaran banyak pihak.
Tapi, puluhan pemain Jepang yang berlaga di kompetisi Eropa karena proses itu. Pebasket Kareem Abdul-Jabbar pernah berkata, kamu tidak akan pernah menang, kecuali bagaimana belajar dari kekalahan. Saat ini, keputusan ada di tangan Federasi, apakah ingin meninggalkan legacy atau sekadar jalan di tempat. (*)
Editor : A. Nugroho