Moh. Yamin dan W.R. Supratman sama-sama baru berusia 25 tahun ketika Kongres Pemuda II berlangsung. Kasman Singodimejo baru 24 tahun, Johanes Leimena baru 23 tahun, Amir Sjarifuddin Harahap baru 21 tahun, sedangkan Mohammad Roem dan R. Katjasoengkana bahkan baru 20 tahun.
Para peserta kongres yang melahirkan peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 itu hampir seluruhnya baru berusia di rentang 20-30 tahun. Rentang usia yang bisa disebut sebagai pemuda menurut UU No. 40/2009 tentang Kepemudaan. Sesuai undang-undang ini, batas usia pemuda adalah 16-30 tahun.
Itu adalah usia yang sudah bukan lagi remaja, melainkan –menurut psikologi perkembangan—digolongkan dewasa awal alias early adulthood. Di antara cirinya adalah kemampuan fisik yang mencapai puncaknya, kemandirian yang mulai tumbuh, serta komitmen dan tanggung jawab sosial yang mulai menguat.
Karena itulah tidak heran jika setiap terjadi perubahan, motor terdepannya adalah pemuda. Utamanya para pemuda yang terdidik. Merekalah agent of social change. Agen perubahan sosial.
Seperti kita ketahui, Sumpah Pemuda 1928 adalah peristiwa yang semakin mematangkan benih nasionalisme yang telah ditanamkan para pemuda terdidik sebelumnya. Seperti Dr Soetomo yang baru berusia 19 tahun ketika mendirikan Boedi Oetomo pada 1908 dan Ki Hajar Dewantara yang baru berusia 23 tahun ketika mendirikan Indische Partij pada 1912. Puncaknya, para pemuda seperti Sukarni, Sayuti Melik, Chaerul Saleh dkk pula yang mempercepat terjadinya proklamasi kemerdekaan bangsa ini pada 17 Agustus 1945.
Pun demikian dengan perubahan-perubahan besar yang terjadi di negeri ini setelahnya, banyak di antaranya yang dimotori para pemuda. Maklum, seperti dicirikan para pakar psikologi perkembangan, mereka punya prasyarat yang sempurna untuk melakukan itu: fisik yang prima, kemandirian yang kuat, serta tanggung jawab sosial yang mulai tumbuh.
Dan, bicara pemuda terdidik, Kota Malang adalah gudangnya. Jika dulu saat berbicara dinamika kepemudaan nasional yang disebut hanya kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Jogja, dan Surabaya, sejak beberapa dekade terakhir Malang telah menjadi salah satu episentrumnya.
Ini bisa dimaklumi karena Kota Malang memiliki banyak perguruan tinggi yang peminatnya cukup tinggi. Mereka adalah para pemuda terdidik yang datang dari berbagai kota di seluruh Indonesia yang ingin mendapatkan pendidikan lebih baik.
Setidaknya, hingga saat ini tercatat lebih dari 60 perguruan tinggi negeri dan swasta di kota ini dengan jumlah mahasiswa mencapai 300 ribuan. Belum lagi dengan keberadaan sekolah atau madrasah favorit yang mengundang banyak peminat dari luar kota.
Dalam hal ini, sebagai salah satu episentrum kepemudaan nasional, Kota Malang menempati posisi sangat strategis, khususnya di wilayah timur Indonesia. Kota ini tidak lagi sekadar menjadi kota satelit, melainkan penggerak utama dalam melahirkan kepemimpinan, inovasi, serta pergerakan pemuda yang berdampak secara nasional.
Dengan jumlah kampus yang mencapai puluhan dan mahasiswa yang mencapai ratusan ribu, Kota Malang adalah barometer gerakan mahasiswa dan intelektual sekaligus pusat inkubasi talenta muda berprestasi. Dengan latar belakang mahasiswa dari berbagai daerah, kota ini juga menjadi pusat penyemaian budaya dan nilai-nilai toleransi yang ideal.
Seiring semangat zaman, Kota Malang juga menjadi hub bagi industri kreatif dan digital. Melalui infrastruktur ikonik seperti Malang Creative Center (MCC), Kota Malang adalah salah satu laboratorium ekonomi kreatif pemuda terbesar di Indonesia.
Kota ini mewadahi ribuan kreator muda, developer game, startup digital, hingga pelaku seni melalui jejaring UNESCO Creative Cities Network dalam bidang Media Arts. Aktivitas ini menempatkan pemuda Malang di garis depan digitalisasi ekonomi nasional.
Karena itu, dalam Program Dasa Bakti Unggulan Kota Malang, kami menempatkan anak muda sebagai aset strategis yang ikut menentukan arah perkembangan kota. Bukan hanya karena mereka berada pada usia produktif, melainkan juga karena memiliki energi, kreativitas, keberanian, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
Mulai dari program Ngalam Asyik, Ngalam Idrek, hingga Ngalam Laris, mereka ikut berada di garda terdepan dalam pelaksanaannya. Bukan sekadar menjadi objek, tapi juga subjek yang menjalankan.
Seperti Ngalam Asyik yang fokus pada pengembangan pariwisata, kebudayaan, dan penyelenggaraan event, keterlibatan para pemuda mampu mengakselerasi program tersebut. Demikian pula pada program Ngalam Idrek yang fokus pada digitalisasi dan tata kelola pemerintahan serta Ngalam Laris yang fokus pada pemberdayaan ekonomi lokal, UMKM, dan pasar.
Kami yakin, dengan keberadaan anak-anak muda tersebut, perubahan kota ini ke arah yang lebih baik bukan hal yang sulit untuk diwujudkan. Jika Moh. Yamin, J. Leimena, dan Moh. Roem mampu menyatukan pemuda Nusantara untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia di usianya yang masih muda, maka bukan hal yang mustahil bila para pemuda di Kota Malang mewujudkan perubahan kota ini ke arah yang Mbois dan Berkelas. Osi, Ker!
Dr Ir Wahyu Hidayat MM
Arek Mbareng, Wali Kota Malang 2025-2030
Editor : Aditya Novrian