MALANG KOTA-RADAR MALANG - Car free day (CFD) di Jalan Ijen Boulevard semakin meriah kemarin (3/5). Sebanyak 771 siswa dari SMA Katolik St. Albertus (Dempo) memamerkan berbagai macam baju adat mulai dari Sabang sampai Merauke. Mereka melakukan aksi pawai budaya di hadapan ribuan pengunjung.
Pawai budaya itu sebagai langkah penting bagi sekolah untuk menanamkan rasa Bineka Tunggal Ika kepada siswa. Sebelum pawai budaya, para siswa diminta mencari referensi baju adat yang akan dipakai. Termasuk mempelajari asal usulnya, budayanya, hingga makna filosofis, dan cara menggunakannya selama beberapa bulan.
Dalam pawai budaya kemarin, para siswa SMA Dempo ada yang berkostum Punakawan. Lalu, mengenakan baju adat dari wilayah di Papua, Jawa, hingga Sumatera. Hadir juga Barongsai dan Liang-Liong Elang Sakti Dempo sebagai pelengkap pawai budaya.
”Tak hanya pawai baju adat, para siswa juga menampilkan tarian khas Malang. Salah satunya, Tari Topeng Bapang Malangan,” ujar Kepala SMA Katolik St. Albertus (SMA Dempo) Bruder Antonius Sumardi O Carm. Penampilan tari itu menjadi bagian penting untuk merawat tradisi khas Malang. Menurutnya, generasi muda memiliki tanggung jawab moral untuk merawat dan menjaga budaya Indonesia yang beragam wujudnya.
Sumardi melihat, bagian terpenting dalam pawai budaya itu adalah saat para siswa menyiapkan penampilan mereka. Di situ kekompakan dan kerja tim diuji. Selain itu pemahaman mereka terhadap baju dan penampilan yang dibawakan juga menjadi poin penting adanya pawai budaya kemarin.
Pawai kebudayaan itu sudah rutin berlangsung sejak tahun 2023. Nilai persaudaraan, kebersamaan, dan ketekunan serta disiplin jadi makna yang terus digali. ”Pentingnya makna baju adat ini sudah kami tanamkan sejak para siswa pertama masuk sekolah,” lanjut Sumardi. Tiap siswa saat awal masuk ke SMA Dempo selalu diminta membawa baju adat dari daerah asal masing-masing. (aff/gp)
Editor : Galih R Prasetyo