Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Miris, SD Negeri di Malang Ini Hanya Punya Satu Murid dalam Satu Kelas

Indah Mei Yunita • Kamis, 11 Juni 2026 | 16:23 WIB

 

Ilustrasi sekolah (WOKANDAPIX/PIXABAY)
Ilustrasi sekolah (WOKANDAPIX/PIXABAY)

 

KEPANJEN - Ratusan SD negeri di Kabupaten Malang mengalami krisis siswa. Dari 1.039 SD yang terdaftar dalam data pokok pendidikan (dapodik), 368 sekolah di antaranya hanya mempunyai kurang dari 100 siswa. Padahal total pagu sedikitnya 168 kursi, yakni 28 kursi di masing-masing kelas.

Dengan demikian, jika dirata-rata hanya 16 siswa di masing-masing kelas. “Sekolahnya tersebar di masing-masing kecamatan di Kabupaten Malang,” ujar Kepala Seksi (Kasi) Kesiswaan SD Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Malang Wahyu Mustiko Hadi kemarin (10/6).

Sekolah krisis siswa tersebut paling banyak di Kecamatan Kalipare dan Donomulyo. Salah satu sekolah dengan jumlah siswa minim yakni SDN 6 Sumberpetung, Kecamatan Kalipare. Kelas I hanya memiliki tiga siswa, kelas II ada sembilan siswa, kelas III ada dua siswa, dan kelas IV ada 11 siswa. Sementara kelas V hanya satu siswa dan kelas VI terdiri atas 10 siswa.

Sebelumnya, Guru Kelas 4 dan 5 SDN 6 Sumberpetung Dedi Hermawan mengatakan, sekolah tempatnya mengajar selalu kesulitan mencari siswa. Sejak berdiri pada 1985 dan memiliki gedung pada 1986, SDN 6 Sumberpetung tidak pernah memenuhi pagu. Paling banyak 50-an siswa untuk enam kelas.

Menurutnya, salah satu penyebabnya yakni lokasi sekolah yang terpencil dan akses kurang mendukung. Misalnya jalan rusak. Akibat minimnya jumlah siswa, dia sampai menggabungkan kegiatan belajar mengajar.

“Saya mengajar kelas 4 dan 5. Jadwal mata pelajarannya sengaja kami samakan supaya anak-anak juga tidak bingung,” ucap Dedi. Materi kelas 4 dan 5 hampir sama. Hanya ada perbedaan di pendalaman materi.

Selain itu, faktor keterbatasan ruang juga menjadi penyebab penggabungan kelas. Untuk enam kelas, sekolah hanya mempunyai empat ruangan. Sehingga ada satu ruang yang digunakan dua kelas. Yakni kelas 4 dan 5 serta kelas 1 dan 3. Pemisah antar kelas tersebut hanya tripleks. Fasilitas lain seperti perpustakaan dan musala tidak ada.

Dengan hanya terpisahkan sekat, dia melanjutkan, proses belajar mengajar terancam tidak efektif. Sebab, bisa mengganggu konsentrasi anak. Oleh karena itu, dia selalu memutar otak supaya materi tersampaikan dengan baik.

Biasanya dengan mencontohkan menggunakan benda-benda yang ada di sekitar anak-anak. Supaya mereka lebih memahami materi yang disampaikan.

“Misalnya saat menjelaskan bangun datar kepada anak kelas 4, saya mencontohkan dengan permukaan meja. Sedangkan materi bangun ruang untuk kelas 5, saya mencontohkan dengan lemari,” kata dia.(yun/dan)

Editor : Mahmudan
#SPMB Malang 2026 #Sekolah krisis siswa #Pendidikan Malang