Malang - Bagi anak-anak usia sekolah dasar, permainan ular tangga merupakan aktivitas yang menyenangkan. Namun, di SDN Bokor kecamatan tumpang kabupaten malang permainan tersebut hadir dengan cara yang lebih menarik dan unik. Tidak hanya mengajak siswa bermain ular tangga, Kelompok 10 Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya (UB) membantu siswa untuk mengenali minat, dan bakat anak sejak dini.
Pendekatan berbasis edukatif merupakan salah satu metode yang dilakukan untuk membantu siswa mengenal potensi dan minat yang dimiliki sejak usia sekolah dasar.
Salah satu program kelompok 10 Mahasiswa Membangun Desa (MMD) dibimbing oleh Amelia Ika Pratiwi, S.E, MSA., Ak adalah Jelajah Cita. Pada tahun ini, sebanyak 1.000 mahasiswa turun langsung ke 76 desa yang tersebar pada delapan kabupaten di Jawa Timur, yakni Kabupaten Malang, Blitar, Ngawi, Lamongan, Kediri, Bojonegoro, Trenggalek, dan Banyuwangi. Selama satu bulan penuh mahasiswa melakukan berbagai kolaborasi dengan perangkat desa untuk membuat program yang disesuaikan dengan kebutuhan desa.
Jelajah Cita berfokus pada penguatan pendidikan karakter dan pengembangan potensi anak melalui pendekatan interaktif yang disesuaikan dengan SDGs (Sustainable Development Goals) 4.
Sebelum kegiatan dimulai, siswa diajak untuk mengerjakan asesmen sederhana untuk mengetahui sejauh mana mereka memahami minat, bakat, dan cita-cita mereka. Hasil asesmen ini menjadi dasar penyampaian materi pengembangan minat dan bakat yang dikemas secara interaktif melalui media pembelajaran berbasis tata surya. Melalui pendekatan ini, siswa diajak untuk membayangkan masa depan sekaligus mengenal potensi mereka sejak dini.
Suasana pembelajaran semakin menarik, ketika permainan ular tangga mulai dimainkan. Anak-anak sangat antusias berebutan untuk menjawab pertanyaan yang ada. Tidak hanya pertanyaan siswa juga aktif berdiskusi berbagai profesi yang memotivasinya.
Berbagai jawaban menarik mulai bermunculan selama diskusi berlangsung. Salah satunya datang dari seorang siswa yang bercita-cita menjadi petani karena terinspirasi oleh ayahnya.
"Aku ingin menjadi petani karena ayahku keren," ujar salah satu siswa saat berbagi cerita di hadapan teman-temannya.
Jawaban sederhana siswa tersebut memberikan indikasi bahwa keluarga adalah salah satu faktor penting dalam membentuk karakter dan potensi siswa. Selain itu, pengenalan minat dan bakat anak sejak dini merupakan salah satu langkah penting dalam menentukan profesi anak di masa depan.
Sebagai penutup dari kegiatan Jelajah Cita, setiap siswa diarahkan untuk menuliskan minat, bakat, cita-cita dan harapannya pada selembar kertas origami yang nantinya ditempelkan pada Pohon Cita-Cita sebagai bentuk refleksi kegiatan yang telah dilakukan.
“Setiap anak yang lahir pasti memiliki mimpi. Kami hanya ingin membantu bahwa setiap impian perlu potensi, minat yang tinggi, serta usaha untuk mewujudkannya. Kami yakin dan percaya bahwa apapun yang dilakukan hari ini akan berdampak pada kemudian hari” Umgkap Mariathul Azmi sebagai penggagas program kerja Jelajah Cita, Kamis (16/7).
Melalui berbagai kegiatan yang dilakukan selama pelaksanaan MMD, mahasiswa UB tidak hanya mengimplementasikan ilmu yang diperoleh, tetapi juga belajar berkolaborasi dengan masyarakat untuk menghadirkan solusi sesuai kebutuhan desa. Pengalaman ini diharapkan mampu memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan serta dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Editor : Indra Andi